Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 09 Juli 2011
Kumpulan Cerpen Kemelut Api Dendam
Kemelut Api Dendam
Oleh Ahmad Ijazi H
Mata wanita itu menyala bak kobaran api bergejolak. Hujaman perih kian bertubi-tubi tak kunjung reda mengoyak batinnya. Letupan dendam kian mengamuk, membunuh rasa iba yang berkelebat di pelupuk mata. Wanita itu menyeringai dengan dengus menderu, bak serigala haus darah. Terik mentari yang membakar paras, menganaksungaikan peluh di wajah. Wanita itu tak peduli. Sorot mata tajamnya terus mengekor langkah kaki seorang muslimah yang baru saja keluar dari mobil mewah. Seorang gadis kecil berumur 10 tahun tertawa riang di sampingnya. Tampak begitu ceria. Melihatnya, hati wanita itu kian tercabik-cabik. Serasa ditikam pisau berkarat, perih tak terperi! Samapai kapan pun dia tak akan pernah rela muslimah itu mengecap bahagia. Muslimah itu telah merenggut suaminya! Membuat hidupnya dan keluarganya menderita!
Dua tahun silam. Belati beracun telah torehkan luka menganga di jantungnya. Luka itu tak kunjung sembuh, bahkan kian parah! Dia takkan pernah terlupa. Saat suaminya menceraikannya. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya sendiri.
Wanita itu memang pekerja keras, menjadi pembantu rumah tangga harian. Pergi pagi pulang malam. Beban keluarga yang ditanggungnya teramat berat. Dia harus menghidupi dua anak gadisnya: Rahma dan Laila yang bersekolah di SMP dan SMA, juga bundanya yang sering sakit-sakitan. Sementara suaminya pengangguran dan suka berjudi. Terkadang suaminya itu pergi tak tentu tujuan, lalu pulang dalam keadaan teler. Dua anak gadinya sering menjadi pelampiasan amarahnya. Tamparan dan pukulan sering mendarat di wajah kedua anaknya itu. Sementara pemilik kedai di seberang rumahnya sering bertandang kepadanya menagih hutang suaminya yang menggunung.
Wanita itu terpaksa bekerja lebih keras untuk mendapat upah lebih. Dia bekerja dari pagi, hingga pulang pagi pula. Suaminya berang karena dia tak pernah di rumah. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya! Dia dicerai paksa oleh suaminya, lalu diusir dari rumah. Begitu pun ibunya yang sering sakit-sakitan, diusir pula oleh suaminya dengan keji karena dianggap menyusahkan. Wanita itu mengontrak rumah. Di sana dia terus berjuang keras menghidupi keluarga, terutama untuk memenuhi biaya sekolah dua anak gadisnya. Sebenarnya dua anak gadisnya itu berkeinginan untuk tinggal bersama wanita itu, namun suaminya melarangnya.
Hati wanita itu kian terkoyak-koyak perih saat mendengar suaminya menikah lagi dengan seorang janda kaya-raya beranak satu. Dan luka di jantungnya kian menganga lebar saat dia mengetahui dua anak gadisnya telah dijual oleh suaminya kepada seorang pengusaha kaya untuk dijadikan wanita penghibur di sebuah klab malam. Seribu tikaman belati beracun seakan telah membuat hidupnya sekarat, namun dia tak bisa mati. Dia terus hidup dalam kubang derita yang teramat menyakitkan!
Sebulan kemudian, wanita itu mendapat kabar bahwa anak sulungnya, Laila, ditemukan tewas gantung diri di sebuah kamar hotel! Laila depresi, mengalami goncangan jiwa. Siang malam dia harus melayani nafsu bejat puluhan lelaki hidung belang. Dia tak kuat. Derita yang ditanggungnya teramat berat. Sampai akhirnya dia ditemukan tewas di dalam sebuah kamar hotel dengan seutas tali mejerat leher!
Bagai dirajam sejuta sembilu, wanita itu tak kuasa menanggung derita yang semakin bertubi-tubi. Dia tak kuat rasanya terus melangkah dalam kemelut badai yang kian dahsyat menerpa hidupnya. Apalagi saat dia kemudian harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya bahwa Rahma, satu-satunya anak yang menjadi harapan hidupnya itu, harus pula meregang nyawa, tewas dengan keadaan yang sangat mengenaskan di tiang gantuangan, dengan seutas tali menjerat leher!
Wanita itu sesengukkan. Air matanya kian deras berjatuhan. Letupan dendam kian menyala, berkobar menjilat-jilat di relung hatinya. Sorot mata wanita itu kian tajam memaku sosok muslimah yang tengah duduk di bangku taman. Binar mata muslimah yang teduh itu memperlihatkan betapa bahagianya dia mendekap sang buah hati dengan penuh rasa cinta.
Rahang wanita itu kian bergemeletak. Dia mendengus dengan amarah berapi-api. “Sampai mati pun aku tak kan pernah rela melihatnya hidup bahagia, sementara hidupku terpasung dalam derita berkepanjangan. Aku harus membuatnya sengsara! Dialah yang telah merenggut suamiku! Dialah yang telah membuat hidupku dan keluargaku terperosok dalam jurang penderitaan! Sampai saat ini tak secuil pun bahagia yang singgah di dasar hatiku. Dia harus merasakan siksa dan derita yang aku rasakan! Dia tak boleh hidup bahagia!”
Mata wanita itu semakin berkilat-kilat. Sesak jantungnya oleh gemuruh dendam yang kian bergejolak. Dengan sigap diraihnya sebuah belati dari balik pakaiannya. Dia harus melampiaskan dendamnya itu! Dia harus membunuh muslimah itu! Muslimah itu harus mati! Luka di hatinya harus terbalas! Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Kalau tidak, dia akan menyesal seumur hidup. Kepuasannya adalah melihat muslimah itu mati!
Wanita itu melangkah perlahan. Tak ada rasa ragu di benaknya. Dia melangkah kian dekat menghampiri muslimah dan anaknya itu yang tengah duduk di sebuah bangku taman. Muslimah itu tak menyadari kedatangannya. Dia sepertinya tampak khusuk menimang manja sang buah hati di pangkuannya.
“Sayang… Bunda merasa begitu bahagia memiliki putri sepertimu. Hati Bunda akan selalu terasa damai bila mendekap dirimu, Sayang. Rasa resah dan gundah yang menyesak di dada pun lenyap. Sungguh, Bunda sangat mencintaimu, Sayang…” Muslimah itu berbisik di telinga sang buah hati dengan suaranya yang terdengar sendu.
“Tak ada cinta dan kasih sayang yang bergitu tulus yang pernah aku rasakan selain cinta dan kasih sayang Bunda terhadapku. Ingin rasanya aku selalu dalam dekapan Bunda. Semakin erat Bunda mendekapku, semakin terasa tenang hati ini…” jawab gadis kecil itu dengan perkataannya yang begitu cerdas dan menyentuh kalbu.
Wanita itu terperangah. Terhenyak dalam kebimbangan. Miris hatinya, serasa ditikam berjuta resah. Hatinya terenyuh sesaat. Namun gejolak dendam di dadanya kian menderu-deru. Belati di tangannya bergetar hebat. Amarah yang meletup-letup menggiring langkahnya makin mendekati muslimah itu. Sang muslimah benar-benar tak menyadari kalau wanita itu telah berada di belakangnya. Sekali hentakan, belati di tangan wanita itu telah menembus tubuh sang muslimah. Saat tubuh muslimah itu roboh ke tanah, wanita itu tak memberi ampun! Seperti kerasukan iblis, wanita itu terus menghujamkan belati di tangannya berkali-kali.
Manita itu bergegas pergi. Seringai buasnya rekah, mencuatkan letupan kepuasan hatinya yang sangat, karena telah berhasil membunuh muslimah itu. Dia tak hirau lagi saat gadis kecil yang mendekap tubuh kaku bundanya itu, menangis dan menjerit pilu dengan lengkingan panjang yang menyayat membelah langit.
***
Belati itu telah menghujam dalam di jantung laki-laki itu. Darah segar menyembur deras mengotori dasi dan jas hitam yang dia kenakan. Ada lengkingan yang menyayat saat laki-laki itu meregang nyawa. Mulutnya menganga dengan mata membelalak. Tubuh laki-laki itu benar-benar telah kaku, tergeletak di muka pintu rumahnya.
Wanita itu teramat puasnya. Dendamnya telah terbalaskan. Laki-laki itulah yang telah menceraikannya. Laki-laki yang membuat hidupnya sekarat, berkubang dengan perihnya penderitaan. Laki-laki yang telah menyengsarakan kedua anaknya hingga harus tewas menghantarkan nyawa di tali gantungan. Tapi laki-laki itu kini telah mati. Mati terbunuh oleh tikaman belati, di tangannya! Wanita itu menyeringai puas. Matanya kian berkilat-kilat buas.
Dentuman petir datang menderu, membaur dengan kucuran gerimis yang jatuh berguguran. Wanita itu melangkah pergi dalam hujan. Sebelum dia melewati pintu pagar rumah mewah itu, terdengar olehnya derit pintu yang terkuak, lalu jeritan menyayat seorang gadis kecil yang mendekap tubuh sang ayah yang telah tak bernyawa itu.
Wanita itu segera melangkah pulang. Telah berbulan-bulan dia berkelayap tak tentu arah. Dia tak tahu bagaimana keadaan ibunya saat ini. Seingatnya ibunya itu dalam keadaan sakit keras saat dia tinggalkan dulu. Dia benar-benar tega meninggalkan sang bunda yang menderita dalam ketidakberdayaannya seorang diri, hanya untuk membalaskan dendam kesumatnya.
Nanar mata wanita itu terpaku di depan pintu rumah kontrakannya itu. Tangannya gemetar saat mengetuk daun pintu yang tampak rapuh. Beberapa saat dia menanti dalam keresahan yang berkemelut. Langkah-langkah kaki yang tertatih kemudian terdengar perlahan menghampiri pintu.
Krittt… daun pintu terkuak. Wanita itu menatap penuh takjub sosok ringkih di hadapannya. Sosok itu menatapnya dengan pias sumringah.
“Rukhayah? Kaukah itu anakku?” tanya wanita tua itu dengan mata berbinar.
“Bunda… maafkan aku telah meninggalkan Bunda sendirian…” Rukhayah langsung memeluk sang bunda. Air matanya deras tak terbendung. Dia sesengukkan. “Mulai saat ini, aku berjanji tak akan meninggalkan Bunda lagi…”
Keheningan malam mulai merayap. Ruangan rumah berdinding papan itu hanya berpenerang lampu minyak. Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah. Ada banyak hal yang belum dia ketahui di rumah ini semenjak dia pergi. Saat ini Bundanya tampak sehat dan tubuhnya lebih berisi. Wajahnya tampak bercahaya. Sungguh jauh perbedaannya saat terakhir kali dia tinggalkan beberapa bulan lalu.
“Beberapa waktu lalu, seorang wanita berhati malaikat menemukan Bunda dalam keadaan tak sadarkan diri di tepi jalan raya. Wanita itu lalu membawa Bunda ke rumah sakit. Saat pertama kali tersadar, Bunda menemukan seraut wajah yang teduh dan bercahaya. Bunda merasakan ketenangan yang luarbiasa saat jemari halusnya meraih tangan Bunda. Matanya yang berbinar dan bibirnya yang senantiasa selalu tersenyum, membuat hati Bunda terasa sejuk dan damai. Bunda benar-benar merasa sangat dekat dengan wanita itu, seperti ada ikatan batin yang begitu kuat. Dia menyayangi Bunda seperti orangtuanya sendiri. Naluri Bunda saat itu langsung berkata bahwa dia adalah Melati, anak kandung Bunda yang pernah diminta oleh majikan tempat Bunda bekerja 30 tahun silam karena majikan Bunda itu tak mempunyai keturunan…”
Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah.
Bunda lalu menarik napas dalam-dalam. “Untuk memastikannya, Bunda pun meminta dia untuk menyingkap kerudung yang dia kenakan. Bunda ingat betul, sejak dilahirkan, Melati memiliki tanda hitam berbentuk bulan sabit di lehernya…”
“Lalu… apakah Bunda melihat tanda hitam itu?” tanya Rukhayah dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.
“Ya… Bunda benar-benar melihatnya! Dia benar-benar Melati, anak kandung Bunda…” tangis Bunda pun pecah. Rukhayah langsung memeluk tubuh ringkih sang Bunda. “Setelah Bunda sehat dan dibolehkan pulang kembali, Melati meminta Bunda untuk tinggal bersamanya saja. Tapi Bunda menolak, karena Bunda masih ingin menantikan kau kembali ke rumah ini…”
Lama mereka tenggelam dalam keharuan yang begitu dalam. Bunda lalu melangkah menuju lemari tua mengambil selembar foto dan secarik kertas bertuliskan alamat. “Ini dia foto dan alamat Melati yang sekarang…”
Rukhayah meraih foto dan kertas alamat itu dengan perasaan gundah. Dipandanginya wanita berjilbab dalam foto itu dengan seksama. Seketika tenggorokannya tersedak, dan matanya membelalak. Di foto itu dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal! Ya, dia benar-benar sangat mengenali wanita berjilbab itu. Dialah wanita yang telah merenggut suaminya! Dialah wanita yang telah membuat hidupnya menderita dan dihantui oleh dendam yang bergejolak.
Pembunuhan seorang muslimah di sebuah taman empat bulan yang lalu kembali berkelebat dalam ingatan Rukhayah. Dialah wanita yang telah membunuh muslimah itu. Dan saat ini, dia melihat seraut wajah muslimah yang telah dibunuhnya itu di dalam foto yang ada ditangannya ini. Oh, Tuhan… aku telah membunuh muslimah itu? Membunuh saudara kandungku sendiri? Rukhayah terhenyak dengan dada teriris-iris.
“Oh… Bunda sudah tak sabar ingin bertemu dengan Melati kembali. Semoga dia juga merasakan kerinduan yang sama, seperti kerinduan yang Bunda rasakan saat ini…” mata Bunda tampak semakin berbinar-binar.
Tubuh Rukayah semakin bergetar hebat. Tiba-tiba dadanya begitu sesak! Sesak oleh rasa bersalah yang begitu dalam. Hatinya terkoyak-koyak perih. Dan kemelut badai yang teramat dahsyat seakan telah memporak-porandakan lantai tempat kakinya berpijak. Dengan tangan yang semakin gemetaran, segera diraihnya sebilah belati dari balik pakaiannya. Sekali hentakan, tikaman belati itu telah menghujam jantungnya! Dan teriakan Bunda yang histeris tak kuasa lagi didengarnya saat tubuhnya yang tersungkur, bersimbah oleh darah yang kian menyembur deras...
***
Read More..
Oleh Ahmad Ijazi H
Mata wanita itu menyala bak kobaran api bergejolak. Hujaman perih kian bertubi-tubi tak kunjung reda mengoyak batinnya. Letupan dendam kian mengamuk, membunuh rasa iba yang berkelebat di pelupuk mata. Wanita itu menyeringai dengan dengus menderu, bak serigala haus darah. Terik mentari yang membakar paras, menganaksungaikan peluh di wajah. Wanita itu tak peduli. Sorot mata tajamnya terus mengekor langkah kaki seorang muslimah yang baru saja keluar dari mobil mewah. Seorang gadis kecil berumur 10 tahun tertawa riang di sampingnya. Tampak begitu ceria. Melihatnya, hati wanita itu kian tercabik-cabik. Serasa ditikam pisau berkarat, perih tak terperi! Samapai kapan pun dia tak akan pernah rela muslimah itu mengecap bahagia. Muslimah itu telah merenggut suaminya! Membuat hidupnya dan keluarganya menderita!
Dua tahun silam. Belati beracun telah torehkan luka menganga di jantungnya. Luka itu tak kunjung sembuh, bahkan kian parah! Dia takkan pernah terlupa. Saat suaminya menceraikannya. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya sendiri.
Wanita itu memang pekerja keras, menjadi pembantu rumah tangga harian. Pergi pagi pulang malam. Beban keluarga yang ditanggungnya teramat berat. Dia harus menghidupi dua anak gadisnya: Rahma dan Laila yang bersekolah di SMP dan SMA, juga bundanya yang sering sakit-sakitan. Sementara suaminya pengangguran dan suka berjudi. Terkadang suaminya itu pergi tak tentu tujuan, lalu pulang dalam keadaan teler. Dua anak gadinya sering menjadi pelampiasan amarahnya. Tamparan dan pukulan sering mendarat di wajah kedua anaknya itu. Sementara pemilik kedai di seberang rumahnya sering bertandang kepadanya menagih hutang suaminya yang menggunung.
Wanita itu terpaksa bekerja lebih keras untuk mendapat upah lebih. Dia bekerja dari pagi, hingga pulang pagi pula. Suaminya berang karena dia tak pernah di rumah. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya! Dia dicerai paksa oleh suaminya, lalu diusir dari rumah. Begitu pun ibunya yang sering sakit-sakitan, diusir pula oleh suaminya dengan keji karena dianggap menyusahkan. Wanita itu mengontrak rumah. Di sana dia terus berjuang keras menghidupi keluarga, terutama untuk memenuhi biaya sekolah dua anak gadisnya. Sebenarnya dua anak gadisnya itu berkeinginan untuk tinggal bersama wanita itu, namun suaminya melarangnya.
Hati wanita itu kian terkoyak-koyak perih saat mendengar suaminya menikah lagi dengan seorang janda kaya-raya beranak satu. Dan luka di jantungnya kian menganga lebar saat dia mengetahui dua anak gadisnya telah dijual oleh suaminya kepada seorang pengusaha kaya untuk dijadikan wanita penghibur di sebuah klab malam. Seribu tikaman belati beracun seakan telah membuat hidupnya sekarat, namun dia tak bisa mati. Dia terus hidup dalam kubang derita yang teramat menyakitkan!
Sebulan kemudian, wanita itu mendapat kabar bahwa anak sulungnya, Laila, ditemukan tewas gantung diri di sebuah kamar hotel! Laila depresi, mengalami goncangan jiwa. Siang malam dia harus melayani nafsu bejat puluhan lelaki hidung belang. Dia tak kuat. Derita yang ditanggungnya teramat berat. Sampai akhirnya dia ditemukan tewas di dalam sebuah kamar hotel dengan seutas tali mejerat leher!
Bagai dirajam sejuta sembilu, wanita itu tak kuasa menanggung derita yang semakin bertubi-tubi. Dia tak kuat rasanya terus melangkah dalam kemelut badai yang kian dahsyat menerpa hidupnya. Apalagi saat dia kemudian harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya bahwa Rahma, satu-satunya anak yang menjadi harapan hidupnya itu, harus pula meregang nyawa, tewas dengan keadaan yang sangat mengenaskan di tiang gantuangan, dengan seutas tali menjerat leher!
Wanita itu sesengukkan. Air matanya kian deras berjatuhan. Letupan dendam kian menyala, berkobar menjilat-jilat di relung hatinya. Sorot mata wanita itu kian tajam memaku sosok muslimah yang tengah duduk di bangku taman. Binar mata muslimah yang teduh itu memperlihatkan betapa bahagianya dia mendekap sang buah hati dengan penuh rasa cinta.
Rahang wanita itu kian bergemeletak. Dia mendengus dengan amarah berapi-api. “Sampai mati pun aku tak kan pernah rela melihatnya hidup bahagia, sementara hidupku terpasung dalam derita berkepanjangan. Aku harus membuatnya sengsara! Dialah yang telah merenggut suamiku! Dialah yang telah membuat hidupku dan keluargaku terperosok dalam jurang penderitaan! Sampai saat ini tak secuil pun bahagia yang singgah di dasar hatiku. Dia harus merasakan siksa dan derita yang aku rasakan! Dia tak boleh hidup bahagia!”
Mata wanita itu semakin berkilat-kilat. Sesak jantungnya oleh gemuruh dendam yang kian bergejolak. Dengan sigap diraihnya sebuah belati dari balik pakaiannya. Dia harus melampiaskan dendamnya itu! Dia harus membunuh muslimah itu! Muslimah itu harus mati! Luka di hatinya harus terbalas! Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Kalau tidak, dia akan menyesal seumur hidup. Kepuasannya adalah melihat muslimah itu mati!
Wanita itu melangkah perlahan. Tak ada rasa ragu di benaknya. Dia melangkah kian dekat menghampiri muslimah dan anaknya itu yang tengah duduk di sebuah bangku taman. Muslimah itu tak menyadari kedatangannya. Dia sepertinya tampak khusuk menimang manja sang buah hati di pangkuannya.
“Sayang… Bunda merasa begitu bahagia memiliki putri sepertimu. Hati Bunda akan selalu terasa damai bila mendekap dirimu, Sayang. Rasa resah dan gundah yang menyesak di dada pun lenyap. Sungguh, Bunda sangat mencintaimu, Sayang…” Muslimah itu berbisik di telinga sang buah hati dengan suaranya yang terdengar sendu.
“Tak ada cinta dan kasih sayang yang bergitu tulus yang pernah aku rasakan selain cinta dan kasih sayang Bunda terhadapku. Ingin rasanya aku selalu dalam dekapan Bunda. Semakin erat Bunda mendekapku, semakin terasa tenang hati ini…” jawab gadis kecil itu dengan perkataannya yang begitu cerdas dan menyentuh kalbu.
Wanita itu terperangah. Terhenyak dalam kebimbangan. Miris hatinya, serasa ditikam berjuta resah. Hatinya terenyuh sesaat. Namun gejolak dendam di dadanya kian menderu-deru. Belati di tangannya bergetar hebat. Amarah yang meletup-letup menggiring langkahnya makin mendekati muslimah itu. Sang muslimah benar-benar tak menyadari kalau wanita itu telah berada di belakangnya. Sekali hentakan, belati di tangan wanita itu telah menembus tubuh sang muslimah. Saat tubuh muslimah itu roboh ke tanah, wanita itu tak memberi ampun! Seperti kerasukan iblis, wanita itu terus menghujamkan belati di tangannya berkali-kali.
Manita itu bergegas pergi. Seringai buasnya rekah, mencuatkan letupan kepuasan hatinya yang sangat, karena telah berhasil membunuh muslimah itu. Dia tak hirau lagi saat gadis kecil yang mendekap tubuh kaku bundanya itu, menangis dan menjerit pilu dengan lengkingan panjang yang menyayat membelah langit.
***
Belati itu telah menghujam dalam di jantung laki-laki itu. Darah segar menyembur deras mengotori dasi dan jas hitam yang dia kenakan. Ada lengkingan yang menyayat saat laki-laki itu meregang nyawa. Mulutnya menganga dengan mata membelalak. Tubuh laki-laki itu benar-benar telah kaku, tergeletak di muka pintu rumahnya.
Wanita itu teramat puasnya. Dendamnya telah terbalaskan. Laki-laki itulah yang telah menceraikannya. Laki-laki yang membuat hidupnya sekarat, berkubang dengan perihnya penderitaan. Laki-laki yang telah menyengsarakan kedua anaknya hingga harus tewas menghantarkan nyawa di tali gantungan. Tapi laki-laki itu kini telah mati. Mati terbunuh oleh tikaman belati, di tangannya! Wanita itu menyeringai puas. Matanya kian berkilat-kilat buas.
Dentuman petir datang menderu, membaur dengan kucuran gerimis yang jatuh berguguran. Wanita itu melangkah pergi dalam hujan. Sebelum dia melewati pintu pagar rumah mewah itu, terdengar olehnya derit pintu yang terkuak, lalu jeritan menyayat seorang gadis kecil yang mendekap tubuh sang ayah yang telah tak bernyawa itu.
Wanita itu segera melangkah pulang. Telah berbulan-bulan dia berkelayap tak tentu arah. Dia tak tahu bagaimana keadaan ibunya saat ini. Seingatnya ibunya itu dalam keadaan sakit keras saat dia tinggalkan dulu. Dia benar-benar tega meninggalkan sang bunda yang menderita dalam ketidakberdayaannya seorang diri, hanya untuk membalaskan dendam kesumatnya.
Nanar mata wanita itu terpaku di depan pintu rumah kontrakannya itu. Tangannya gemetar saat mengetuk daun pintu yang tampak rapuh. Beberapa saat dia menanti dalam keresahan yang berkemelut. Langkah-langkah kaki yang tertatih kemudian terdengar perlahan menghampiri pintu.
Krittt… daun pintu terkuak. Wanita itu menatap penuh takjub sosok ringkih di hadapannya. Sosok itu menatapnya dengan pias sumringah.
“Rukhayah? Kaukah itu anakku?” tanya wanita tua itu dengan mata berbinar.
“Bunda… maafkan aku telah meninggalkan Bunda sendirian…” Rukhayah langsung memeluk sang bunda. Air matanya deras tak terbendung. Dia sesengukkan. “Mulai saat ini, aku berjanji tak akan meninggalkan Bunda lagi…”
Keheningan malam mulai merayap. Ruangan rumah berdinding papan itu hanya berpenerang lampu minyak. Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah. Ada banyak hal yang belum dia ketahui di rumah ini semenjak dia pergi. Saat ini Bundanya tampak sehat dan tubuhnya lebih berisi. Wajahnya tampak bercahaya. Sungguh jauh perbedaannya saat terakhir kali dia tinggalkan beberapa bulan lalu.
“Beberapa waktu lalu, seorang wanita berhati malaikat menemukan Bunda dalam keadaan tak sadarkan diri di tepi jalan raya. Wanita itu lalu membawa Bunda ke rumah sakit. Saat pertama kali tersadar, Bunda menemukan seraut wajah yang teduh dan bercahaya. Bunda merasakan ketenangan yang luarbiasa saat jemari halusnya meraih tangan Bunda. Matanya yang berbinar dan bibirnya yang senantiasa selalu tersenyum, membuat hati Bunda terasa sejuk dan damai. Bunda benar-benar merasa sangat dekat dengan wanita itu, seperti ada ikatan batin yang begitu kuat. Dia menyayangi Bunda seperti orangtuanya sendiri. Naluri Bunda saat itu langsung berkata bahwa dia adalah Melati, anak kandung Bunda yang pernah diminta oleh majikan tempat Bunda bekerja 30 tahun silam karena majikan Bunda itu tak mempunyai keturunan…”
Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah.
Bunda lalu menarik napas dalam-dalam. “Untuk memastikannya, Bunda pun meminta dia untuk menyingkap kerudung yang dia kenakan. Bunda ingat betul, sejak dilahirkan, Melati memiliki tanda hitam berbentuk bulan sabit di lehernya…”
“Lalu… apakah Bunda melihat tanda hitam itu?” tanya Rukhayah dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.
“Ya… Bunda benar-benar melihatnya! Dia benar-benar Melati, anak kandung Bunda…” tangis Bunda pun pecah. Rukhayah langsung memeluk tubuh ringkih sang Bunda. “Setelah Bunda sehat dan dibolehkan pulang kembali, Melati meminta Bunda untuk tinggal bersamanya saja. Tapi Bunda menolak, karena Bunda masih ingin menantikan kau kembali ke rumah ini…”
Lama mereka tenggelam dalam keharuan yang begitu dalam. Bunda lalu melangkah menuju lemari tua mengambil selembar foto dan secarik kertas bertuliskan alamat. “Ini dia foto dan alamat Melati yang sekarang…”
Rukhayah meraih foto dan kertas alamat itu dengan perasaan gundah. Dipandanginya wanita berjilbab dalam foto itu dengan seksama. Seketika tenggorokannya tersedak, dan matanya membelalak. Di foto itu dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal! Ya, dia benar-benar sangat mengenali wanita berjilbab itu. Dialah wanita yang telah merenggut suaminya! Dialah wanita yang telah membuat hidupnya menderita dan dihantui oleh dendam yang bergejolak.
Pembunuhan seorang muslimah di sebuah taman empat bulan yang lalu kembali berkelebat dalam ingatan Rukhayah. Dialah wanita yang telah membunuh muslimah itu. Dan saat ini, dia melihat seraut wajah muslimah yang telah dibunuhnya itu di dalam foto yang ada ditangannya ini. Oh, Tuhan… aku telah membunuh muslimah itu? Membunuh saudara kandungku sendiri? Rukhayah terhenyak dengan dada teriris-iris.
“Oh… Bunda sudah tak sabar ingin bertemu dengan Melati kembali. Semoga dia juga merasakan kerinduan yang sama, seperti kerinduan yang Bunda rasakan saat ini…” mata Bunda tampak semakin berbinar-binar.
Tubuh Rukayah semakin bergetar hebat. Tiba-tiba dadanya begitu sesak! Sesak oleh rasa bersalah yang begitu dalam. Hatinya terkoyak-koyak perih. Dan kemelut badai yang teramat dahsyat seakan telah memporak-porandakan lantai tempat kakinya berpijak. Dengan tangan yang semakin gemetaran, segera diraihnya sebilah belati dari balik pakaiannya. Sekali hentakan, tikaman belati itu telah menghujam jantungnya! Dan teriakan Bunda yang histeris tak kuasa lagi didengarnya saat tubuhnya yang tersungkur, bersimbah oleh darah yang kian menyembur deras...
***
Read More..
Kumpulan Cerpen Anak Air Asin
Anak Air Asin
(Bambang Kariyawan)
Pemenang Jarapan Utama Lomba Menulis Cerpen Remaja ROHTO
Tingkat Nasional 2008
Sampan-sampan bergerak perlahan menyusuri tepian laut yang dihiasi rimbunan bakau, lambaian kelapa, dan tiupan cemara laut. Gerakannya perlahan seiring tiupan angin dan arus laut. Sampan-sampan yang mempunyai kajang, itulah istilah untuk menyebut sampan yang di atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa. Kesehariannya kajang dijadikan rumah untuk bertempat tinggal. Beragam kegiatan manusia dilakukan di atas sampan tersebut mulai dari mandi, masak, tidur, dan kegiatan lainnya. Selama ratusan tahun, Suku Laut benar-benar menjadi ”manusia perahu”, yang hidup di atas perahu. Bagi mereka, laut adalah segala-galanya. Laut adalah ”rumah” yang memberikan naungan sekaligus kemerdekaan hidup.
Di salah satu sudut sungai Pulau Ngenang, Batam yang di tumbuhi hutan bakau dan hamparan pantainya terlihat seorang anak berusia sekitar 13 tahun sedang mengayuh sampan dan sesekali terlihat menebarkan jaringnya. Tebaran jaring sebuah keindahan ketika menyatu dengan hamparan biru laut dan membawa pancaran mata-mata harapan saat ikan-ikan menari-nari untuk memberikan kehidupan bagi yang menangkapnya.
”Atan... tolong carikan air tawar ya nak?” suara seorang emak memanggil anak lelakinya yang mulai beranjak remaja yang sedang memilah-milah ikan-ikan dan hasil laut lainnya.
“Iya mak,” Atan menjawab sambil mencari di hamparan laut kemungkinan ada tanda-tanda yang berbeda dari warna air laut yang lainnya berarti itulah tandanya ada air tawar. Atan dengan sigap mencari air tawar untuk emaknya dan sekaligus membawakan penyu dan teripang sebagai bahan makanan dan sekaligus untuk dijual.
”Hebat sekali anak emak ini, kau memang anak air asin kebanggaan kami, banyak teripang yang didapat, jangan lupa bawa ke darat jual sama tauke Cina tuh, cukuplah uangnya untuk beli beras dan sayuran,” kata emak sambil meminta Atan menuangkan air tawarnya ke dalam ember untuk minum.
”Penyu ini dimasak apa mak?”
”Nanti emak goreng dan buatkan sambal untuk kau tuh.”
Penyu merupakan salah satu hewan "cantik" di dasar laut. Bagi Suku Laut, para nelayan yang hidup nomaden penyu termasuk salah satu hewan laut yang mudah ditangkap. Bukan dijaring, tetapi ditombak. Mata tombak diikatkan pada sebuah tali dan diletakkan di ujung kayu. Setelah mata tombak ditancapkan ke penyu, tali pun ditarik.
***
Masyarakat Suku Laut memang masih dianggap sebagai masyarakat pedalaman bagi penduduk Kepulauan Riau. Peneliti Eropa dan Amerika menyebut mereka Gipsi Laut karena mereka hidup di atas perahu-perahu yang bergerombolan di lautan.
”Pak, mengapa kita tidak tinggal di rumah seperti yang ada di pantai?”
”Orang seperti kita takut melihat atap rumah yang tinggi Atan, kita sudah terbiasa tinggal di kajang yang atapnya pendek,” jelas bapak Atan.
Hari itu tetangga sampan sebelah bapak Atan ada yang akan melahirkan. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila seorang perempuan akan melahirkan maka dibawa ke darat untuk dilanjutkan prosesnya oleh dukun beranak atau kini oleh bidan desa. Pada saat bersamaan ada juga yang akan melangsungkan perkawinan. Semua tetap berlangsung di darat. Ada tradisi unik yang mereka pelihara dengan mensakralkan binatang anjing. Anjing dalam adat perkawinan Suku Laut ditempatkan di tangga masuk rumah mempelai laki-laki. Anjing yang digunakan juga harus anjing yang berbulu hitam.
“Kami sendiri tidak tahu-menahu mengapa harus anjing yang berbulu hitam
yang digunakan dalam adat perkawinan. Tetapi secara turun-temurun, anjing yang berbulu hitamlah yang menentukan sah atau tidaknya sebuah perkawinan,” ujar Tetua Suku Laut kepada Atan suatu ketika.
Pada saat mempelai perempuan menginjakkan kakinya di rumah mempelai laki-laki, sesepuh adat akan memukul anjing tersebut. Jika anjing yang dipukul itu langsung menggonggong, pernikahan dinyatakan sah. Tetapi kalau anjing yang dipukul tidak menggonggong, pernikahan pun tidak terjadi karena dianggap tidak sah.
“Itu pernah terjadi dan pernikahan dibatalkan karena anjing tidak menggonggong waktu dipukul. Itu tidak sah,” lanjut Tetua Suku Laut.
***
Atan sebagai mana anak laut yang lain pun masih sering berinteraksi dengan anak-anak seusia di darat. Kadang bermain bola, memanjat kelapa, menangkap ikan, dan kegiatan anak-anak lain yang menyenangkan untuk usianya. Kebetulan sebuah sekolah dasar terletak di tepi pantai, dan kadang Atan sempat melihat teman-temannya memakai seragam merah putih.
”Mak, boleh Atan sekolah seperti teman-teman Atan?”
”Tanyalah sama Bapak dulu, boleh atau tidak.” Atan berusaha meyakinkan bapaknya agar Atan bisa ikut bersekolah.
”Untuk apa Atan sekolah, anak laut itu yang paling penting bisa menangkap ikan, mencari penyu, mencari teripang. Tak perlu sekolahlah karena hal-hal seperti itu tidak akan ada kau dapat di sekolah.”
”Tapi Atan ingin Pak.”
”Sudahlah jangan mimpi yang macam-macam.”
***
Hari itu Atan kembali ke darat untuk bermain bersama teman-temannya, kali ini mereka bermain bersama Pak Budi, yang biasa mereka panggil dengan sebutan Pak Guru. Selesai bermain Pak Guru mengajak mereka berkumpul. Mereka ada rencana untuk mengelilingi pulau-pulau sekitar dengan menggunakan kapal kaya yang oleh penduduk setempat disebut dengan ”Pong Pong” setelah itu mampir sebentar ke Batam. Atan pun memberanikan diri menemui Pak Guru untuk bergabung dan menyatakan keinginannya untuk ikut dalam acara tersebut.
”Wah, boleh saja Atan akan bisa membantu kami dalam menunjukkan tempat-tempat yang belum temanmu kenal.”
’Tapi saya tidak punya uang banyak Pak.”
”Tidak usah dipikirkan.”
Kebahagiaan begitu dirasakan dalam diri Atan. Sesampainya di sampan, Atan menceritakan pengalamannya kepada bapaknya dan meyakinkan kalau kegiatan tersebut tidak memerlukan uang.
”Ya sudah pergilah, tapi ingat Bapak tidak bisa membawakan apa-apa.”
***
Hari itu dengan segenap hati yang membuncah bahagia, Atan berkumpul bersama teman-teman yang sangat peduli dengan keberadaan orang-orang seperti Atan, apalagi Pak Guru yang ternyata sangat antusias untuk memajukan pendidikan di pulau sekitar tempat Atan tinggal. Serombongan anak-anak kecil yang bahagia menuju ke sebuah pong pong yang diperkirakan dapat memuat penumpang sekitar 20 orang. Hamparan laut yang biru dan hijaunya pulau-pulau kecil, Pulau Tanjung Sauh, Pulau Kubung, dan Pulau Todak menjadi pemandangan dan perpaduan warna keteduhan. Keasyikan tak tertahankan ketika pong pong kami menelusuri pulau demi pulau Dan sejenak kami singgah di sebuah pulau yang disebut orang Air Raja. Di tepi pantai Atan seperti nalurinya memanggil untuk menanggap kepiting dan ikan-ikan serta kerang yang ada.
”Hebat kamu Tan, lumayan untuk menambah bekal diperjalanan.”
Ketika pong pong berlabuh di pelabuhan Sekupang Batam, serombongan siswa dan Pak Guru memasuki kota Batam yang kata orang surganya pencari kerja. Atan terkagum-kagum melihat kendaraan dan kota yang begitu moderen. Jalan-jalan beraspal, gedung-gedung menjulang, perumahan tersusun rapi dengan beragam tipe, benar-benar sebuah kemajuan.
”Kira-kira apa ya Pak, yang menyebabkan Batam menjadi begitu maju?”
”Karena banyak orang pintar di Batam”
”Biar bisa pintar bagaimana caranya Pak?”
”Atan harus rajin belajar.”
”Belajar ya Pak.”
”Iya, belajar. Salah satunya Atan harus bisa belajar membaca dan menulis. Dan karena Atan pintar melaut, maka pelajari ilmu melaut itu dengan sungguh-sungguh.”
Nasehat tersebut begitu merasuk ke dalam pikiran Atan. Sekembalinya dari Batam, muncul tekad untuk mengubah dirinya.
”Aku harus bisa membaca dan menulis, dan aku ingin belajar ilmu melaut dengan sungguh-sungguh.”
***
Sejak itu, selalu saja ada waktu bagi Atan untuk belajar melaut dari orang-orang tua Suku Laut dan Atan selalu meminta nasehat kepada Pak Guru bagaimana mengembangkan ilmu melautnya. Pak Guru menunjukkan bahkan mengajaknya pergi ke instansi terkait. Dan di sela-sela itu Atan selau menyempatkan untuk belajar membaca dan menulis. Bahkan dengan tidak malu-malu dengan ilmu yang sedikit tersebut Atan mengajak teman-temannya sesama suku laut untuk mau belajar membaca dan menulis.
”Anak laut itu yang penting bisa melaut, tidak perlu yang namanya sekolah,” salah seorang bapak bicara pada anaknya.
Walau banyak kontroversi dari orang tua teman-temannya namun dengan kesabaran dan ketekunan niat tersebut tetap dijalankannya. Bahkan Atan sering mengajak teman-temannya untuk sedikit demi sedikit mengubah pola melaut yang selama ini dijalankan orang tua mereka yang ternyata tidak mendatangkan keuntungan hanya untuk kebutuhan saja.
”Teman-teman, orang-orang seperti kita punya kelebihan dalam menangkap ikan, mari kita buat lebih baik dalam menangkap ikannya bukan hanya untuk diri kita. Mari kita buat tambak dan kelong untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Hasilnya bisa kita buat untuk sekolah. Anak laut harus sekolah,” nasehat Atan pada teman-teman yang mau bergabung dengannya.
***
Namun Atan ternyata dimarahi habis-habisan orang Tetua Suku Laut karena dianggap melanggar adat mereka dan tidak menghargai orang-orang tua mereka Bahkan Atan diminta untuk pergi dari masyarakat tempat mereka tinggal dan boleh kembali setelah tidak melakukan hal-hal yang aneh lagi.
”Bapak Atan, nasehati anak awak tuh, sebelum kami mengusir dengan kasar, kami minta Atan untuk pergi ke pulau seberang saja. Kalau tidak masyarakat Suku Laut akan rusak dengan cara anak awak tuh melaut,” tegas Tetua Suku Laut pada bapak Atan yang tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan orang yang memang harus mereka patuhi.
”Emak, Atan pergi ke seberang saja,” pinta Atan pada emaknya. Walau dengan rasa berat hati bapak dan emaknya karena Tetua Suku Laut harus dipatuhi maka keputusan Atan ke pulau seberang harus disetujui.
Atan ditampung di rumah Pak Guru. Belajar membaca dan menulis makin giat. Dan keterampilan Atan melaut dikembangkan di pantai tempat tinggal barunya bersama Pak Guru. Masyarakat sangat menghargai usaha Atan mengingat kesibukan mereka bekerja untuk urusan ikan mereka mendapat bantuan dari Atan bahkan tidak sekedar ikan, bermacam makanan hewan laut bisa didapatkannya.
Ketekunannya tidak hanya sampai di situ. Dari hari ke hari disela-sela melaut, Atan menyempatkan diri ke hutan mengumpulkan kayu-kayu. Atan dengan tekunnya membuat kelong baru yang besar sekali ukurannnya, lengkap dengan rumah singgahnya.
***
Perjalanan waktu menempah kedewasaan Atan menapaki hidup. Ada saat-saat bekerja. Ada saat-saat melepas segenap kelelahan. Ada saat-saat Pak Guru menangkap kerinduan di wajah Atan kalau ia ingin bertemu dengan orang tuanya.
”Aku harus berbuat sesuatu,” pikir Pak Guru.
Pak Guru membawa petugas dari Dinas Perikanan untuk melakukan penyuluhan di tempat orang tua Atan. Di sela-sela acara penyuluhan, Pak Guru terlihat berbincang-bincang dengan sebuah keluarga dengan terlihat ekspresi gembira dan keharuan di wajah keluarga tersebut.
Seminggu kemudian,
Di sebuah kelong baru, ”Inilah kelong dan rumah yang dipersembahkan untuk Bapak dan Ibu,” jelas Pak Guru pada kedua orang tua Atan yang memancarkan wajah-wajah haru dan bahagia.
Emak Atan, ”Dimana Atan sekarang Pak Guru?”
”Anak air asin, disini Emak,” keluarlah Atan dari dalam rumah kelong tersebut.
Tanpa mengucapkan banyak kata. Atan pun berhambur memeluk kedua orang tuanya.
Catatan:
Anak air asin: sebutan anak suku laut
Read More..
(Bambang Kariyawan)
Pemenang Jarapan Utama Lomba Menulis Cerpen Remaja ROHTO
Tingkat Nasional 2008
Sampan-sampan bergerak perlahan menyusuri tepian laut yang dihiasi rimbunan bakau, lambaian kelapa, dan tiupan cemara laut. Gerakannya perlahan seiring tiupan angin dan arus laut. Sampan-sampan yang mempunyai kajang, itulah istilah untuk menyebut sampan yang di atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa. Kesehariannya kajang dijadikan rumah untuk bertempat tinggal. Beragam kegiatan manusia dilakukan di atas sampan tersebut mulai dari mandi, masak, tidur, dan kegiatan lainnya. Selama ratusan tahun, Suku Laut benar-benar menjadi ”manusia perahu”, yang hidup di atas perahu. Bagi mereka, laut adalah segala-galanya. Laut adalah ”rumah” yang memberikan naungan sekaligus kemerdekaan hidup.
Di salah satu sudut sungai Pulau Ngenang, Batam yang di tumbuhi hutan bakau dan hamparan pantainya terlihat seorang anak berusia sekitar 13 tahun sedang mengayuh sampan dan sesekali terlihat menebarkan jaringnya. Tebaran jaring sebuah keindahan ketika menyatu dengan hamparan biru laut dan membawa pancaran mata-mata harapan saat ikan-ikan menari-nari untuk memberikan kehidupan bagi yang menangkapnya.
”Atan... tolong carikan air tawar ya nak?” suara seorang emak memanggil anak lelakinya yang mulai beranjak remaja yang sedang memilah-milah ikan-ikan dan hasil laut lainnya.
“Iya mak,” Atan menjawab sambil mencari di hamparan laut kemungkinan ada tanda-tanda yang berbeda dari warna air laut yang lainnya berarti itulah tandanya ada air tawar. Atan dengan sigap mencari air tawar untuk emaknya dan sekaligus membawakan penyu dan teripang sebagai bahan makanan dan sekaligus untuk dijual.
”Hebat sekali anak emak ini, kau memang anak air asin kebanggaan kami, banyak teripang yang didapat, jangan lupa bawa ke darat jual sama tauke Cina tuh, cukuplah uangnya untuk beli beras dan sayuran,” kata emak sambil meminta Atan menuangkan air tawarnya ke dalam ember untuk minum.
”Penyu ini dimasak apa mak?”
”Nanti emak goreng dan buatkan sambal untuk kau tuh.”
Penyu merupakan salah satu hewan "cantik" di dasar laut. Bagi Suku Laut, para nelayan yang hidup nomaden penyu termasuk salah satu hewan laut yang mudah ditangkap. Bukan dijaring, tetapi ditombak. Mata tombak diikatkan pada sebuah tali dan diletakkan di ujung kayu. Setelah mata tombak ditancapkan ke penyu, tali pun ditarik.
***
Masyarakat Suku Laut memang masih dianggap sebagai masyarakat pedalaman bagi penduduk Kepulauan Riau. Peneliti Eropa dan Amerika menyebut mereka Gipsi Laut karena mereka hidup di atas perahu-perahu yang bergerombolan di lautan.
”Pak, mengapa kita tidak tinggal di rumah seperti yang ada di pantai?”
”Orang seperti kita takut melihat atap rumah yang tinggi Atan, kita sudah terbiasa tinggal di kajang yang atapnya pendek,” jelas bapak Atan.
Hari itu tetangga sampan sebelah bapak Atan ada yang akan melahirkan. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila seorang perempuan akan melahirkan maka dibawa ke darat untuk dilanjutkan prosesnya oleh dukun beranak atau kini oleh bidan desa. Pada saat bersamaan ada juga yang akan melangsungkan perkawinan. Semua tetap berlangsung di darat. Ada tradisi unik yang mereka pelihara dengan mensakralkan binatang anjing. Anjing dalam adat perkawinan Suku Laut ditempatkan di tangga masuk rumah mempelai laki-laki. Anjing yang digunakan juga harus anjing yang berbulu hitam.
“Kami sendiri tidak tahu-menahu mengapa harus anjing yang berbulu hitam
yang digunakan dalam adat perkawinan. Tetapi secara turun-temurun, anjing yang berbulu hitamlah yang menentukan sah atau tidaknya sebuah perkawinan,” ujar Tetua Suku Laut kepada Atan suatu ketika.
Pada saat mempelai perempuan menginjakkan kakinya di rumah mempelai laki-laki, sesepuh adat akan memukul anjing tersebut. Jika anjing yang dipukul itu langsung menggonggong, pernikahan dinyatakan sah. Tetapi kalau anjing yang dipukul tidak menggonggong, pernikahan pun tidak terjadi karena dianggap tidak sah.
“Itu pernah terjadi dan pernikahan dibatalkan karena anjing tidak menggonggong waktu dipukul. Itu tidak sah,” lanjut Tetua Suku Laut.
***
Atan sebagai mana anak laut yang lain pun masih sering berinteraksi dengan anak-anak seusia di darat. Kadang bermain bola, memanjat kelapa, menangkap ikan, dan kegiatan anak-anak lain yang menyenangkan untuk usianya. Kebetulan sebuah sekolah dasar terletak di tepi pantai, dan kadang Atan sempat melihat teman-temannya memakai seragam merah putih.
”Mak, boleh Atan sekolah seperti teman-teman Atan?”
”Tanyalah sama Bapak dulu, boleh atau tidak.” Atan berusaha meyakinkan bapaknya agar Atan bisa ikut bersekolah.
”Untuk apa Atan sekolah, anak laut itu yang paling penting bisa menangkap ikan, mencari penyu, mencari teripang. Tak perlu sekolahlah karena hal-hal seperti itu tidak akan ada kau dapat di sekolah.”
”Tapi Atan ingin Pak.”
”Sudahlah jangan mimpi yang macam-macam.”
***
Hari itu Atan kembali ke darat untuk bermain bersama teman-temannya, kali ini mereka bermain bersama Pak Budi, yang biasa mereka panggil dengan sebutan Pak Guru. Selesai bermain Pak Guru mengajak mereka berkumpul. Mereka ada rencana untuk mengelilingi pulau-pulau sekitar dengan menggunakan kapal kaya yang oleh penduduk setempat disebut dengan ”Pong Pong” setelah itu mampir sebentar ke Batam. Atan pun memberanikan diri menemui Pak Guru untuk bergabung dan menyatakan keinginannya untuk ikut dalam acara tersebut.
”Wah, boleh saja Atan akan bisa membantu kami dalam menunjukkan tempat-tempat yang belum temanmu kenal.”
’Tapi saya tidak punya uang banyak Pak.”
”Tidak usah dipikirkan.”
Kebahagiaan begitu dirasakan dalam diri Atan. Sesampainya di sampan, Atan menceritakan pengalamannya kepada bapaknya dan meyakinkan kalau kegiatan tersebut tidak memerlukan uang.
”Ya sudah pergilah, tapi ingat Bapak tidak bisa membawakan apa-apa.”
***
Hari itu dengan segenap hati yang membuncah bahagia, Atan berkumpul bersama teman-teman yang sangat peduli dengan keberadaan orang-orang seperti Atan, apalagi Pak Guru yang ternyata sangat antusias untuk memajukan pendidikan di pulau sekitar tempat Atan tinggal. Serombongan anak-anak kecil yang bahagia menuju ke sebuah pong pong yang diperkirakan dapat memuat penumpang sekitar 20 orang. Hamparan laut yang biru dan hijaunya pulau-pulau kecil, Pulau Tanjung Sauh, Pulau Kubung, dan Pulau Todak menjadi pemandangan dan perpaduan warna keteduhan. Keasyikan tak tertahankan ketika pong pong kami menelusuri pulau demi pulau Dan sejenak kami singgah di sebuah pulau yang disebut orang Air Raja. Di tepi pantai Atan seperti nalurinya memanggil untuk menanggap kepiting dan ikan-ikan serta kerang yang ada.
”Hebat kamu Tan, lumayan untuk menambah bekal diperjalanan.”
Ketika pong pong berlabuh di pelabuhan Sekupang Batam, serombongan siswa dan Pak Guru memasuki kota Batam yang kata orang surganya pencari kerja. Atan terkagum-kagum melihat kendaraan dan kota yang begitu moderen. Jalan-jalan beraspal, gedung-gedung menjulang, perumahan tersusun rapi dengan beragam tipe, benar-benar sebuah kemajuan.
”Kira-kira apa ya Pak, yang menyebabkan Batam menjadi begitu maju?”
”Karena banyak orang pintar di Batam”
”Biar bisa pintar bagaimana caranya Pak?”
”Atan harus rajin belajar.”
”Belajar ya Pak.”
”Iya, belajar. Salah satunya Atan harus bisa belajar membaca dan menulis. Dan karena Atan pintar melaut, maka pelajari ilmu melaut itu dengan sungguh-sungguh.”
Nasehat tersebut begitu merasuk ke dalam pikiran Atan. Sekembalinya dari Batam, muncul tekad untuk mengubah dirinya.
”Aku harus bisa membaca dan menulis, dan aku ingin belajar ilmu melaut dengan sungguh-sungguh.”
***
Sejak itu, selalu saja ada waktu bagi Atan untuk belajar melaut dari orang-orang tua Suku Laut dan Atan selalu meminta nasehat kepada Pak Guru bagaimana mengembangkan ilmu melautnya. Pak Guru menunjukkan bahkan mengajaknya pergi ke instansi terkait. Dan di sela-sela itu Atan selau menyempatkan untuk belajar membaca dan menulis. Bahkan dengan tidak malu-malu dengan ilmu yang sedikit tersebut Atan mengajak teman-temannya sesama suku laut untuk mau belajar membaca dan menulis.
”Anak laut itu yang penting bisa melaut, tidak perlu yang namanya sekolah,” salah seorang bapak bicara pada anaknya.
Walau banyak kontroversi dari orang tua teman-temannya namun dengan kesabaran dan ketekunan niat tersebut tetap dijalankannya. Bahkan Atan sering mengajak teman-temannya untuk sedikit demi sedikit mengubah pola melaut yang selama ini dijalankan orang tua mereka yang ternyata tidak mendatangkan keuntungan hanya untuk kebutuhan saja.
”Teman-teman, orang-orang seperti kita punya kelebihan dalam menangkap ikan, mari kita buat lebih baik dalam menangkap ikannya bukan hanya untuk diri kita. Mari kita buat tambak dan kelong untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Hasilnya bisa kita buat untuk sekolah. Anak laut harus sekolah,” nasehat Atan pada teman-teman yang mau bergabung dengannya.
***
Namun Atan ternyata dimarahi habis-habisan orang Tetua Suku Laut karena dianggap melanggar adat mereka dan tidak menghargai orang-orang tua mereka Bahkan Atan diminta untuk pergi dari masyarakat tempat mereka tinggal dan boleh kembali setelah tidak melakukan hal-hal yang aneh lagi.
”Bapak Atan, nasehati anak awak tuh, sebelum kami mengusir dengan kasar, kami minta Atan untuk pergi ke pulau seberang saja. Kalau tidak masyarakat Suku Laut akan rusak dengan cara anak awak tuh melaut,” tegas Tetua Suku Laut pada bapak Atan yang tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan orang yang memang harus mereka patuhi.
”Emak, Atan pergi ke seberang saja,” pinta Atan pada emaknya. Walau dengan rasa berat hati bapak dan emaknya karena Tetua Suku Laut harus dipatuhi maka keputusan Atan ke pulau seberang harus disetujui.
Atan ditampung di rumah Pak Guru. Belajar membaca dan menulis makin giat. Dan keterampilan Atan melaut dikembangkan di pantai tempat tinggal barunya bersama Pak Guru. Masyarakat sangat menghargai usaha Atan mengingat kesibukan mereka bekerja untuk urusan ikan mereka mendapat bantuan dari Atan bahkan tidak sekedar ikan, bermacam makanan hewan laut bisa didapatkannya.
Ketekunannya tidak hanya sampai di situ. Dari hari ke hari disela-sela melaut, Atan menyempatkan diri ke hutan mengumpulkan kayu-kayu. Atan dengan tekunnya membuat kelong baru yang besar sekali ukurannnya, lengkap dengan rumah singgahnya.
***
Perjalanan waktu menempah kedewasaan Atan menapaki hidup. Ada saat-saat bekerja. Ada saat-saat melepas segenap kelelahan. Ada saat-saat Pak Guru menangkap kerinduan di wajah Atan kalau ia ingin bertemu dengan orang tuanya.
”Aku harus berbuat sesuatu,” pikir Pak Guru.
Pak Guru membawa petugas dari Dinas Perikanan untuk melakukan penyuluhan di tempat orang tua Atan. Di sela-sela acara penyuluhan, Pak Guru terlihat berbincang-bincang dengan sebuah keluarga dengan terlihat ekspresi gembira dan keharuan di wajah keluarga tersebut.
Seminggu kemudian,
Di sebuah kelong baru, ”Inilah kelong dan rumah yang dipersembahkan untuk Bapak dan Ibu,” jelas Pak Guru pada kedua orang tua Atan yang memancarkan wajah-wajah haru dan bahagia.
Emak Atan, ”Dimana Atan sekarang Pak Guru?”
”Anak air asin, disini Emak,” keluarlah Atan dari dalam rumah kelong tersebut.
Tanpa mengucapkan banyak kata. Atan pun berhambur memeluk kedua orang tuanya.
Catatan:
Anak air asin: sebutan anak suku laut
Read More..
Kumpulan Cerpen Patung Ibu
Patung Ibu
Oleh Ahmad Ijazi H
Entah sudah kali keberapa Tania melihat patung itu dari dekat. Patung seorang wanita. Diletakkan di sudut ruang tamu. Patung itu belum jadi. Hanya bagian wajahnya saja yang sudah berbentuk, itu pun masih kasar. Sedangkan bagian tubuh yang lain belum berbentuk sama sekali. Sekilas wajah patung itu mirip dengan wajah ibu. Hampir enam tahun patung itu diletakkan di tempat itu tanpa seorang pun berani menyentuhnya.
Tania heran. Patung itu patung terjelek yang pernah dia lihat. Tapi diletakkan di tempat terhormat, ruang tamu. Padahal Tania tahu, di rumah ini ada beberapa patung yang bentuknya jauh lebih bagus dari patung itu. Tapi tak pernah dipajang di ruang tamu.
Patung itu pahatan ayah. Ayah memang mahir memahat sejak SMA. Walau pun akhirnya ayah menjadi anggota TNI Angkatan Laut, dia tetap gemar memahat saat ada kesempatan. Banyak patung-patung hasil pahatan ayah menghiasi rumah ini.Tania terus menatap lurus patung itu. Dia masih ingat. Patung itu ayah buat untuk hadiah ulang tahun ibu, yang ke 33. Waktu itu Tania masih berumur sepuluh tahun. Ayah berjanji akan menyelesaikan patung itu dalam waktu tiga minggu, tepat pada hari ulang tahun ibu. Namun baru seminggu pertama pembuatan patung itu, ayah dan beberapa temannya mendapat tugas dari panglima komandan Angkatan Laut untuk ke luar daerah. Ada gurat kekecewaan saat ibu melepas kepergian ayah.
“Aku tahu kau kecewa,” ucap ayah waktu itu sambil menatap wajah ibu lekat. “Tapi ini sudah menjadi tugasku. Aku berjanji akan kembali secepatnya. Patung itu pasti akan selesai tepat pada hari ulang tahunmu besok.”
“Aku akan selalu setia menanti kau kembali…” lirih terdengar suara ibu.
Ternyata hari itu adalah hari terakhir ibu melihat wajah ayah. Ibu setia dalam penantiannya, namun ayah tak kunjung datang. Sampai hari ulang tahun ibu menjelang, ayah tak juga pulang. Hingga akhirnya ibu mendapat berita duka––kapal yang ditumpangi ayah bersama rombongan tenggelam diterjang badai. Delapan tentara tewas dalam peristiwa naas itu, sementara tiga tentara yang lain dinyatakan hilang, termasuk ayah. Ibu benar-benar terpukul.
Hingga kini ibu tetap berharap ayah kembali. Walau telah enam tahun tak ada kabar berita. Ibu benar-benar wanita yang setia. Walaupun banyak laki-laki yang menghampirinya, pendirian ibu tak pernah goyah. Ibu yakin ayah masih hidup.
Tania belum mengalihkan pandangannya menatap patung itu. Dia masih penasaran, kenapa ibu selalu melarangnya menyentuh patung itu. Kalau Tania tanya, ibu selalu memberi alasan yang membuat kening Tania berkerut tak mengerti.
Tadi ibu dan Bik Narti sedang memasak di dapur menyiapkan makan malam. Tania celingukan, menoleh kiri kanan. Aman. Dengan jantung berdebar-debar, Tania menjulurkan tangannya hendak mengelus wajah patung itu.
“Jangan sentuh patung itu!” perkataan ibu terdengar dingin seperti biasa. Tania heran. Selalu saja ibu mengetahuinya saat dia ingin menyentuh patung itu. Apakah antara ibu dan patung ini memiliki ikatan batin? Hah, apa mungkin patung dan manusia bisa memiliki ikatan batin? Tania berkata dalam hati.
“Tapi… patung ini berdebu, tak pernah dibersihkan,” sahut Tania tersendat.
“Patung itu belum jadi! Tak ada yang boleh menyentuh patung itu sebelum patung itu selesai diukir!”
Tania terdiam.
Ibu melangkah pergi.
*
Setelah makan malam, ibu melangkah menuju halaman depan. Dari teras rumah, Tania melihat ibu yang duduk di kursi taman sambil menatap bulan purnama yang bersinar terang. Perlahan Tania melangkah menghampiri ibu. Dari dekat, Tania melihat ibu yang tersenyum dengan mata berbinar-binar. Tampak begitu bahagia.
“Semalam Ibu bermimpi bertemu dengan ayah…” ibu berkata tanpa mengalihkan pandangannya menatap bulan purnama.
“Benarkah?” tanya Tania lalu duduk di samping ibu.
Ibu mengangguk, “Ya. Kata ayah, sekarang dia berada di bulan…”
Tania terdiam, menatap wajah ibu dengan sedih.
“Sekarang Ibu merasa sangat bahagia. Ibu benar-benar melihat wajah ayah di bulan itu. Dia sedang tersenyum menatap Ibu…”
Tania tertunduk. Dadanya terasa diiris-iris. Perih. Air matanya ingin tumpah, namun tetap coba dia tahan.
“Tania, kau kenapa?” ibu menoleh menatap wajah Tania.
Tania tetap diam. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga.
“Kau menangis, Sayang?” ibu mengangkat wajah Tania.
“Tania sangat terharu dan bahagia. Sudah lama Tania tak melihat Ibu tersenyum sebahagia ini…”
Ibu segera memeluk Tania. Air matanya bercucuran.
Sementara langit mulai berwarna kelabu. Awan-awan hitam berarak-arak merayapi paras bulan yang memancarkan sinar keemasan. Malam pun berubah kelam saat gerimis perlahan jatuh.
*
Tania terbangun tengah malam, terhenyak di atas tempat tidur dalam posisi duduk. Matanya membulat nanar. Keringat di wajahnya membanjir. Deru napasnya tersengal-sengal, seperti baru saja dikejar-kejar penjahat. Tania mengucap istighfar. Dia baru saja mimpi buruk.
Dalam mimpinya dia melihat ibu sedang menatap bulan purnama. Beberapa saat kemudian setitik cahaya jatuh dari wajah bulan purnama itu ke pangkuan ibu. Ibu mengelus cahaya itu dengan lembut. Cahaya itu lalu membesar dan berpendaran, menyilaukan mata. Saat cahaya itu perlahan-lahan lenyap, tampaklah seorang laki-laki berdiri di hadapan ibu. Ternyata laki-laki itu adalah ayah.
Mata ibu tak berkedip menatap wajah ayah. Ibu masih tak percaya sosok di hadapannya itu benar-benar ayah. “Hendra…? Kau kah itu, suamiku?”
Ayah tersenyum dan mengangguk, “Ya. Aku Hendra, suamimu…”
Ibu berdiri dari duduknya lalu menghambur memeluk ayah. Di pelukan ayah, ibu tergugu. Penantiannya selama enam tahun ternyata tak sia-sia. Malam ini ibu benar-benar melihat ayah kembali, bahkan telah memelukknya.
“Aku sangat kagum dengan pendirianmu. Kau benar-benar wanita yang sangat setia. Walau banyak laki-laki yang mengharap cintamu, namun kau tak pernah mau memalingkan hatimu dari cintaku. Aku benar-benar bahagia…” Kristal-kristal bening berguguran juga dari kedua sudut mata ayah.
“Kau adalah laki-laki teristimewa yang pernah kumiliki. Sungguh kau tak kan pernah tergantikan dengan laki-laki mana pun…”
Beberapa saat lamanya ibu dan ayah berpelukan, melepaskan kerinduan mendalam dalam suasana penuh haru. Tania yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan pun tak kuasa membendung air matanya.
“Kedatanganku ke mari untuk menjemputmu,” bisik ayah lembut.
Ibu melepaskan pelukan ayah. “Menjemputku?”
“Ya. Aku ingin membawamu ke bulan. Di sana kita pasti bisa merasakan kebahagiaan tanpa seorang pun dapat mengusik kita.”
“Tapi, bagaimana dengan Tania?”
“Tania?”
“Ya, dia anak kita. Kau masih ingat?”
“Tentu saja.”
“Dia harus ikut.”
“Kalau dia ikut, dia bisa mengganggu kebahagiaan kita. Aku ingin kita berdua saja.”
“Kalau begitu, aku tak mau ikut denganmu. Tak mungkin aku tega meninggalkan Tania sendirian.”
“Apakah kau tak mencintaiku lagi?”
“Aku sangat mencintaimu. Tapi…”
“Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau harus turuti apa kataku!”
“Kau egois!”
“Kau harus ikut aku!” ayah mencengkeram kedua lengan ibu.
“Aku tak mau!” ibu berusaha berontak.
“Kau hanya milikku! Tak ada yang boleh merebutmu dariku!” cengkeraman tangan ayah semakin kuat. Matanya tampak berkilat-kilat. Ayah menyeringai buas seperti serigala haus darah. Ibu semakin ketakutan.
“Kau… kau bukan suamiku! Lepaskan aku! Lepaskan!!” ibu meronta-ronta.
“Tidak akan kulepaskan! Tidak akan! Hua ha ha ha…!” tiba-tiba di tubuh ayah tumbuh sepasang sayap burung garuda. Saat ayah mengepakkan sayapnya, tubuh ibu pun ikut terbang ke udara.
Tania mengejar ibu dengan panik. “Lepaskan ibuku! Lepaskaaaan…!” Tania berteriak-teriak. Namun ayah tak menghiraukannya. Setelah itu Tania terjaga dari mimpinya.
Tania menyeka keringat di wajahnya. Cahaya rembulan menerobos masuk melewati jendela kaca yang hordennya tesingkap. Perlahan Tania melangkah menghampiri jendela lalu memandang ke luar. Bulan purnama bersinar terang di langit. Tampak begitu indah. Tiba-tiba Tania teringat ibu. Cepat-cepat dialihkannya pandangannya menatap kursi taman di halaman depan. Tania terperanjat. Ibu masih duduk di sana sambil menikmati indahnya bulan purnama. Bergegas Tania keluar dari rumah menghampiri ibu.
“Bu, malam sudah sangat larut. Sebaiknya Ibu segera istirahat. Besok kan, Ibu harus ke kantor?” Tania berkata lembut.
Ibu menoleh. Menatap wajah Tania lekat, lalu tersenyum. “Tania, saat ini Ibu merasa bahagiaaa sekali! Kau tahu apa yang membuat Ibu bahagia?”
Tania diam menanti jawaban ibu.
“Baru saja ayah turun dari bulan menemui Ibu. Dia berjanji akan datang lagi saat ulang tahun Ibu besok…”
Tania menundukkan wajah. Dadanya teriris-iris. Perih. Tuhan… jangan biarkan ibuku menderita seperti ini. Kasihan ibu. Aku sangat sayang ibu… jerit Tania dalam hati. Tiba-tiba air matanya jatuh lagi.
*
Besok ibu ulang tahun. Ulang tahun yang ke 39. Berbagai perlengkapan telah dipersiapkan sejak dua minggu terakhir. Mulai dari gaun yang harus ibu kenakan, kue ulang tahun, dan beberapa perlengkapan lainnya.
Tania baru bangun dari tidur siangnya. Dipicingkannya matanya melihat jam di dinding kamarnya. Jam lima sore! Cukup lama juga dia terlelap. Mungkin karena terlalu lelah dengan aktivitas di sekolahnya yang padat.
Tania segera beranjak dari kamarnya menuruni tangga menuju lantai bawah. Di ruang tengah dia mendapati ibu telah mengenakan gaun indah berwarna jingga. Tak berkedip Tania memandang wajah ibu. Tania terkagum-kagum. Ibu cantik sekali! Belum pernah dia melihat ibu berhias secantik ini sebelumnya.
“Tania? Kenapa bengong begitu?” tegur ibu sambil membawa dua buah piring kaca berisi puding jagung berukuran mini. Segera diletakkannya piring-piring itu dengan sangat hati-hati di sebuah meja yang telah dipersiapkan di ruang tengah. Bik Narti turut membantu ibu. Beberapa minuman dan makanan mewah yang lainnya telah tersaji di meja itu. Baunya semerbak membangkitkan selera. Membuat Tania lapar.
“Oh eh… Ibu cantik sekali sore ini,” sahut Tania sekenanya sambil melangkah menghampiri meja. “Wah, banyak sekali makanan mewah di meja ini?” mata Tania berbinar-binar. “Siapa tamu yang akan bertandang? Sepertinya istimewa sekali?”
Ibu tersenyum, memandang wajah Tania lekat-lekat. “Malam ini ayah akan datang menemui Ibu.” Ibu berkata dengan raut wajah berbunga-bunga. Ibu tampak sangat bahagia.
Tania diam. Matanya yang tadi berbinar-binar berubah pias. “Ibu yakin ayah akan datang?” tanya Tania pelan. Hampir tak terdengar.
“Ayah laki-laki setia. Dia selalu menepati janjinya…”
Tania tersenyum samar. Segera dia menjauh sebelum air matanya benar-benar jatuh.
*
Malam telah larut. Tania masih melihat ibu di halaman rumah, duduk di kursi taman sambil menatap wajah bulan yang terang benderang. Udara di luar sangat dingin. Tania melangkah menghampiri ibu.
“Bu, malam telah larut. Udara dingin sekali. Sebaiknya Ibu istirahat saja…” Tania tampak khawatir.
“Sebentar lagi ayah datang. Ibu harus menunggunya…” lirih terdengar suara ibu.
“ Malam sudah sangat larut. Tania khawatir Ibu sakit.”
“Ayahmu laki-laki setia. Dia pasti menepati janjinya.”
“Tapi…”
“Sudahlah! Ibu yakin ayah datang malam ini. Ibu harus menunggunya. Ibu tak ingin membuat ayah kecewa…”
*
Tania terbangun dari tidurnya. Cahaya mentari pagi yang menerobos masuk melewati lubang ventilasi kamarnya menampar wajah Tania. Silau. Tania menyipitkan matanya. Jarum jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul delapan. Tania heran. Biasanya ibu selalu mengomel kalau dia bangun kesiangan. Apa mungkin karena hari ini hari Minggu? Berkali-kali Tania menguap sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Tania lalu melangkah menuruni tangga menuju lantai bawah. Dia ingin menemui ibu. Biasanya ibu suka berbenah rumah kalau hari libur seperti ini. Ah, bukannya hari ini ibu ulang tahun?! Ya Tuhan… Tania hampir saja lupa. Tania mempercepat langkah menuruni anak tangga. Dia sudah tak sabar untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi ciuman cinta pada ibu.
Di ruang tengah Tania melihat Bik Narti sedang membereskan piring-piring kotor yang berserak di atas meja. Tania mengerutkan alis. Teringat ibu yang menanti kedatangan ayah semalam. Apa mungkin ayah benar-benar menemui ibu semalam?
“Ibu di mana, Bik?” tanya Tania agak khawatir. Semalam ibu menunggu kedatangan ayah hingga larut malam.
“Bibik tidak tahu, Non. Mungkin masih di kamarnya.”
Tania bergegas menuju kamar ibu, tapi ibu tak ada di kamarnya. Tania beranjak menuju dapur, namun ibu juga tak dia temukan di sana. Tania melangkah menuju halaman depan, namun lagi-lagi ibu tak ditemukan juga. Oh, di mana ibu? Tania cemas sekali. Keringat di wajahnya bercucuran.
Dengan perasaan kecewa Tania melangkah menuju ruang tamu. Kedua matanya langsung tertuju ke sudut ruangan, tempat di mana patung ibu berada. Mata Tania membulat seketika. Dilihatnya patung itu kini telah sempurna! Patung itu telah selelai dibuat. Patung itu benar-benar mirip ibu!
Perlahan Tania melangkah menghampiri patung itu. Ditatapnya wajah patung itu lekat-lekat. Patung itu seperti hidup.
“Ayahmu telah menepati janjinya untuk menyelesaikan patung pahatannya tepat di hari ulang tahun ibumu…” bibir patung itu tampak bergerak-gerak.
Tania terpana.
Ahmad Ijazi H, Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru
Pemenang Ke-2 LMCR 2009 untuk kategori C (Mahasiswa, Guru dan Umum)
Read More..
Oleh Ahmad Ijazi H
Entah sudah kali keberapa Tania melihat patung itu dari dekat. Patung seorang wanita. Diletakkan di sudut ruang tamu. Patung itu belum jadi. Hanya bagian wajahnya saja yang sudah berbentuk, itu pun masih kasar. Sedangkan bagian tubuh yang lain belum berbentuk sama sekali. Sekilas wajah patung itu mirip dengan wajah ibu. Hampir enam tahun patung itu diletakkan di tempat itu tanpa seorang pun berani menyentuhnya.
Tania heran. Patung itu patung terjelek yang pernah dia lihat. Tapi diletakkan di tempat terhormat, ruang tamu. Padahal Tania tahu, di rumah ini ada beberapa patung yang bentuknya jauh lebih bagus dari patung itu. Tapi tak pernah dipajang di ruang tamu.
Patung itu pahatan ayah. Ayah memang mahir memahat sejak SMA. Walau pun akhirnya ayah menjadi anggota TNI Angkatan Laut, dia tetap gemar memahat saat ada kesempatan. Banyak patung-patung hasil pahatan ayah menghiasi rumah ini.Tania terus menatap lurus patung itu. Dia masih ingat. Patung itu ayah buat untuk hadiah ulang tahun ibu, yang ke 33. Waktu itu Tania masih berumur sepuluh tahun. Ayah berjanji akan menyelesaikan patung itu dalam waktu tiga minggu, tepat pada hari ulang tahun ibu. Namun baru seminggu pertama pembuatan patung itu, ayah dan beberapa temannya mendapat tugas dari panglima komandan Angkatan Laut untuk ke luar daerah. Ada gurat kekecewaan saat ibu melepas kepergian ayah.
“Aku tahu kau kecewa,” ucap ayah waktu itu sambil menatap wajah ibu lekat. “Tapi ini sudah menjadi tugasku. Aku berjanji akan kembali secepatnya. Patung itu pasti akan selesai tepat pada hari ulang tahunmu besok.”
“Aku akan selalu setia menanti kau kembali…” lirih terdengar suara ibu.
Ternyata hari itu adalah hari terakhir ibu melihat wajah ayah. Ibu setia dalam penantiannya, namun ayah tak kunjung datang. Sampai hari ulang tahun ibu menjelang, ayah tak juga pulang. Hingga akhirnya ibu mendapat berita duka––kapal yang ditumpangi ayah bersama rombongan tenggelam diterjang badai. Delapan tentara tewas dalam peristiwa naas itu, sementara tiga tentara yang lain dinyatakan hilang, termasuk ayah. Ibu benar-benar terpukul.
Hingga kini ibu tetap berharap ayah kembali. Walau telah enam tahun tak ada kabar berita. Ibu benar-benar wanita yang setia. Walaupun banyak laki-laki yang menghampirinya, pendirian ibu tak pernah goyah. Ibu yakin ayah masih hidup.
Tania belum mengalihkan pandangannya menatap patung itu. Dia masih penasaran, kenapa ibu selalu melarangnya menyentuh patung itu. Kalau Tania tanya, ibu selalu memberi alasan yang membuat kening Tania berkerut tak mengerti.
Tadi ibu dan Bik Narti sedang memasak di dapur menyiapkan makan malam. Tania celingukan, menoleh kiri kanan. Aman. Dengan jantung berdebar-debar, Tania menjulurkan tangannya hendak mengelus wajah patung itu.
“Jangan sentuh patung itu!” perkataan ibu terdengar dingin seperti biasa. Tania heran. Selalu saja ibu mengetahuinya saat dia ingin menyentuh patung itu. Apakah antara ibu dan patung ini memiliki ikatan batin? Hah, apa mungkin patung dan manusia bisa memiliki ikatan batin? Tania berkata dalam hati.
“Tapi… patung ini berdebu, tak pernah dibersihkan,” sahut Tania tersendat.
“Patung itu belum jadi! Tak ada yang boleh menyentuh patung itu sebelum patung itu selesai diukir!”
Tania terdiam.
Ibu melangkah pergi.
*
Setelah makan malam, ibu melangkah menuju halaman depan. Dari teras rumah, Tania melihat ibu yang duduk di kursi taman sambil menatap bulan purnama yang bersinar terang. Perlahan Tania melangkah menghampiri ibu. Dari dekat, Tania melihat ibu yang tersenyum dengan mata berbinar-binar. Tampak begitu bahagia.
“Semalam Ibu bermimpi bertemu dengan ayah…” ibu berkata tanpa mengalihkan pandangannya menatap bulan purnama.
“Benarkah?” tanya Tania lalu duduk di samping ibu.
Ibu mengangguk, “Ya. Kata ayah, sekarang dia berada di bulan…”
Tania terdiam, menatap wajah ibu dengan sedih.
“Sekarang Ibu merasa sangat bahagia. Ibu benar-benar melihat wajah ayah di bulan itu. Dia sedang tersenyum menatap Ibu…”
Tania tertunduk. Dadanya terasa diiris-iris. Perih. Air matanya ingin tumpah, namun tetap coba dia tahan.
“Tania, kau kenapa?” ibu menoleh menatap wajah Tania.
Tania tetap diam. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga.
“Kau menangis, Sayang?” ibu mengangkat wajah Tania.
“Tania sangat terharu dan bahagia. Sudah lama Tania tak melihat Ibu tersenyum sebahagia ini…”
Ibu segera memeluk Tania. Air matanya bercucuran.
Sementara langit mulai berwarna kelabu. Awan-awan hitam berarak-arak merayapi paras bulan yang memancarkan sinar keemasan. Malam pun berubah kelam saat gerimis perlahan jatuh.
*
Tania terbangun tengah malam, terhenyak di atas tempat tidur dalam posisi duduk. Matanya membulat nanar. Keringat di wajahnya membanjir. Deru napasnya tersengal-sengal, seperti baru saja dikejar-kejar penjahat. Tania mengucap istighfar. Dia baru saja mimpi buruk.
Dalam mimpinya dia melihat ibu sedang menatap bulan purnama. Beberapa saat kemudian setitik cahaya jatuh dari wajah bulan purnama itu ke pangkuan ibu. Ibu mengelus cahaya itu dengan lembut. Cahaya itu lalu membesar dan berpendaran, menyilaukan mata. Saat cahaya itu perlahan-lahan lenyap, tampaklah seorang laki-laki berdiri di hadapan ibu. Ternyata laki-laki itu adalah ayah.
Mata ibu tak berkedip menatap wajah ayah. Ibu masih tak percaya sosok di hadapannya itu benar-benar ayah. “Hendra…? Kau kah itu, suamiku?”
Ayah tersenyum dan mengangguk, “Ya. Aku Hendra, suamimu…”
Ibu berdiri dari duduknya lalu menghambur memeluk ayah. Di pelukan ayah, ibu tergugu. Penantiannya selama enam tahun ternyata tak sia-sia. Malam ini ibu benar-benar melihat ayah kembali, bahkan telah memelukknya.
“Aku sangat kagum dengan pendirianmu. Kau benar-benar wanita yang sangat setia. Walau banyak laki-laki yang mengharap cintamu, namun kau tak pernah mau memalingkan hatimu dari cintaku. Aku benar-benar bahagia…” Kristal-kristal bening berguguran juga dari kedua sudut mata ayah.
“Kau adalah laki-laki teristimewa yang pernah kumiliki. Sungguh kau tak kan pernah tergantikan dengan laki-laki mana pun…”
Beberapa saat lamanya ibu dan ayah berpelukan, melepaskan kerinduan mendalam dalam suasana penuh haru. Tania yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan pun tak kuasa membendung air matanya.
“Kedatanganku ke mari untuk menjemputmu,” bisik ayah lembut.
Ibu melepaskan pelukan ayah. “Menjemputku?”
“Ya. Aku ingin membawamu ke bulan. Di sana kita pasti bisa merasakan kebahagiaan tanpa seorang pun dapat mengusik kita.”
“Tapi, bagaimana dengan Tania?”
“Tania?”
“Ya, dia anak kita. Kau masih ingat?”
“Tentu saja.”
“Dia harus ikut.”
“Kalau dia ikut, dia bisa mengganggu kebahagiaan kita. Aku ingin kita berdua saja.”
“Kalau begitu, aku tak mau ikut denganmu. Tak mungkin aku tega meninggalkan Tania sendirian.”
“Apakah kau tak mencintaiku lagi?”
“Aku sangat mencintaimu. Tapi…”
“Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau harus turuti apa kataku!”
“Kau egois!”
“Kau harus ikut aku!” ayah mencengkeram kedua lengan ibu.
“Aku tak mau!” ibu berusaha berontak.
“Kau hanya milikku! Tak ada yang boleh merebutmu dariku!” cengkeraman tangan ayah semakin kuat. Matanya tampak berkilat-kilat. Ayah menyeringai buas seperti serigala haus darah. Ibu semakin ketakutan.
“Kau… kau bukan suamiku! Lepaskan aku! Lepaskan!!” ibu meronta-ronta.
“Tidak akan kulepaskan! Tidak akan! Hua ha ha ha…!” tiba-tiba di tubuh ayah tumbuh sepasang sayap burung garuda. Saat ayah mengepakkan sayapnya, tubuh ibu pun ikut terbang ke udara.
Tania mengejar ibu dengan panik. “Lepaskan ibuku! Lepaskaaaan…!” Tania berteriak-teriak. Namun ayah tak menghiraukannya. Setelah itu Tania terjaga dari mimpinya.
Tania menyeka keringat di wajahnya. Cahaya rembulan menerobos masuk melewati jendela kaca yang hordennya tesingkap. Perlahan Tania melangkah menghampiri jendela lalu memandang ke luar. Bulan purnama bersinar terang di langit. Tampak begitu indah. Tiba-tiba Tania teringat ibu. Cepat-cepat dialihkannya pandangannya menatap kursi taman di halaman depan. Tania terperanjat. Ibu masih duduk di sana sambil menikmati indahnya bulan purnama. Bergegas Tania keluar dari rumah menghampiri ibu.
“Bu, malam sudah sangat larut. Sebaiknya Ibu segera istirahat. Besok kan, Ibu harus ke kantor?” Tania berkata lembut.
Ibu menoleh. Menatap wajah Tania lekat, lalu tersenyum. “Tania, saat ini Ibu merasa bahagiaaa sekali! Kau tahu apa yang membuat Ibu bahagia?”
Tania diam menanti jawaban ibu.
“Baru saja ayah turun dari bulan menemui Ibu. Dia berjanji akan datang lagi saat ulang tahun Ibu besok…”
Tania menundukkan wajah. Dadanya teriris-iris. Perih. Tuhan… jangan biarkan ibuku menderita seperti ini. Kasihan ibu. Aku sangat sayang ibu… jerit Tania dalam hati. Tiba-tiba air matanya jatuh lagi.
*
Besok ibu ulang tahun. Ulang tahun yang ke 39. Berbagai perlengkapan telah dipersiapkan sejak dua minggu terakhir. Mulai dari gaun yang harus ibu kenakan, kue ulang tahun, dan beberapa perlengkapan lainnya.
Tania baru bangun dari tidur siangnya. Dipicingkannya matanya melihat jam di dinding kamarnya. Jam lima sore! Cukup lama juga dia terlelap. Mungkin karena terlalu lelah dengan aktivitas di sekolahnya yang padat.
Tania segera beranjak dari kamarnya menuruni tangga menuju lantai bawah. Di ruang tengah dia mendapati ibu telah mengenakan gaun indah berwarna jingga. Tak berkedip Tania memandang wajah ibu. Tania terkagum-kagum. Ibu cantik sekali! Belum pernah dia melihat ibu berhias secantik ini sebelumnya.
“Tania? Kenapa bengong begitu?” tegur ibu sambil membawa dua buah piring kaca berisi puding jagung berukuran mini. Segera diletakkannya piring-piring itu dengan sangat hati-hati di sebuah meja yang telah dipersiapkan di ruang tengah. Bik Narti turut membantu ibu. Beberapa minuman dan makanan mewah yang lainnya telah tersaji di meja itu. Baunya semerbak membangkitkan selera. Membuat Tania lapar.
“Oh eh… Ibu cantik sekali sore ini,” sahut Tania sekenanya sambil melangkah menghampiri meja. “Wah, banyak sekali makanan mewah di meja ini?” mata Tania berbinar-binar. “Siapa tamu yang akan bertandang? Sepertinya istimewa sekali?”
Ibu tersenyum, memandang wajah Tania lekat-lekat. “Malam ini ayah akan datang menemui Ibu.” Ibu berkata dengan raut wajah berbunga-bunga. Ibu tampak sangat bahagia.
Tania diam. Matanya yang tadi berbinar-binar berubah pias. “Ibu yakin ayah akan datang?” tanya Tania pelan. Hampir tak terdengar.
“Ayah laki-laki setia. Dia selalu menepati janjinya…”
Tania tersenyum samar. Segera dia menjauh sebelum air matanya benar-benar jatuh.
*
Malam telah larut. Tania masih melihat ibu di halaman rumah, duduk di kursi taman sambil menatap wajah bulan yang terang benderang. Udara di luar sangat dingin. Tania melangkah menghampiri ibu.
“Bu, malam telah larut. Udara dingin sekali. Sebaiknya Ibu istirahat saja…” Tania tampak khawatir.
“Sebentar lagi ayah datang. Ibu harus menunggunya…” lirih terdengar suara ibu.
“ Malam sudah sangat larut. Tania khawatir Ibu sakit.”
“Ayahmu laki-laki setia. Dia pasti menepati janjinya.”
“Tapi…”
“Sudahlah! Ibu yakin ayah datang malam ini. Ibu harus menunggunya. Ibu tak ingin membuat ayah kecewa…”
*
Tania terbangun dari tidurnya. Cahaya mentari pagi yang menerobos masuk melewati lubang ventilasi kamarnya menampar wajah Tania. Silau. Tania menyipitkan matanya. Jarum jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul delapan. Tania heran. Biasanya ibu selalu mengomel kalau dia bangun kesiangan. Apa mungkin karena hari ini hari Minggu? Berkali-kali Tania menguap sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Tania lalu melangkah menuruni tangga menuju lantai bawah. Dia ingin menemui ibu. Biasanya ibu suka berbenah rumah kalau hari libur seperti ini. Ah, bukannya hari ini ibu ulang tahun?! Ya Tuhan… Tania hampir saja lupa. Tania mempercepat langkah menuruni anak tangga. Dia sudah tak sabar untuk mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi ciuman cinta pada ibu.
Di ruang tengah Tania melihat Bik Narti sedang membereskan piring-piring kotor yang berserak di atas meja. Tania mengerutkan alis. Teringat ibu yang menanti kedatangan ayah semalam. Apa mungkin ayah benar-benar menemui ibu semalam?
“Ibu di mana, Bik?” tanya Tania agak khawatir. Semalam ibu menunggu kedatangan ayah hingga larut malam.
“Bibik tidak tahu, Non. Mungkin masih di kamarnya.”
Tania bergegas menuju kamar ibu, tapi ibu tak ada di kamarnya. Tania beranjak menuju dapur, namun ibu juga tak dia temukan di sana. Tania melangkah menuju halaman depan, namun lagi-lagi ibu tak ditemukan juga. Oh, di mana ibu? Tania cemas sekali. Keringat di wajahnya bercucuran.
Dengan perasaan kecewa Tania melangkah menuju ruang tamu. Kedua matanya langsung tertuju ke sudut ruangan, tempat di mana patung ibu berada. Mata Tania membulat seketika. Dilihatnya patung itu kini telah sempurna! Patung itu telah selelai dibuat. Patung itu benar-benar mirip ibu!
Perlahan Tania melangkah menghampiri patung itu. Ditatapnya wajah patung itu lekat-lekat. Patung itu seperti hidup.
“Ayahmu telah menepati janjinya untuk menyelesaikan patung pahatannya tepat di hari ulang tahun ibumu…” bibir patung itu tampak bergerak-gerak.
Tania terpana.
Ahmad Ijazi H, Mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru
Pemenang Ke-2 LMCR 2009 untuk kategori C (Mahasiswa, Guru dan Umum)
Read More..
Kumpulan Cerpen Janji Senja
Janji Senja
OLEH: DESI SOMALIA
Senja. Merupakan sebuah nama yang tak pernah aku tahu wajahnya. Ia adalah lelaki yang selalu diceritakan Ibu. Kata Ibu lelaki itu adalah Ayahku.. Berpuluh-puluh macam cerita tentang kebaikan Ayah ke luar dari mulut Ibu. Cerita yang selalu menjadi pengantar tidurku
“Ayahmu adalah lelaki pemberani,” kata Ibu pada suatu malam.
Aku mendengarkan kisah tentang keberanian Ayah dengan takjub.
Saat masih kanak-kanak, dalam benakku Ayah hadir sebagai sosok kesatria, jagoan, seperti di film-film yang sering kutonton yang rata-rata berkisah tentang sosok pahlawan. Aku selalu berharap Ayah datang setiap aku berulang tahun sambil membawa kue tart sembari mengecup keningku. Namun, sampai aku beranjak dewasa Ayah tak pernah datang. Kemudian harapan itu perlahan-lahan hilang.
Saat aku melepaskan seragam merah putihku aku meminta pada Ibu agar tak lagi bercerita tentang Ayah ketika aku akan tidur.
“Kenapa?” tanya Ibu.
“Karena Ayah tak pernah datang,” kataku sambil memandang langit-langit kamar.
“Ayahmu berjanji akan datang saat senja.”
“Sudah tak berbilang jumlah senja yang kita lalui, namun Ayah tak kunjung datang.”
“Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang menepati janjinya.”
“Kenapa ayah menjanjikan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang?” aku terus mencecar Ibu.
“Karena senja bukan akhir, ia permulaan sebuah hari.”
Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu.
Pada senja yang sepoi aku kembali mendapati Ibu duduk di teras rumah dengan sejuta harap yang terpancar dari sorot matanya. Aku memandang Ibu dari jauh. Kuurungkan niat duduk di sampingnya. Namun, saat akan masuk ke dalam rumah Ibu memanggilku.
“Duduklah di sini,” Ibu melambaikan tangan padaku.
Aku berbalik. Mendekati Ibu. Kutarik kursi di samping Ibu.
Hening sesaat. Sesekali telingaku menangkap hembusan nafas Ibu.
“Tidak rindukah kau pada Ayah?” tanya Ibu tiba-tiba.
“Rindu. Tapi dulu. Sekarang tidak lagi.”
Ibu memandang tajam padaku, “Kenapa?”
Tak ada jawaban lidah. Aku membuang pandang dari tatapan ibu. “Karena aku tak lagi menganggap Senja sebagai Ayahku, bagiku dia hanya lelaki yang hanya menitipkan sperma pada Ibu,” sahutku, tapi hanya kuucapkan dalam hati.
“Kau tak yakin Ayahmu akan datang?” Ibu mengejarku.
“Maaf Ibu, aku bahkan tak yakin Ayah masih ingat pada kita,” kataku takut-takut. Ada yang menggeliat di ulu hatiku. Entah apa namanya.
Mata Ibu melotot. “Kau tak akan bicara begitu saat kau dapati Ayahmu datang kala senja,” suara Ibu parau.
Aku menatap bola mata Ibu. Pandangan kami bertemu, sorot mata perempuan itu sekarang basah.
“Aku tak bermaksud menyakiti perasaan Ibu,” kataku.
Ibu tak menolehku. “Tinggalkan Ibu sendiri,” pintanya sembari mengusap mata basahnya.
Dengan langkah berat kutinggalkan beranda. Masuk ke dalam rumah.
***
Berbilang tahun sudah lewat. Aku sudah tak lagi tinggal bersama Ibu. Aku menetap di kota lain bekerja pada sebuah perusahaan. Ibu menolak ketika kuajak tinggal bersamaku.
“Ibu ingin menunggu Ayahmu di rumah ini setiap senja,” tolak Ibu ketika untuk kesekin kalinya aku membujuk ibu tinggal serumah denganku.
“Dimanapun itu kita akan menikmati senja yang sama,” sahutku.
Ibu menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyum. Tapi mulutnya tak mengeluarkan suara.
“Ibu bisa menikmati senja bersamaku,” bujukku tanpa putus asa.
“Ibu hanya ingin menunggu Ayahmu di sini. Di rumah ini,” keras hati Ibu.
Akhirnya aku berangkat sendiri setelah tak berhasil membujuk Ibu. Sekali enam bulan aku pulang kampung menjenguk Ibu. Ibu masih seperti dulu. Menanti kehadiran Ayah saat senja. Kasihan Ibu. Penantian yang tak tahu ujungnya. Ibu perempuan setia. Masih menunggu Ayah meski tak ada kabar. Aku pernah menganjurkan agar Ibu mencari pengganti Ayah. Ibu marah besar kala itu. Ibu langsung berdiri di depanku, dan dengan suara yang keras menembus gendang telingaku Ibu membentak.
“Pakai otak!” katanya dengan suara meninggi.
Aku memandang Ibu tidak percaya.
Ibu melangkah, melewatiku, masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Sehari semalam Ibu tidak keluar kamar. Aku menunggu Ibu keluar dengan perasaan takut-takut.
Dalam menunggu itu aku melihat Ibu berdiri di depan pintu dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Kudekati Ibu.
“Ibu, maafkan aku,” kataku sembari memeluk tubuhnya.
Aku merasakan perlahan-lahan tangan Ibu melingkar di badanku. Ibu mengeratkan dekapannya. Kemudian tangan kanannya mengangkat wajahku.
“Ayah terlalu bersih. Ibu tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain,” ucapnya.
Mendengar perkataan Ibu kristal bening mengalir di pipiku.
“Jangan lagi berpikir untuk mencari orang lain sebagai pengganti Ayah untuk Ibu. Karena Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja,” pintanya.
Aku mengangguk. Sejak itu aku tak pernah lagi menyinggung tentang kehadiran lelaki lain untuk Ibu.
***
Setelah berbilang bulan tak pulang hari ini aku pulang menjenguk Ibu, sekaligus berniat meminta restu.
“Ibu, sekarang aku tak remaja lagi,” aku membuka pembicaraan.
“Lalu?” potong Ibu.
“Aku ingin menikah,” aku sengaja menggantungkan kalimat berharap Ibu menanggapi.
“Sudah ada calon?” tanya Ibu datar.
“Ya. Kami sudah lama saling kenal,” kataku hati-hati.
Ibu tak menyahut.
“Mohon restu dari Ibu,” lanjutku.
Diam yang dominan.
Aku memainkan ujung jilbabku.
“Tapi kau juga harus minta restu pada Senja, Ayahmu,” Ibu berkata tiba-tiba.
Aku melongo dengan ekspresi tak paham.
“Tinggallah beberapa waktu di sini. Ayahmu pasti datang,” yakin Ibu.
Aku mengikuti saran Ibu. Namun, berminggu-minggu senja itu lewat. Dan Ayah tak pernah datang menenuhi janjinya.
Masa cutiku sudah usai. Aku kembali ke kota tanpa mengantongi restu Ibu tentang pernikahanku. Saat akan meninggalkan rumah aku melihat Ibu masih menunggu Senja.***
Read More..
OLEH: DESI SOMALIA
Senja. Merupakan sebuah nama yang tak pernah aku tahu wajahnya. Ia adalah lelaki yang selalu diceritakan Ibu. Kata Ibu lelaki itu adalah Ayahku.. Berpuluh-puluh macam cerita tentang kebaikan Ayah ke luar dari mulut Ibu. Cerita yang selalu menjadi pengantar tidurku
“Ayahmu adalah lelaki pemberani,” kata Ibu pada suatu malam.
Aku mendengarkan kisah tentang keberanian Ayah dengan takjub.
Saat masih kanak-kanak, dalam benakku Ayah hadir sebagai sosok kesatria, jagoan, seperti di film-film yang sering kutonton yang rata-rata berkisah tentang sosok pahlawan. Aku selalu berharap Ayah datang setiap aku berulang tahun sambil membawa kue tart sembari mengecup keningku. Namun, sampai aku beranjak dewasa Ayah tak pernah datang. Kemudian harapan itu perlahan-lahan hilang.
Saat aku melepaskan seragam merah putihku aku meminta pada Ibu agar tak lagi bercerita tentang Ayah ketika aku akan tidur.
“Kenapa?” tanya Ibu.
“Karena Ayah tak pernah datang,” kataku sambil memandang langit-langit kamar.
“Ayahmu berjanji akan datang saat senja.”
“Sudah tak berbilang jumlah senja yang kita lalui, namun Ayah tak kunjung datang.”
“Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang menepati janjinya.”
“Kenapa ayah menjanjikan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang?” aku terus mencecar Ibu.
“Karena senja bukan akhir, ia permulaan sebuah hari.”
Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu.
Pada senja yang sepoi aku kembali mendapati Ibu duduk di teras rumah dengan sejuta harap yang terpancar dari sorot matanya. Aku memandang Ibu dari jauh. Kuurungkan niat duduk di sampingnya. Namun, saat akan masuk ke dalam rumah Ibu memanggilku.
“Duduklah di sini,” Ibu melambaikan tangan padaku.
Aku berbalik. Mendekati Ibu. Kutarik kursi di samping Ibu.
Hening sesaat. Sesekali telingaku menangkap hembusan nafas Ibu.
“Tidak rindukah kau pada Ayah?” tanya Ibu tiba-tiba.
“Rindu. Tapi dulu. Sekarang tidak lagi.”
Ibu memandang tajam padaku, “Kenapa?”
Tak ada jawaban lidah. Aku membuang pandang dari tatapan ibu. “Karena aku tak lagi menganggap Senja sebagai Ayahku, bagiku dia hanya lelaki yang hanya menitipkan sperma pada Ibu,” sahutku, tapi hanya kuucapkan dalam hati.
“Kau tak yakin Ayahmu akan datang?” Ibu mengejarku.
“Maaf Ibu, aku bahkan tak yakin Ayah masih ingat pada kita,” kataku takut-takut. Ada yang menggeliat di ulu hatiku. Entah apa namanya.
Mata Ibu melotot. “Kau tak akan bicara begitu saat kau dapati Ayahmu datang kala senja,” suara Ibu parau.
Aku menatap bola mata Ibu. Pandangan kami bertemu, sorot mata perempuan itu sekarang basah.
“Aku tak bermaksud menyakiti perasaan Ibu,” kataku.
Ibu tak menolehku. “Tinggalkan Ibu sendiri,” pintanya sembari mengusap mata basahnya.
Dengan langkah berat kutinggalkan beranda. Masuk ke dalam rumah.
***
Berbilang tahun sudah lewat. Aku sudah tak lagi tinggal bersama Ibu. Aku menetap di kota lain bekerja pada sebuah perusahaan. Ibu menolak ketika kuajak tinggal bersamaku.
“Ibu ingin menunggu Ayahmu di rumah ini setiap senja,” tolak Ibu ketika untuk kesekin kalinya aku membujuk ibu tinggal serumah denganku.
“Dimanapun itu kita akan menikmati senja yang sama,” sahutku.
Ibu menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyum. Tapi mulutnya tak mengeluarkan suara.
“Ibu bisa menikmati senja bersamaku,” bujukku tanpa putus asa.
“Ibu hanya ingin menunggu Ayahmu di sini. Di rumah ini,” keras hati Ibu.
Akhirnya aku berangkat sendiri setelah tak berhasil membujuk Ibu. Sekali enam bulan aku pulang kampung menjenguk Ibu. Ibu masih seperti dulu. Menanti kehadiran Ayah saat senja. Kasihan Ibu. Penantian yang tak tahu ujungnya. Ibu perempuan setia. Masih menunggu Ayah meski tak ada kabar. Aku pernah menganjurkan agar Ibu mencari pengganti Ayah. Ibu marah besar kala itu. Ibu langsung berdiri di depanku, dan dengan suara yang keras menembus gendang telingaku Ibu membentak.
“Pakai otak!” katanya dengan suara meninggi.
Aku memandang Ibu tidak percaya.
Ibu melangkah, melewatiku, masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Sehari semalam Ibu tidak keluar kamar. Aku menunggu Ibu keluar dengan perasaan takut-takut.
Dalam menunggu itu aku melihat Ibu berdiri di depan pintu dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Kudekati Ibu.
“Ibu, maafkan aku,” kataku sembari memeluk tubuhnya.
Aku merasakan perlahan-lahan tangan Ibu melingkar di badanku. Ibu mengeratkan dekapannya. Kemudian tangan kanannya mengangkat wajahku.
“Ayah terlalu bersih. Ibu tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain,” ucapnya.
Mendengar perkataan Ibu kristal bening mengalir di pipiku.
“Jangan lagi berpikir untuk mencari orang lain sebagai pengganti Ayah untuk Ibu. Karena Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja,” pintanya.
Aku mengangguk. Sejak itu aku tak pernah lagi menyinggung tentang kehadiran lelaki lain untuk Ibu.
***
Setelah berbilang bulan tak pulang hari ini aku pulang menjenguk Ibu, sekaligus berniat meminta restu.
“Ibu, sekarang aku tak remaja lagi,” aku membuka pembicaraan.
“Lalu?” potong Ibu.
“Aku ingin menikah,” aku sengaja menggantungkan kalimat berharap Ibu menanggapi.
“Sudah ada calon?” tanya Ibu datar.
“Ya. Kami sudah lama saling kenal,” kataku hati-hati.
Ibu tak menyahut.
“Mohon restu dari Ibu,” lanjutku.
Diam yang dominan.
Aku memainkan ujung jilbabku.
“Tapi kau juga harus minta restu pada Senja, Ayahmu,” Ibu berkata tiba-tiba.
Aku melongo dengan ekspresi tak paham.
“Tinggallah beberapa waktu di sini. Ayahmu pasti datang,” yakin Ibu.
Aku mengikuti saran Ibu. Namun, berminggu-minggu senja itu lewat. Dan Ayah tak pernah datang menenuhi janjinya.
Masa cutiku sudah usai. Aku kembali ke kota tanpa mengantongi restu Ibu tentang pernikahanku. Saat akan meninggalkan rumah aku melihat Ibu masih menunggu Senja.***
Read More..
Jumat, 08 Juli 2011
Kumpulan Cerpen Perjalananku Masih Panjang
Aku berusaha memahami keadaan tapi semakin aku berusaha semakin aku gak memahami dan gak ngerti mesti buat apa. Aku dalam keadaan dilema sekarang kubiarkan saja keadaan kami seperti ini atau aku beritahu semua ke avi . ahhhhhhhh terasa sesak ruang jantung ku untuk bernafas semakin hari jantung ku semakin berat memompa semakin lemah kata dokter. Ingin rasanya aku melepaskan beban yang semakin hari semakin merusak hari-hari ku. Tapi seaakan aku gak bisa menghindari lelaki itu dan sahabat ku itu.gak bisa aku bayangkan rasa sakit nya bila avi tau kebenaran antara aku dan deris ternyata belum selesai. Siapa yang patut aku salahkan?? Cinta kami kah yang tak mengenal orang dan perasaan orang sekitar?? Atau kah kami sendiri sebenarna yang membuat masalah ini semakin hari semakin ribet?? Aku gak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan ku sendiri.
Avi sahabat ku ,q yakin pasti km baca maafkan aku jika menurut mu aku salah. Jika posisiku sekarang membuat mu serbasalah.maafin aku ikut menyalakan api yang kamu hidupkan sejak awal antara aku dan dia.
Deris ku sayang maafin q ya cinta kita gak ada batas hingga banyak yang terluka,aku tau gak hanya aku yang terluka tapi km,avi juga terluka. maafin aku karena gak bisa benar2 memisahkan diri dari mu, karena aku masih mencintai mu!!!!!!!!!!.
Kau mencoba bermain api dengan ku maka aku yang harus memadamkannya.bukan karena aku tidak mencintaimu tapi kusadari belakangan ini, semakin hari kamu semakin besar kepala mempermainkan aku dan sahabat ku.dan aku gak bias diam aja kali ini meneriama begitu saja keadaan ok!! I’m sory… karena sikap mu sendiri Da buat kebencian di hatiku bertambah.jangan salahkan aku tapi koreksi dirimu sendiri.kamu menyuruhku untuk koreksi diri tapi kamu gak sadar kamu juga butuh untuk koreksi dirimu yang semakin hari semakin mencoba menghidupkan api.
Aku seperti kapas yang tertiup angin dibumi ,kapan kah aku bisa jatuh ke bumi??? Tanpa hempasan angin yang membuat aku melayang layang tanpa arah yang tetap??
Kumpulan Cerpan BBF
BBF
By : Winda
“Uhm, qta Cuma makan sedikit ko, pelit amat, kalo udah dibawa ke kelas khan kadang suka ga kebagian.”balas dHita
“Tenang udah gw pisahin sebagian ko, jadi pasti semuanya kebagian, Ka Ja (가사)!”jawab dHania
Pas lagi jalan menuju kelas, dari arah belakang the genk gonk datang dengan gayanya yang elegant (untung bukan elephant) dan dengan sengajanya menabrak dHania sehingga beberapa kuenya terjatuh, dengan wajah tak berdosa mereka tertawa dan meninggalkan dHania cs. dHian yg ga terima langsung menghampiri the genk gonk itu dan sedikit mempermainkan mereka sampai akhirnya mereka terjatuh (lagian salah sendiri ke sekolah aja pake high heels, dasar the genk gonk emank mau catwalk) dan anak-anak yang melihat mereka hanya tertawa.
“Hey, kalian ini kurang ajar banget!!”ucap Cindy leader tHe genk gonk
“Argghh, sepatu gw patah, ini semua salah kalian, sialan banget!!”sewot Chelsea
“Lain kali kalo jalan ati-ati, untung Cuma sepatu lo yang patah, bukan kaki lo!”ancam dHian dengan sinisnya sambil nunjukin bogemnya (serem amat)
“Let’s go to the cLass, kwandh, uhm hari ini jatah kue kalian b’2 dikurangi ya, tadi khan udah sempet icip-icip,ok!!!Ka Ja((가사).”sela dHania
“Ne, araseo!”jawab dHita sambil menarik tangan dHian
“Argh, dasar cewek aneh!!”jawab the genk gonk setelah dHian cs pergi
Sesampainya di kelas, seperti biasa masih pada pecicilan alias ga mau pada diem kata lainnya ribut, maklum kelas pangbontontotnya alias terbawah. Mungkin karena orang kaya dan kurang perhatian orang tua, taunya Cuma uang jadinya gini dech ke pendidikannya. Mereka Cuma tau uang dan kurang tau artinya kerja keras dan susahnya nyari uang, tapi ga semuanya kayak gthu donk. Pastinya masih banyak juga yang ngerti artinya uang. Meskipun githu masih ada sang guru sekaligus sang wali kelas yang baik hati, rajin menabung dan sabar mengajar kelas mereka. Tapi kadang-kadang kalo ngasih hukuman ga tanggung-tanggung (kadang galaknya juga ga ketulungan).
“Ok guys, cemilan datang dari my princess!!!!” ucap dHita
“uhm, massieoyo, you make this cake??”ask one of their classmates
“Ne, jeongmal??gomawo!!”jawab dHania
Semuanya pun memakan kue buatan dHania, dHania memang hobi buat kue-kue gthu, ya cooking-cooking githu lakh. Ga lama lagi asyik-asyiknya makan kue, gurunya datang, mereka pun langsung membereskan makanannya dan menyiapkan buku-bukunya. Guru yang ga lain wali kelas mereka itu hanya tersenyum karena kelakuan mereka. Malah ikutan makan kue dulu baru belajar.
“Aduch ibu sampe lupa, hari ini kita kedatangan murid pindahan dari Bogor dan akan bergabung di kelas kita, jadi kalian harus baik-baik padanya, silahkan masuk, dan perkenalkan pada teman yang lainnya.”ucap uri songsaenim
“Saya Petra, salam kenal semuanya!”ucap murid pindahan itu
“Uuuuuukkkkkkkkkkkkhhhhhhhhhhhhh, really handsome!!!!”ucap para cewek
“Ukh dasar kalian, kalo liat yang cerah langsung dech rebut, ya sudah sekarang silahkan duduk di tempat yang kosong, dHi jangan galak-galak ya dengan murid baru!”jawab songsaenim mereka
“Ne, Songsaenim!guru kita ini yang paling pengertian dan baik hati, gamsahamnida!”balas dHian dengan raut wajah menyindir
“hahaha(ketawa) araseo, mian ne, ok, let’s we start!!open your book to page 109!”jawab gurunya
Anak-anak hanya tertawa melihat dHian, tapi murid pindahan’a juga cuek jadi ga masalah, dan ternyata Petra ini sama-sama anak yang bermasalah, di sekolah sebelumnya sering banget masuk BP plus jarang masuk sekolah, makanya dia sering pindah sekolah, soalnya 3x d’DO. Merea belajar seperti biasanya. Cewek-cewek dari kelas lain bener terpesona dengan c Petra ini, tapi sayangnya c Petra ini ga ada waktu untuk ngurusin hal kayak gthuan. Kalo ga kabur kerjaan’a Cuma tidur di kelas, wah lebih parah. Suatu hari, anak lelaki di kelasnya itu pada berantem dengan anak kelas lain, terus para cewek juga malah ikutan pada rebut juga di lapangan, padahal Cuma karena ga sengaja kena ciuman bola eh malah merembet, dHian cs dan yg lain ngebantu misahin, kalo yang cewek Cuma dengan gertakan dHian juga bisa langsung diem, tapi kalo yang cowok mana mempan, Petra yg ada di situ bukannya bantuin malah pergi gtw kemana bolos pelajaran lagi. Ga lama guru-guru dating termasuk sang wali kelas, akhirnya semuanya dihukum dech, ditambah beberapa guru malah nyudutin dHian cs dalangnya (wah ampun nie guru, orang mau nolong misahin, eh malah dituduh biang keroknya, maklum kadang dHian yang lebih sering kena masalah padahal bukan kesalahan dia, tapi karena udah imagenya jelek jadinya semua guru yang ga kenal pasti keki). Semuanya pun masuk kelas, gurunya juga udah kesel tapi mau gimana lagi.
“Kalian ini kenapa lagi, pake acara berantem segala, ampun, katanya janji ga akan buat keributan lagi!”ucap wali kelas mereka
“Bu, itu bukan salah kita, lagipula harusnya kita yang marah, Doni yang kena ciuman bola, pokoknya mereka nyari masalah duluan, harusnya minta maaf, malah bikin emosi kita meledak aja! ”ucap dHita
“terus kenapa kalian ladenin, dan kamu dHian malah ikut bertengkar dengan siswa laki-laki, kalo kamu yang terluka gimana!”blas Bu Cantika namanya
“dHian itu Cuma mau bantu misahin aja bu, abisnya c Petra bukannya nolongin malah kabur gtw kemana, dia ga salah ko bu!”jelas Doni
“Akh benar juga, kemana dia, dHi kamu cari dia dan ajak dia ke sini, kalau ga bisa bawa dia kesini kamu ga boleh ikut pelajaran ibu lagi! ”ucap Bu Cantika
“Tapi bu …………..”ucap dHian
“Anggap saja ini hukuman dari ibu, ayo cepat, cari dia kamu ga mau belajar pelajaran ibu lagi!”ancam wali kelasnya itu (ikh sadis amat)
“Tapi itu bukan kesalahan dHian khan bu, kenapa harus di hokum!”jawab dHania
“Sudah jangan rebut, yang lainnya buka hal. 120 dan kerjakan latihannya!”balas Bu Cantika
“Ok, gpp kwandh, udah biasa, bye-bye!”jawab dHIan
dHian pun pergi mencari Petra, setiap sudut sekolah udah dicari tapi ga ketemu, tempat-tempat biasa anak-anak mojok juga ga ada. Udah hampir setengah jam dicari tapi belum ketemu. Anak-anak juga rada ga konsen, wali kelasnya jelas mengerti tapi dia pura-pura ga peduli, soalnya kalo ga githu pasti diulangi lagi berantemnya, mana ini peringatan terakhir untuk dHian.
“Aduch, nie anak kemana sech, susah banget nyarinya, apa dia udah pulang, tapi mana mungkin barang-barangnya masih ada mana mungkin ditinggalin, tapi mungkin juga sech, orang yang sering bolos kayak dia pasti punya segala cara, arrrgggghhhh, hari ini pelajaran terlewati!”omel dHian (sambil jalan ke atap sekolah)
Ternyata kebetulan banget Petra ada disana, dHian senang akhirnya bisa menermukan dia, lalu dia pun menghampirinya dan mengajaknya untuk kembali ke kelas, tapi sayangnya c Petranya kaga mau, dia malah nyuruh dHIan pergi, dHian tetep ngajak meskiupun ga digubris, dia malah disuruh pergi. Udah dipaksa segimanapun dia tetep ga mau, karena dia ga bisa bawa Petra ke kelas jadinya dia terpaksa kembali ke kelas dan pergi kembali ke atas atap, gurunya merasa bersalah tapi mau gimana lagi, kalo ga dihukum pasti dikeluarin. dHian mulai mempelajarinya bukunya, dan dia belajar sendiri , Petra kayaknya merasa terganggu dan tetep nyuruh dHian pergi, tapi dHian sama keras kepalanya, kemana Petra pergi pasti dia ikutin sambil baca buku pelajarannya, Petra benar-benar kesal.
“Lo itu ngapain sech, ngikutin gw mulu, kalo mau belajar balik sana ke kelas,ga usah ngikutin gw!!”kesal Petra
“Makanya lo ikut gw ke kelas,terserah dech lo mau perhatiin atau ga, seganya lo ada di kelas di jam pelajaran jangan keliaran di luar kelas!”jawab dHian
“Terserah gw mau masuk atau ga apa urusannya dengan lo, lagian lo sendiri kenapa malah ikutin gw, bukannya masuk kelas, sebelum nyuruh orang perhatiin dulu diri lo sendiri, udah sana pergi!”balas Petra sambil meninggalkan dHian
Meskipun kesal, dHian pun terus mengikutinya, lalu tiba-tiba Doni menghalangi jalan Petra dengan raut wajah marah dan memukul wajah Petra jelas Petra juga ikutan sewot tapi sebelum Petra balik mukul Doni dHian langsung melerai bahaya juga kalo ketahuan guru yang lain, bisa tambah jumlah daftar hukuman niech.
“Dia ga bisa masuk ke kelas karena lo, kalo dia ga bisa bawa lo ke kelas untuk belajar dia ga boleh ikutan pelajaran, dan itu artinya dia bisa ketinggalan pelajaran Cuma karena lo yang ga penting bangetz! ”ucap Doni
“Don, lo apa-apain sech, kalo guru ngeliat sikap lo bisa-bisa lo di skors, udah gw gpp,lo balik ke kelas sekarang, guru bisa curiga kalo lo lama-lama keluar, udah sana, tenang aja gw bawa buku ko jadi ga akan ketinggalan, sana!!!”lerai dHian
“Apa hubungannya dengan gw, apa ga ada alasan lain untuk bolos juga, emang dia aja yang mau bolos juga, pake acara bawa buku, tapi ujung-ujungnya tetep aja ngikutin gw!”jawab Petra sambil pergi meninggalkan mereka
“Aishhhhh, ni anak pengen banget gw ngehajar dia, bikin orang tempramen aja!!!”marah doni
“Udah-udah lo ke kelas duluan nanti gw nyusul, ok, bye-bye, oia jangan bilang ke bu guru, dHita juga dhania, bilang aja gw belum nemuin dia !”ucap dHian meninggalkan doni dan segera menyusul petra
Doni hanya bisa menuruti saja, karena kalo bilang pasti semuanya bakal rebut, terutama kedua sahabatnya itu, dHania dan dHita. Petra terlalu cepat menghilang, karena ga ketemu, akhirnya dHian memutuskan untuk diam di atap sambil membuka lembaran buku pelajarannya, sampai pelajaran berakhir pun Petra ga ke kelas juga, setelah bu Cantika keluar, dHian pun ke kelas untuk mengambil tasnya dan pulang. DitHa dan Dhania jelas khawatir soalnya baru kali ini wali kelas mereka tidak membiarkan muridnya untuk tidak mengikuti pelajarannya, dHian ga banyak omong, dia hanya mengajak teman-temannya untuk pulang, tapi seperti biasanya mereka mampir dulu ke kafe langganan untuk makan es krim big size (baju kali big size). Setelah itu mereka pun pulang, malam harinya, dHian kerja part time di kafe milik temannya, dari jam 7 sampai jam 12 malam. dHian sejak umur 4 tahun udah tinggal tanpa orang tuanya, dari umur 4 sampai 9 tahun dia diasuh oleh pengasuhnya. Ketika dia kelas 6 SD,dia sudah bisa mengatur segalanya sendiri dan k arena pengasuhnya itu mau pulang kampung aja jadi dia mengurus segala sesuatunya sendiri, mulai dari makanan sehari-hari, keperluan sekolah dan lain-lain, masalah uang dia tidak pernah kekurangan orang tuanya setiap bulan mentransfer uang untuk keperluannya, dia mau ini atau itu langsung dibelikan, tapi sekali pun orangtuanya tidak pernah datang untuk menjenguk, jadi sewaktu dia sakit, dia hanya nangis sendiri, dari kecil sampe SMP dia ga punya temen deket, kalau pun ada, mereka Cuma memanfaatkan karena mereka hanya mengejar uangnya. Makanya sifatnya juga kadang susah bergaul dengan orang lain, sampai dia SMA, bertemulah dengan dHania dan dHita dan teman yang lainnya. Semenjak bertemu dengan kedua sahabatnya itu, dHian lebih ceria ya meskipun kadang masih suka menyendiri. Kalo dHania, dia tinggal dengan orang tuanya, tapi dia Cuma salah satu anak yang broken home, soalnya setiap hari kerjaan orangtuanya Cuma berantttteeeeeeeeeeeeeemmm mulu, ga ada capenya, udah sama-sama sibuk ga ada perhatian sama anak, berantem mulu kalo di rumah, makanya kamarnya itu sengaja kedap suara, biar ga terganggu dengan keributan orangtuanya, waktu sakit pun, dHita dan dHian yg menemani sama bibinya juga. Sedangkan dHita, kedua orangtuanya masih utuh tapi dia hanya merasa selalu disudutkan mentang-mentang saudaranya pada sekolah di sekolah favorit sedangkan dia hanya sekolah di SMA biasa,, tiap hari ada aja acara dimarahin orang tuanya, makanya dia lebih milih untuk ngekost atau kadang pulang ke rumah tantenya. Mereka semua punya masalah sendiri tapi karena selalu bersama makanya semuanya bisa happy. Karena bosan makanya dHian cari kerja part time, meskipun selalu pulang malem tapi dia senang karena rame dan menyenangkan. Keesokan harinya, pagi-pagi Petra ada tapi sejam kemudian dia gt kemana menghilang, dicari ke atap juga ga ada. Pas pelajaran Bu Cantika dikira dHian sudah bisa mengikuti pelajaran, tapi kali ini dHian benar-benar tidak diijinkan untuk mengikuti pelajaran Bu cantika sebelum bisa membawa Petra untuk hadir di pelajaran. Anak-anak pada protes tapi tetep ga digubris oleh sang wali kelas. Dengan raut sedih dHian pun meninggalkan kelas dan mencari Petra sambil membawa tasnya karena pelajaran terakhir. Sudah dicari kemana-kemana api ga ketemu, akhirnya dHian memutuskan untuk diam di atap sekolah sambil belajar, dia mempelajari dengan tekniknya sendiri. Mungkin karena kecapean kerja tadi malam jadinya ngantuuuuuukkkk banget, ga sadar dHian pun ketiduran di lantai. Hpnya bunyi beberapa kali pun ga diangkat, kedua sahabatnya terus menghubungi tapi ga diangkat. Petra yang seperti biasanya kabur dari kelas diem di atap dan melihat dHian yang ketiduran di lantai, dia pun membangunkan dHian, lumayan susah juga sech ngebanguninnya (secara Cuma nendang-nendang kakinya doang). Petra pun membiarkan nya danpergi tapi baru beberapa langkah dia pun kembali membangunkan dHian dengan sedikit tenaga dan kekerasan dikit tapi tetep ga bangun juga, Petra pun makin kesal.
“Gila nie cewek susah banget dibanguninnya, ya bu guru dateng mau sampe kapan lo tidur??”ucap Petra
Mendengar kata Bu Guru dia langsung bangun terburu-buru dan langsung pergi ke toilet. Petra sedikit kaget melihat ekspresinya, begitu sampe di kamar mandi, dHian baru sadar sepenuhnya dan bingung kenapa bisa ada di toilet. Setelah membersihkan mukanya, dia pun kembali ke atap karena bukunya masih tertinggal di atas.
“Eh, sejak kapan lo di sini, itu buku gw, sini!”ucap dHian sambil menarik bukunya
“kalo mau tidur di rumah,kalo mau belajar ya di kelas, maksain bangetz!”jawab Petra
“Aduch badan gw pegel-pegel gini ya, masih ada 1 jam, boring gini akh (membuka hpnya) mereka kenapa mc segini banyaknya, argh pikiran stress bikin laper, kebetulan lo bawa makanan, bagi ya!!”balas dHian sambil memakan cemilan Petra
“lo laper apa doyan, lagian kenapa lo ga masuk kelas, ga takut kena hukuman??”Tanya Petra
“sekarang juga gw lagi dihukum ga boleh masuk kelas,lo sendiri kenapa ga masuk kelas, kerjaannya kabur mulu, ga pengen naik kelas apa?”jawab dHian
“Sejak kapan dihukum ga boleh masuk kelas, lagian mana ada bukannyadisuruh belajar malah ga boleh masuk!”ucap Petra
“Ia salah gw juga sech,siapa suruh gw ikutan rebut dengan anak” kemaren”, jadinya ini SP buat gw dech, akh sayang juga kalo harus ninggalin sekolah ini kalo belum tamat,!”jawab dHian
“Apa yang harus disayangkan, udah lulus juga tetep aja sama!?”balas Petra
“Kalo gthu ikut gw sekarang, ayo cepet bangun, ka ja!!”ucap dHian sambil menarik tangan Petra
“Hey mau kemana, ??Lepasin tangan gw!”ucap Petra
dHian ga menghiraukan Petra dan terus menariknya ke depan kelas, tapi begitu mau masuk, terdengar pembicaraan antara guru mereka dan anak-anak juga beberapa guru. Ternyata jika kali ini nilai dan juga peringkat kelas ini tidak ada perubahan, maka ada kemungkinan akan dibubarkan dan untuk dHian kalo dia terlibat perkelahian lagi dia akan dikeluarkan, kali ini sepertinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mereka, wali kelas mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa. dHian pun mengajak Petra untuk pergi dari situ. Kayaknya dHian makin malu aja ketemu dengan wali kelasnya itu. Mereka kembali ke atap, dHian hanya bisa menghela nafas, beberapa menit kemudian, mereka pun kembali ke kelas tapi setelah wali kelasnya keluar. Begitu masuk, Doni terlihat kesal begitu melihat Petra, dan tadinya dia mau menghajarnya tapi keburu dihalangi dHian. Anak-anak yang lain pun mengingatkan untuk tidak berkelahi. Dan mereka pun belajar seperti biasanya lagi dan Petra selalu diawasi dHian, terserah dia mau tidur, jungkir balik, atau apapun yg penting kalo ada guru dia harus memperhatikan. Tentu saja wajah Petra udah kayak kerupuk bantet ga bisa kabur lagi. Hari-hari berikutnya pun begitu dHian selalu megikuti Petra kemanapun dia pergi kecuali toilet. Suatu hari pas lagi asyik-asyiknya ngobrol dengan kedua sahabatnya, the genk gonk nyari masalah, mereka bener-bener menghina, mencela ya pokoknya pengen ngehajar banget, dHita dan dHania sangat kesal mendengarnya. Tapi dHian mencoba untuk sabar, karena tidak puas, the genk gonk malah mendorong dHian sampe dHian terjatuh dari tangga, dHita dan dHania langsung mendorong the genk gonk dan segera menolong dHian, dHita pun segera meminta bantuan teman sekelasnya, dHian hanya merintih kesakitan, sepertinya kakinya terkilir, the genk gonk melihat dHian seperti itu langsung segera pergi meninggalkan mereka tapi Petra yang ada disitu langsung menahan mereka dan ga lama guru mereka datang dan langsung menanyakan apa yang terjadi, Petra dan Doni langsung memapah dHian ke UKS. Setelah diobati, kakinya sudah lebih baik tapi masih terasa sakit kalo dipake jalan. Dengan saksi anak-anak yang melihat kejadian tadi, anak-anak meminta kalo the genk gonk diskors sesuai peraturan yang ada.
Akhirnya setelah diskusi, the genk gonk diskors 1 minggu. Kedua sahabatnyaitu terlihat khawatir, dHian pun pulang diantar keduanya sahabatnya. Beberapa hari istirahat, dHian sudah sehat kembali meski kadang-kadang kakinya masih terasa pegal. Ujian semester pertama hampir tiba semuanya belajar dengan tekun ya beberapa orang masih seenaknya sech, usai pelajaran olahraga ketika lagi istirahat,tiba-tiba Petra dan anak dari kelas A berantem, dHian dan doni berusaha memisahkan mereka, Petra terlihat sangat emosi,dHian dan doni juga sedikit terkejut. Guru-guru yang mendengar keributannya, langsung datang dan malah dHian yang kena omelan dikiranya dia yang buat keributan dan melibatkan yang lainnya. Anak-anak yang tahu persis ceritanya jelas protes. Tapi sayangnya ga dihiraukan.
“dHian, kamu llagi, mau sampai kapan kamu selalu buat keributan d sekolah ini, teman-temanmu juga sama saja, lebihbaik kelas ini dibubarkan saja sebelum ujian dimulai, begini lebih baik!”ucap wakil kepala sekolah
“Bukan dHian pak yang memulainya Pak, ini cumasalah paham saja pak!!!!”ucap dhita
“bukankah saya sudah bilang, jika kalian membuat onar kelas ini akan dibuabarkan dan selain itu kamu dHian mau sampai kapan seperti ini terus, kamu ikt saya ke ruangan, yang lain kembali ke kelas!”balas wakil kepala sekolah
“Tapi pak……..”ucap dHania
“Semuanya kembali ke kelas dulu, ayo cepat!!!”sela wali kelas mereka
dHian hanya bisa mengikuti perintah wakasek. Dan anak-anak kembali ke kelas, kali ini seperti biasa dHian disidang di depan semua guru, kayaknya dHian mau di DO, Karena pertengkaran hari ini, padahal dia baru sembuh setelah jatuh dari tangga, sekarang dia harus nyiapin diri untuk di DO sebelum ujian. Semua bukti udah ngeberatin dHian (uhm bukti kayak kasus criminal aja), lalu tiba-tiba sang ketua OSIS datang dan meminta untuk tidak men-DO dHian dulu, lalu dia mengusulkan syarat jika ujian semester ini dHian bisa memiliki rata-rata nilai diatas 90, dan anak-anak kelas Spesial bisa masuk dalam peringkat 200 besar, maka kelas Spesial tidak akan dibubarkan, tapi jika mereka tidak berhasil masuk dalam 200 besar, maka kelas Spesial akan dibubarkan dan digabung dengan kelas lain.
Mulanya semua guru menentang tapi setelah mendengar tambahan pernyataan dHian, merka pun setuju.
“Kalau begitu, jika saya tidak bisa mendapat rata-rata diatas 90, selain kelas dibubarkan, saya juga akan keluar ini, dengan begitu beban semuanya buknkah lebih ringan, meskipun sekarang kalian membuabarkan kelas, sebentar lagi ujian akan dimulai, tingkat pemahaman kelas kami tentu berbeda dengan kelas yang lain, bukankah hasilnya tentu saja akan membuat Anda malu, beri kami satu kesempatan lagi, dan untuk masalah hari ini, kami tidak memulai perkelahian itu, mereka yang memulainya!”ucap dhian
“Apa yang dia katakan ada benarnya juga, meskipun kelas dibubarkan bukankah hasilnya tetap sama mereka akan tetap berada di peringkat terakhir, apa bedanya dengan mereka berada di kelas special, dengan ujian ini kita lihat sejauh mana kemampuan mereka, karena saya percaya mereka berhasil melakukannya!”tambah ketua OSIS
“baiklah, kalau begitu kita lihat hasil ujian kali ini, silahkan kalian kembali ke kelas!”ucap kepala sekolah dengan santainya
Begitu keluar dari ruangan, ternyata Petra sudah ada di depan ruangan dengan wajah sedikit terluka, ketua OSiS pun kembali ke kelas duluan, kayaknya Petra mendengar semuanya soalnya raut wajah nya berbeda, dHian pun langsung mencairkan suasana dan mengajaknya ke kelas dengan nada biasanya.
“Kenapa lo setuju dengan persyaratan mereka??akhirnya lo tunduk sama mereka juga bukan!!dengan menyetujui kesepakatan yang ga masuk akal ini!”ucap Petra
“Gw ga tunduk, gw Cuma ga mau kelas ini bubar, jadi kali ini awas kalo lo sampe ga masuk kelas lagi, gw buntutin lo sampe toilet juga gw ikut, ngerti lo,!!!”jawab dHian setngah bercanda
“Eits 1 lagi, jangan bilang persyaratan ini kepada siapapun, sekarang gw Cuma mau berusaha bareng dengan mereka, lo itu muka aja sangar tapi baru kena pukul sekali udah memar gthu, payah!!ayo ke kelas, cepet, go go go!”tambah dHian
“Lo juga selain badan lo yang gede, lo itu cerewtnya minta ampun, kuping gw aj sampe merah denger lo ngomong!”balas Petra
“sampe ujian nanti, siapin aja kuping lo, kalo lo kabur lagi, bukan Cuma kuping lo yang panas, tapi kepala lo juga bakal ge jitakin terus!!!”ucap dHian
“dasar cewek gila!!!”ejek Petra
“Biar gila daripada otak udang!!!!”balas dHian sambil menarik tangan Petra kembali ke kelas.
Di kelas semuanya cemberut kayak kerupuk bantet, sebelum dHian menjelaskan gurunya sudah menjelaskan terlebih dahulu tapi untungnya ga bilang soal pernyataan dHian, hanya bilang kelas akan dibubarkan kalo ujian semester nanti kelas mereka harus rata-rata masuk 200 besar. Mendengar berita itu anak-anak langsung ada yang setengah pingsan gthu, pusing ya macem-macemlah ekspresinya. Gurunya hanya menghela nafas begitu pun dengan dHian. Sepulang sekolah dia langsung ke tempat kerja karna ada lemburan, ujian sekitar 2 minggu lagi, setiap hari mereka belajar dengan rajin dan mereka bener-bener berusaha, karena mereka berpikir kalo kelas ini dibubarkan tidak aka nada lagi kekeluargaan seperti ini, meskipun pelajaran mereka membaik tapi hati mereka juga tidak akan sepenuh hati, ditambah tatapan mata orang-orang sombong, ditempat kerja pun, kebetulan rekan kerjanya baik semua, mereka juga pintar-pintar dan mengajri dHian di saat istirahat, kadang semuanya juga belajar bersama di rumah dHian, dHita atau dhania. Petra juga ikut ya meskipun seringnya dia ga pernah peduli . sehari sebelum ujian, mereka semua belajar dengan tekun dan secukupnya agar besok fit dan tenang, sekitar jam 5,bosnya dHian telepon, soalnya ada acra di kafe dan mereka kekurangan tenaga, setelah menyiapkan peralatan untuk besok, dHian pun datang ke kafe, tumben hari itu pengunjungnya rame (bagus sech soalnya kalo omset naik suka dapat tambahan).
Ga kerasa waktu udah sekitar jam 11 malem, pengunjung masih rame aja, pas istirahat dHian pun membaca sebentar, lalu bekerja lagi, tapi tiba-tibaterdengar suara jendela pecah karena dilempar batu oleh seseorang dari luar, sehingga membuat pengunjung kaget dan kabur. Ternyataitu adalah the begenx yang membuat keonaran, mereka menghancurkan semua peralatan kafe, sehingga beberapa pengunjung lari keluar, lalu para pegawai pun seperti biasa menghadapi mereka, dhian juga berjaga di belakang, beberapa kaca pecah, barang-barang hancur, gelas banyak yang dilempar sana-sini, saling tonjok, saling pukul, ya pokoknya berantem lakh, dHian juga sekali-kali ngehajar soalnya ngeindungi yang lain, ada anak kecil yangketakutan diem di bawah meja, dia Cuma nagis aja, karena terganggu dengan tangisnya ketua the Begenx ngambl meja untuk dilemparkan, dHian langsung menarik anak kecil itu, dan alhasil tubuhnya yang terkena hantaman meja, beberapa tendangan dan pukulan mengenai tubuhnya sampai dhian terkulai lemas, anak kecil it uterus menangis dan dhian terus melindunginya begitu pun dengan Micky rekan kerjanya, wajahnya juga terlihat sedikit memar,dHian Cuma menahan rasa sakitnya, sepertinya lengannya terluka karena pukulan keras dari ketua the begenx tadi.
Setelah membawa anak kecil tadi kedalam, dari arah belakang, pukulan cukup keras mengenai punggungnya dan badannya jatuh mengenai kaca meja. Ga lama polisi pun datang, dan tHe begenx pun ditangkap tapi ada beberapa yang berhasil melarikan diri. Kafe benar-benar kacau dan semua barang banyak yang hancur, dHian mencoba bangun tapi kepalanya berdarah dan dia pun pingsan. Keesokan harinya begitu dia sadar, dia sudah ada di rumah sakit, dan rekan-rekannya pun ada disana juga, teringat hari ini hari pertama ujian, dHian memaksakan diri untuk ke sekolah, bos dan rekan lainnya pun melarang karena lukanya masih parah, terutama lengan kirinya. Tapi dHian tetap memaksa, waktu sudah jam 6, dia pun berusaha bangun meskipu badannya sangat sakit,dia tetap memaksa, bosnya sudah menahan pun dhian masih keras kepala ingin mngikuti ujian ini, karena tidak ada ujian ulang/susulan untuk dirinya, jika hari ini dia tidak ikut, kemungkinan untuk bisa mempertahankan kelas makin sedikit. Bos dan rekannya terkejut dengan tatapan matanya yang benar-benar membuat orang terharu, (di lebay in dikit), setelah ke air, akir dHian pun diantar rekan kerjanya yang hanya terluka kecil dan bosnya, setelah mengganti pakaian di rumahnya, dia pun segera menuju ke sekolah. Teman-teman sekelasnya terlihat tidak tenang ditambah sudah jam 7 dHian belum datang, mereka bulak-balik liat ke gerbang tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan dhian, gurunya pun sedikit khawatir, karena mereka yakin dhian tidak mungkin kabur disaat seperti ini, jam setengah 8 ujian pun dimulai tapi dHian belum datang juga, karena tidak bisa menunggu lagi, mereka harus memulai tanpa dHian, sesekali mereka hanya memandang kursi dHian, gurunya pun terus menunggu di gerbang, sekitar jam 8 karena macet, dhian pun akhirnya datang, dengan wajah pucat karena menahan rasa sakit, dHian dibantu micky dan bosnya turun dari mobil. Wali kelasnya yang melihatnya langsung menghampiri dan terlihat sangat khawatir.
“Ya ampun, apa yang terjadi kenapa dia bisa seperti ini,!!!”Tanya Bu Cantika terlihat khawatir
“Nanti saja saya jelaskan, sekarang tolong ibu tunjukkan dimana kelasnya, dia memaksa ingin ikut ujian, meskipun kondisinya seperti ini!”jawab Bosnya
“Ada apa ini, siapa kalian dan kamu kenapa dHian??”Tanya wakil kepala sekolah
“Ijinkan saya mengikuti ujian ini pak, bu, saya mohon ijinkan saya ikut, waktunya tidak banyak!”jawab dHian (Siom pungge juseyo – please let me take the exam)(naleul siheom-e eungsi haejuseyo)
“Tapi bagaimana kamu bisa mengikuti ujian ini dengan kondisi seperti ini, lagipula ujian sudah dimulai 30 menit yang lalu!”balas wakil kepala sekolah
“Biarkan saya ikut ujian ini, saya hanya ingin mempertahankan kelas kami, meskipun waktunya sediit biarkan saya mencoba, jika kali ini saya tidak ikut, kemungkinan akan semakin kecil, saya mohon!!!”jawab dhian sambil menahan rasa sakitnnya
Setelah dipaksa dan didesak wali kelas, micky dan bosnya akhhirnya dhian diijinkan mengikutinya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk dikelas jadi dia mengerjakannya di UKS dengan diawasi 3 guru, termasuk wakil kepala sekolah. dHian terlihat sangat senang. Bu Cantika, Micky dan bosnya menunggu diluar, dan mereka pun menceritakan kenapa dHian bisa sampai seperti ini, dengan tangan gemetaran dhian berusaha mengerjakan soal” ujian, dengan waktu hanya 1 jam, dia benar-benar sangat berusaha, selain menahan rasa sakit, dia pun berusaha keras untuk tetap konsentrasi mengerjakan soal-soal ujian.
Pukul 9pelajaran pertama selesai, dhian pun menyelesaikannya meskipun tidak yakin dan dia berkeringat sangat banyak dan wajah pun pucat. Wali kelasnya pun membawakan the manis, lalu dhian meminta untuk tidak memberitahu yang lainnya kondisinya yang sekarang karena mereka pasti khawatir danga bbisa konsen dengan ujian ini, istirahat sebentar dan bu cantika pun ke kelas untuk menenangkan yang lain.
“Anak-anak kalian jangan khawatir hari ini dia tidak bisa hadir, tapi dia juga tetap mengikuti ujian ini dengan system online, kemarin dia disuruh wakil kepala sekolah untk mengerjakan di sekolah lain, jadi selama ujian ini, dia tidak akan datang ke sekolah, tadi dia kirim pesan kalian harus mengerjakan dengan baik, mengerti???”ucap Bu Cantika berusaha tersenyum
“Kenapa mendadak bu, dia juga tidak memberitahu kami,? ”Tanya dHita
“Uhm mungkin karena mendadak jadi tidak sempat memberitahu kalian, dia juga pesan jangan menghubunginya, karena jika kalian menghubunginya, dia pasti rindu kalian dan tida bisa konsentrasi, usai ujian dia akan kirim pesan jadi kalian kerjakan baik-baik soal ujiannya. Mengerti!!”jawab bu cantika
“Ne, songsaenim!!1”jawab anak-anak
Bu cantika pun segera keluar kelas karena takut ketahuan kalo bohong(secara paling ga bisa acting bohong).
“Aneh, pertama dia ga ngasih kabar ke kita, kedua ga mau kita hubungi, ketiga gerak gerik ibu sedikit mencurigakan, mana mungkin dia bisa lupa memberitahu kita!”ucap dHania
“benar juga, diantara kita dia yang ingatannya paling bagus”tambah dHITha
“Sudahlah, percaya saja padanya, kitapun harus berusaha agar kelas kita tidak dibubarkan.”ucap doni
Mereka pun akhirnya menerima apa yang dikatakan bu cantika dan mengerjakan ujian dengan baik. Sepulang sekolah dHIan pun menghubungi bu cantika sesuai janjinya, suaranya terdengar sedikit lemas mungkin karena lukanya itu, dia berusaha untuk bicara seperti biasanya dan ceria seperti biasanya. Dia pulang ketika semuanya sudah pulang dan dia datang ketika semuanya sudah masuk kelas. Agar mereka tidak curiga, dhian pun pulang kembali ke rumah sakit, untuk di periksa kembali, dia tidak bisa berpikir kalo di rumah sakit, selama seminggu itu, micky dan rekan lainnya seringdatang berkunjung dan membantunya belajar. Akhirnya ujian pun slesai, dHian menunggu semuanya pulang lalu keluar ruangan, karena sudah lumayan jadinya dia pulang sendiri dan Micy kembali bekerja, ketika keluar Petra sudah berada dihadapannya, dHian terkejut, dia hanya tersenyum karena ketahuan bohong(oooo … kamu ketuaan, ekh salah ketauan – lagunya MATA).
Petra juga kaget melihat kondisi dHian, dHian pun langsung pamit pulang karena bingung mau menjelaskan bagaimana pada nya dan teman-temannya yang lain. Petra pun membantunya turun tangga dengan wajah dinginnya, begitu mendengar suara dhania dan ditha, dhian langsung menarik petra untuk bersembunyi di bawah tangga,karena dia ga ingin mereka melihat kondisinya sekarang. Setelah yakin mereka pergi, baru dhian keluar, pas lagi jalan di parkiran tiba-tiba dia melihat Micky berlari dengan luka diwajahnya, dia menyuruh dHian untuk bersembunyi, rekan kerja yang lain sudah aman, ada kemungkina anggota the begenx lainnya bakal nyari dHIAn.
“Oppa,gwaenchana??waeyo??”Tanya dhian
“mereka datang lagi dan menghancurkan seisi kafe, lo harus hati” kita tkutnya mereka nyari lo, syukurlah lo gpp, yg lain udah aman!!”jawab Micky
“argh sial,mereka datang, lo bawa dHian pergi, kondisinya bisa semakin parah kalo dia tetap disini.”tambah Micky
“Siapa mereka???”Tanya petra
“Mereka yang membuat dHIan seperti ini, cepat lo bawa dia!”jawab Micky
Tapi dari arah belakang bbbbuuuuugggghhhh, pukulan lumayan keras mengenai punggung dHIan dan menghempaskannya ke dinding sampai dia pingsan, PETRA yang melihatnya reflex langsung menghajar mereka, MICKY pun berusaha melindungi dHIan. Ga lama satpam pun datang dan membantu PETRA, mereka pun ada yg KO tetep aja ada yg masih kabur. PETRA dan MICKY pun langsung membawa Dhian Ke rumah sakit karena kepalanya ikut berdarah takut terjadi sesuatu. Petra pun menghubungi gurunya karena bingung harus berbuat apa. Ga lama bu cantika pun datang tapi dHian masih diperiksa, Micky pun menceritakan kejadiannya, dan itu buan kesalahan dHian ataupun Petra. Dokter pun keluar setelah memeriksa dHian, ada sedikit kerentakan di lengannya dan lebih baik dioperasi saja agar keretakannya tidak membesar. Wali kelasnya terlihat sangat khawatir, dia pun langsung menghubungi orangtuanya, tapi tidak ada jawaban baik dari ibunya ataupun ayahnya,bu cantika pun langsung memberitahu dhania dan dHita karena mereka yang terdekat dan siapa tahu mereka bisa menghubungi orang tua dHian. Dhania dan dHita yang langsung mendengar kabar itu langsung ke rumah sakit kebetulan dhoni pun ada bersama dengan mereka. Rekan kerjanya pun datang bersama bosnya dengan wajah sedikit memar, dHania dan dHita berusaha menahan airmatanya begitu melihat kondisi dHian.
“apa kalian punya nomor orangtuanya dHian, nomr yang ibu punya tidak ada jawaban,karena menurut dokter dia harus dioperasi!” ucap bu cantika
“mereka tidak akan menerima panggilan kita, dHian pernah bilang, jika berhubungan dengan dirinya, mereka tidak peduli, jadi lebih baik tidak usah menghubungi mereka!”jawab dHita
“kalau begitu lakukan saja yang terbaik dok, jika memang perlu dioperasi lakukan saja, lebih cepat lebih baik!”ucap Petra
“baiklah, kami akan melakukan yang terbaik!”jawab dokter
Mereka pun menunggu operasi,sekitar 1 jam operasi berjalan, mereka menunggu dengan rasa khawatir, akhirnya operasi selesai dan lancer, dHian masih belum sadarkan diri, dia pindahkan ke ruang VIP, sekitar 2 hari dHian ga sadarkan diri, mereka pun gentian berjaga, dOni dan Petra sering jaga malam, kadang bosnya dan Micky pun ikut menunggu. Dan akhirnya semua anggota the begenx yg berhasil melarikan diri bisa tertangkap di markasnya sendiri sekitar jam 10 malam. Begitu dHian sadar, semuanya senang terutama kedua sahabatnya, mereka langsung memeluk dHian. Karena habis operasi jadi sakitnya masih terasa. Makin hari, kondisi dHian makin membaik,tiap pagi pokoknya dHian menyuruh mereka ke sekolah, setela pulang sekolah baru terserah. Mereka pun mengerti maksudnya. Pengumuman hasil ujian akan ditempel seminggu setelah ujian. Sepulang dari RS, dHania benear-bener udah ga tahan dengan perkelahian orangtuanya itu, diapun membentak mereka, dan mengungkapkan semua perasaannya.
“Cukuuuuuuupppppppp, apa kalian tidak bosan bertengkar seperti ini, daripada bertengkar sperti ini terus sebaiknya kalian bercerai saja, dHania cape mendengar perkelahian kalian!”teriak dHania
“dasar anak kurang ajar, berani sekali kamu membentak orang tuamu, ini semua kesalahan kamu, yang terlalu memanjakan dia, akhirnya kayak gni ngelunjak, sekolah ga bener, kerja kamu itu apa aja sech!”ucap ayahnya
“kenapa aku yang disalahkan, ini juga kesalahan kamu, yang selalu sibuk dengan urusan kamu!”balas ibunya
“cukup!!!”teriak dhania sambil membantingkan vas kesayangan ayah dan ibu mereka lalu kembali ke kamarnya
Dia mengunci kamarnya dan menangis, hari itu dHita tidak bisa dihubungi karena dia terpaksa harus ikut acara keluarganya sehari di rumah tantenya. Pikirannya kacau, orangtuanya masih saja berantem, malah sekarang ngeributin vas yang tadi dijatuhin dHania. Dia diem dikamar mandi sambil menyalakan showernya. Dia berpikir sejenak sambil memegang sebuah cutter (pisau mah terlalu serem).
Sambil memejamkan matanya, dia pun mengiris perlahan-lahan pergelangan tangannya, sambil menahan sakit, setelah keluar darah dia hanya memejamkan matanya sambil tiduran di dalam bath tub. Ga ada orang yang tau apa yang dhania lakukan karena mereka ga peduli, setelah cape berantem, orangtuanya kembali ke kamar masing-masing, satupun dari mereka ga ada yang mengecek kamar dhania, sampe sekitar jam 12 malam, tiba-tiba detak jantung dHian melemah terus kayak orang yang kehabisan oksigen, Petra dan Micky panik dan segera memanggil dokter, sementara dHita, dia seperti orang asing yang sedang menghadiri sebuah acara, dia hanya bermain dengan keponakan-keponakannya, menghubungi dHania tidak ada jawaban, lalu tiba-tiba dia ingin segera pulang, tapi karena sudah malam terpaksa dia harus mnunggu besok. Untungnya Bi Asih datang melihat kamar dHania karena lampunya masih gelap, tapi tidak ada jawaban, lalu dia pun membangunkan orangtuanya tapi malah dimarahi, karena bingung dia pun membangunkan Pak Amin dan mencari kunci cadangan kamar dHania, begitu lampu dinyalakan, kamarnya berantakan dan terdengar suara air yang mengalir di kamar mandi, diketuk pun dHania tidak menjawab, Bi Asih pun membukanya, dan mereka berdua sangat terkejut, melihat dHania yang tidur di bath tub dengan darah mengalir di pergelangan tangannya, Bi Asih pun langsung membangunkan orangtuanya dan PakAmin langsung mengangkatnya, orangtuanya pun ikutan panic,mereka segera membawanya ke RS, bibirnya mulai menjadi keunguan, badannya dingin, dan wajahnya pucat, orangtuanya makin cemas, begitu sampai di UGD, mereka semua menunggu dengan cemas, Bi Asih menunggu dirumah, dHita merasa benar-benar ga tenang, lalu dia menghubungi dOni tidak diangkat, menghubungi Petra tidak aktif, begitu menghubungi dHania, Bi Asih yang ada di kamarnya terkejut dengan nada deringnya, begitu melihat nama yg tertera, Bi Asih pun mengangkatnya, dHita bingung dan Bi Asih pun menceritakan apa yang terjadi pada dHania. dHita makin ga tenang, dia terus mencoba mnghubungi Petra dan Doni tapi tetap tidak bisa dihubungi, setelah memaksa pada orangtuanya dan meminta ijin pada keluarga tantenya, dHita pun sgera kembali diantar supir tante, karena kurang lebih perjalanannya sekitar 3 jam. dHian juga masih melemah dan sedang diperiksa dokter, Micky dan Petra terlihat khawatir dan Bu Cantika yang mendengar kabar itu langsung menuju RS dan menunggu bersama Micky dan Petra, ketikasedang menunggu, Bu Cantika mengenali orangtua dhania dan menghampirinya, mereka bertiga pun ikut terkejut mendengar dHania berusaha bunuh diri, padahal siangnya sepulang dari RS, dia terlihat baik-baik saja. Karena mungkin terlalu lama, kondisi dHania pun kritis untungnya nadinya ga sampe putus. Karena itu, dHania langsung dipindahkan ke ruang ICU. dHian pun sudah normal kembali meskipun masih melemah. Sekitar jam 6 pagi, setelah ganti baju, dia langsung ke RS dan menemui orangtuanya dHania.
“Om, tante gmana keadaan dHania??”Tanya dHita
“dia lagi di ruang ICU, gtw apa yg ada dipikirannya, sampe dia mlakukan hal seperti ini, ini smua salah kamu pah, kemarin kamu memarahinya, makanya dia bisa berbuat seperti ini sekarang apa yang harus kita lakukan!”jawab ibunya
“Kamu itu selalu memanjakannya, makanya dia bisa seperti ini, sudahlakh, aku pulang duluan, nanti aku kembali lagi, hari ini kamu yang jaga, ada rapat penting yang tidak bisa aku tinggalkan, kalo ada perkembangan hubungi aku saja!”ucap ayahnya sambil meninggalkan mereka
“Bagaimana mungkin kamu bisa rapat dengan kondisi anak kita sperti ini, kamu ini memang keterlaluan, sudahlakh kalo mau pergi pergi saja!”balas ibunya
(Lho kok malah rebut lagi ……. Udah tau di RS masih aja simpet berantem)
Ga lama doni pun datang, kebetulan hari itu hari minggu jadi bisa menjaga dHian dari pagi. Begitu melihat doni, dHita langsung menjitak kepalanya karena tidak mengangkat teleponnya.
“Ya, lo itu kemaren kemana aja sech, gw telp beberapa kali,ga diangkat juga, lo juga disaat kayak gini, HP lo malah ga aktif, gw bener-bener khawatir semaleman nunggu kabar dari kalian!”ucap dHita sambil menjitak kepala doni
“Mian ne, kemarin pulang dari RS gw bantu” temen gw, dan malam itu gtw kenapa tidur gw pules bgtz dan gw lupa hp’a di silent makanya ga diangkat, terus sekarang gimana keadaaan merka berdua?”jawab doni
“dHania kritis skarang ada di ruang ICU, kalo dHian semalm kondisinya menurun dan sekarang meskipu sudah normal tapi masih melemah. Kenapa mereka sperti ini,!”balas dHita
“Sabar ya, kita berdoa saja semoga mereka cepat sembuh!!!”ucap doni
“Sebaiknya kalian pulang dulu saja, biar kami yang menjaga mereka, kalian tidak tidur semalam bukan, istirahatlah, nanti siang atau sore kalan baru kembali lagi!”ucap Bu Cantika
“Tidak apa-apa, kebetulan hari ini bos kami akan datang, saya akan pulang setelah mereka datang!”jawab Micky
“Lalu kamu Petra sudah menghubungi orang rumah, kamu ada di sini, nanti orang tuamu khawatir, sebaiknya kamu pulang dulu!”ucap Bu Cantika
“Baiklah,!”jawab Petra dengan wajah masih khawatir
Mereka pun setelah melihat kondisi dHian langsung gantian ke ruang ICU melihat kondisi dHania, wajahnya masih terlihat pucat dengan bantuan alat pernafasan. Sekitar jam 10 siang, ibunya pamit pulang, karena dHania pun belum sadarkan diri, dan Bi Asih yang gentian menjaga dHania, Bi Asih pun menceritakan kalo di rumah majikannya selalu bertengkar dan dhania selalu mengurung diri di kamarnya, sampai tadi malam, dHania bertengkar dengan majikannya dan malam harinya begitu di cek kamarnya dhania sudah dalam kondisi seperti itu. dHita dan Bu Cantika tanpa sadar meneteskan airmata. Doni membantu menenangkan dHita yang mulai ga bisa menghentikan tangisnya. Bos dan rekannya pun datang menjenguk dan Micky pun pamit pulang karena hari ini dia dapat shift siang kerja, meskipun karena kejadian kemarin, kafe harus tetap buka setelah beberapa hari libur karena mereka harus membereskan isi kafe. begitu sampe rumah, ternyata orangtua Petra sudah ada di ruang tamu menunggu kedatangannya, mereka khawatir tapi tanpa sepatah kata dia langsung ke kamarnya. Jelas orangtuanya merasa aneh, lalu ibunya menyusul ke kamarnya dan Petra hanya bilang dia menunggu temannya di RS, lalu dia ke kamar mandi.
Ibunya pun langsung ke luar kamar dan menyiapkan makanan untuk anaknya karena semalam tidak pulang, stelah mandi dia pun makan dan lalu tidur. Orangtuanya juga ga tega membangunkannya jadi mereka pun meninggalkannya dan berangkat kerja. Di dalam hatinya dia mulai berpikir kenapa demi orang lain mereka mau brsusah payah, melihat Doni yang berkelahi karena anak yang lain mengejek temannya, demi mempertahankan kelas, rela ujian dengan kondisi terluka parah, karena mau menolong oranglain udah terluka para masih saja rela terluka untuk orang lain, apa mereka itu sebegitu bodohnya, belum tentu orang yang mereka tolong bisa sepeduli mereka. Seharian dia memikirkan itu tapi belum menemukan jawaban yang bisa memuaskan hatinya. Malam itu dia tidak ke RS. Keesokan harinya, Petra kembali ke aktivitas sebelumnya, bolos pelajaran lagi, dHita dan Doni terlihat sangat tidak smangat, meskipun begitu Bu Cantika tetap berusaha sambil menunggu hasil pengumuman ujian. Anak-anak yang lain deg-deg an dengan hasil kerja merka, tapi dHita, dOni, dan Petra tidak ada semangat untuk memikirkan hasil ujian. Anak-anak yang lain hanya menertawakan kelas dHita cs. Tapi mereka juga ga ada waktu untuk bertengkar dengan mereka, teman-teman skelasnya sengaja tidak diberitahu karena takut mereka khawatir berlebihan terutama apabila mendengar dHian yang merupakan harapan terbesar mereka sedang di RS tidak sadarkan diri. Akhirnya dHian pun sadarkan diri meskipun masih setengah sadar tapi dia hanya menyebutkan nama oppa dan Petratapi tidak begitu jelas. Dokter pun langsung menghubungi bu Cantika, dHita dan doni yang mendengar berita itu langsung pergi dengan bu cantika ke RS,mereka berdua juga memberitahu Petra, bagaimanapun dia juga udah ikut menjaga dHian. Micky dan bosnya pun datang merka sangat senang dhian telah sadar. Ternyata Petra juga datang menyusul.
“daritadi dia hanya menyebut oppa dan sepertinya petra!”ucap dokter
“dHi, gw disini, lo denger gw, dia juga ada di sini, kita baik-baik aja!”ucap Micky yang mengerti maksud dokter.
dHian mencoba membuka matanya perlahan meskipun sedikit skit begitu dia melihat Micky dan Petra dari kejauhan, dia hanya tersenyum. Petra hanya terkejut melihat ekspresinya. Yang lainnya pun tersenyum karena senang dia sudah sadar.
“Syukurlah!”ucap dHian tersenyum
“mian ne, jeongmal mian ne!”jawab Micky
“gwaenchana oppa, hari ini lo pasti kabur lagi ya??”Tanya dHian tersenyum
“ne??”jawab Petra kaget
“Dasar, kalo gw udah sembuh, gw pasti buat perhitungan dengan lo, kalo lo sampe kabur lagi!”balas dHian bercanda
“sudah-sudah kamu harus banyak istirahat, lukamu juga belum sembuh benar, arraseo!”ucap Bu Cantika
“ne, algesumnika songsaenim!”balas dHian
“eodiseo?dHania?”tanyanya
“dia, dia, adadi ruang ICU, dia mencoba bunuh diri, mian, gw ga bisa jaga dia!”jawab dHita
“mwo?gwaenchana, belum sadarkah?”tanyanya lagi
“ne.”jawabnya
Karena kondisinya yang belum memungkinkan makanya dia ga bisa ke ruang ICU untuk melihat dHania. Mereka pun melihat kondisi dHania, dan dHania pun mulai menggerak-gerakkan jari-jarinya tapi matanya masih terpejam, dokterpun memeriksanya, sedikit demi sedikit dia menoba membuka matanya, setelah nnormal dokter pun keluar dan mereka langsung melihatnya. Sekitar 2-3 hari dia masih harus dirawat di ruang ICu setelah itu baru dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap tentunya VIP donk.
“Mian hamnida songsaenim!”ucap dHania masih terdengar lemas
“Gwaenchana, yang penting kamu harus ingat jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, dan cepat sembuh!”jawab Bu Cantika
“Akh bibeh, bogosiposeo!!!soulmate-soulmate gw pada di RS, gw kesepian, lo harus cepet sembuh ok!! ”sela dHita
“Ne, mian!!gomawo doni-ya lo udah nemenin soulmate gw ini!”jawab dHania
“cheonmaneyo!!”balas Doni
“dHian gimana??”tanyanya
“dia masih lemas tapi tadi dia baru sadar, akh senangnya kalian berdua sadar berbarengan!!baiklah lo istirahat aja, kita ada diluar kalo ada apa” lo tinggal pijit nie tombol ok!!”jawab dHita
dHania hanya mengangguk dan mereka pun mnunggu di luar, sampehari pengumuman pu n tiba,tapi dHian dan dHania masih harus dirawat di RS. Begitu tertampang di papan pengumuman,smua anak-anak bergerombol untuk melihat siapa yang palng ungguk, dHita cs juga ga mau kalah dengan yang lain, dia dan yang lainnya ikut menyusup dan terlihatlah hasilnya, mereka benar-benar terkjut selain melihat Petra yg sudah ada di depan, dan melihat hasilnya …………. Terereng . .. terereng ….
“omo,peringkat 9 dHiana Putri Cantika, peringkat 10 Petra Nugraha Saputra Syahrizal, Peringkat 19 dHania Maharani, peringkat 20 doni pramudia herlambang, peringkat 21 Mahardhita Mega Tri Cahyani , peringkat 35 Angga Putra, Peringkat 37 dHani Rizki, peringkat 60 Mega, peringkat 63 Zamiludin Yahya, peringkat 89 Erika Pertiwi, peringkat 100 Muhamad Firmansyah, peringkat 120 Lucky Permana, peringkat 123 Tantra Budiman, peringkat 125 Nadia,peringkat 129 Ilham, peringkat 133 Yusrizal, peringkat 133 Anna, peringkat 134 Luthfia, peringkat 150 Noviandari, peringkat 153 Exel, peringkat 162 Idham, peringkat 165 Saskia,peringkat 168 Zaskia, pertingkat 174 Intan, peringkat 181 bILQIs, peringkat 188 Andre, peringkat 189 Steven, peringkat 190 Kiki, peringkat 194 Ridwan, peringkat 197 Amelia dan peringkat 200 Restu, ini bukan mimpi bukan khan,itu berartikita lulus!”rinci dHita
“yyaaaaaaaaaaaaaaaa,kitalllllluuuuuuuuuuuuuuullllllllllllllllllllllluuuuuuuuuuuuuuuusssssssssssssssssss, hhhhhhooooooooooooorrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeee!”teriak doni
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”teriak yg lainnya juga
Mereka semua teriak kesenangan sampe gtw apa yg mau diomongin, semua anak-ank langsung melihat mereka karena teriakan mereka yang cukup keras, saking senangnyasampe mereka keluar air mata karena mereka ga nyangka bisa mendapat peringkat seperti ini, ketua OSIS mereka ikut tertawa melihat mereka.dari kelas 1 mereka selalu di peringkat terakhir dari 350 siswa dan selaluterlibat masalah,sampe baru kali ini mereka bisa meraih peringkat di 200 besar. Kemajuan yang pesat. dHita pun langsung menghubungi guru mereka yang menunggu di RS bersama dHian dan dHania. Karena keceplosan akhirnya dHita pun menceritakan kalo dHian dan dHania ada diRS, setelah merekam hasil pengumuman, mereka semualangsung pergi ke RS bersama-sama. Begitu melihat kondisi mereka berdua, yang lain terlihat sedih dan khawatir,tapi untungnya kondisi mereka mulai membaik jadi tinggal beberapa hari lagi mereka sudah boleh pulang. Karena kondisi dHian yang lebih baik jadi semuanyaberkumpul di kamar dHania dengan dibantu dHita dan doni, kebetulan Micky sedang kerja jadi ga bisa menemani. Mereka lalu memperlihatkan hasil pengumumannya, mereka berdua pun terkejut melihatnya, Bu Cantika pun langsung memeluk dHIan, anak-anak juga malah jadi pada nangis, dHian sendiri bingung dia hanya diam.
“Gomawo, dHiana!!”ucap dHita sambil memeluknya
“Jeongmal Gomawo dHiana!!”tambah yg lainnya
“Usaha kalian patut diacungi jempol, ibu benar-benar bangga pada kalian, kalian semua hebat!”jawab Bu Cantika sambil cap jempol ke anak”
“Kalau begitu, stelah kalian berdua sembuh total, kita semua liburan bagaimana sebelum menghadapi semester kedua???”tambah Bu Cantika
“Oediseo songsaenim??”Tanya merka
“Setelah mereka berdua sembuh, ibu akan memberitahu kalian, baiklah, hari ini biarkan merka istirahat, sebaiknya kalian pulang untuk istirahat, arraseo!”jawab Bu Cantika
“Ne, algesumnika songsaenim!”jawab mereka
“Dhian, dHania, cepet sembuh ya!”tambh mereka sambil keluar ruangan
Terkecuali dHita, doni dan petra yang lainnya pulang terlebih dahulu, termasukBu Cantika karena dia masih ada urusan di sekolah, dHian pun kembali ke kamarnya dibantu yang lain dan dHania pun istirahat karena dia terlihat masih lemas.
“Waeyo???lo ga seneng dHi?”Tanya doni
“Anieyo, ”gw Cuma ga percaya dengan yg gw liat!badan gw tiba-tiba lemes ngedenger berita ini!”jawab dHian
“Gwaenchana?”Tanya Doni
“Ne, gomawo!”jawab dHian
“Ujima babe, harusnya lo khan seneng tujuan lo berhasil dan kita masih bisa sama-sama lagi, dan yang paling utama lo ga di DO, gomawo, chukhae!!!”ucap dHian
“Ne, majayo, dang w juga terkejut, dia juga bisa masuk 10 besar secara dia sering kabur, lo kasih tau donk caranya?”Tanya doni
“aish, lo itu muji atau ngejek, nada lo sinis gthu!”jawab Petra dengan santainya
“oia, selama gw ga ada, lo masih sering kabur khan??”sela dHian
“eh, majayo, beberapa hari lo ga ada rasanya bebas dikit,ga adabuntut yang selalu ngikutin gw!”jawab Petra
“Ya, kalo gw udah sembuh, lo masih ada urusan dengan gw, awas ya kalo lo kabur!!!”ucap dHian
“sebaiknya lo minta maaf jangan sampe buat amarahnya naik, nyari mati ya!!”bisik dHita dan doni
“kalian ini sedang bisikan apa sch??”Tanya dHian
“aaaa,, aa,ani!!!lo lebih baik istirahat ok!”jawab dHita dan doni barengan
“kalian ini aneh!!”ucap dHian
Setelah dhian dan dhania tertidur mereka pun pulang. 1 minggu kemudian, dHian dan dHania sudah sembuh total dan Bu Cantika mengajak mereka menginap di suatu tempat, selama perjalanan mereka semua heboh, udaranya juga seger, dHania dan dHita duduk sebangku dan dHian dan Petra, itu sengaJa diatur oleh dhania dan dhita juga doni. Sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di sebuah penginapan dengan ga jauh dari penginapan tersebut terlihat pemandangan pantai yang bagus terutama pas sunset terlihat jelas, kamarnya pun sudah di setting, yang lain sekamar berdua kecuali dHian, dHania dan dHita, mereka ada di lantai 3 dengan 3 tempat tidur. Setelah membereskan barang-barang mereka, 30 menit kemudian semuanya berkumpul untu makan siang, selesai makan siang tentunya beres-bers dulu, baru mereka keliling daerah itu, mereka akan tinggal selama 3 hari 2 malam, hari pertama keliling sekalian kunjungan ke beberapa sekolah, ternyata ga sengaja mereka melewati sekolah dHian dulu, karena sejak kecil dia selalu dikucilkan makanya dia ga pernah punya teman dan selalu terpojok sampe ada seseorang waktu kelas 5 SD yang menolongnya, yaitu kakak kelasnya. Tiap kali terpojok, dia selalu ada, makanya waktu kelas 6 setelah kakak kelasnya dia jadi berani dan efeknya sampe sekarang pun ada, yaitu tukang berantem, makanya selain sering dipanggil ke BP, dia juga dijauhi temen-temen yang lain, kenangan tidak menyenangkan sewaktu kecil. Setelah keliling melihat-lihat beberapa sekolah, mereka pun kembali ke penginapan untuk menyiapkan acara api unggun nanti malam, beberapa anak cowok nyari kayu, terus ada yang menyiapkan tempat acara dan sisanya nyiapin makanan untuk cemilan. Seru juga, kebetulan malam itu langitnya banyak bintang, mereka semua nyanyi bareng, pokoknya gokil-gokilan bareng dech, Bu Cantika jugaikutan. Mereka juga cerita tentang ujian sebelumnya, selain ga nyangka, mereka juga jadi lebih termotivasi. Hari itu semuanya tertawa bersama, mereka melupakan sejenak pelajaran dan mereka habiskan untuk hiburan selama 3 hari ini. Sekitar jam 1 malam, semuanya pun masuk ke kamar masing-masing setelah membereskan kayu-kayu habis api unggun. Besok mereka akan bermain sepuasnya di pantai, jadi mereka menyiapkan diri dan langsung tidur, dHian ga bisa tidur, jadinya dia diam di atas pavilion depan kamarnya, dia teringat sewaktu kecil kaloga bbisa tidur dia selalu diam di pavilion melihat bintang di langit sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Ternyata Petra juga kayaknya ga bsa tidur, dHian melihatnya sedang duduk di pavilion kamarnya, lalu dia pun iseng sms dan akhirnya berlanjut.
“Liat ke sebelah kanan lo!!!!!”
Setelah membaca sms itu dia pun menoleh dan melihat dHian yang melambaikan tangannya (nyapa maksudnya). Petra pun membalas smsnya .
“Ngapain lo, malem-malem diem di luar???”
Dhian pun membalas .
“Lo juga ngapain diem di luar, 3 hari ini gw bebasin dulu lo, terserah mau ngapain gw ga akan jadi buntut lo, hahahhaa.”
“Ish, dasar monyet, kerjaannya ngekor mulu.!”
“enak aja nyebut gw monyet, kalo gthu lo juga saudaranya monyet, abisnya lo itu kalo kaburr pasti aja pake acara manjat, apalagi kalo bukan monyet juga, weeeeekkkk!!”
“Terserah lo dech, ga ada abisnya debat sama lo, dasar monyet!!”
“Biarin aja dasar ongki!!!!”
Mereka pun berlanjut sms-an’a sambil nahan ketawa supaya ga kedenger yang lainnya, ga kerasa sampe jam 3 mereka sms-an, mereka pun mengakhirinya dan kembli mencoba tidur. Pagi-paginya dHian udah keluar jalan-jalan melihat rumah yang dulu dia tempati seorang diri. Anak-anak pun pada bangun jam 7, mereka gentian ke kamar mandi, setelah itu mereka pun sarapan. dHania dan dHita baru menyadari kalo dHian ga ada.
“ekh ada yang liat dHian ga, kemana sech tu anak-anak pagi-pagi gini udah menghilang segala?”Tanya dHita
“Tau, tu anak pagi-pagi dah ngilang aja, telp juga ga di angkat,kemana sech, tumben banget!!!”tambah dhania
“akh gw baru inget, ini khan tempat kecil dia dulu, apa dia lagi jalan-jalan ke rumahnya yang dulu ya!!!”ucap dHita
“Bener juga, kenapa gw bisa lupa ya!gw udah kirim sms mungin dia lagi keliling dulu, meskipun dia udah lama ga ke sini, dia mana mungkin lupa jalan kembali khan!!!diantara kita dia yang paling bagus ingatannya, makanya hal seburuk apapun dia masih ingat!!”jawab dHania
Mereka pun membiarkannya dan sarapan bersama yang lainnya setelah salah satu pengurusnya menyampaikan pesan dHian untuk sarapan duluan karena dia ingin jalan-jalan dan sudah sarapan lebih dulu. Ga lama dhian pun membalas sms dHania.
“Mian, gw keluar ga bilang”, gw jalan-jalan sebentar, gw udah sarapan kalian jangan khawatir!!”
“ne, tapi jangan lama-lama setelah sarapan kita mau pada siap-siap ke pantai, kalo semuanya udah selesai sarapan gw sms lagi!”
“ok, 15 menit lagi gw nyampe ke penginapan!!!”
Mereka pun melanjutkan sarapannya, setelah selesai seperti biasa mereka membersihkannya dan siap-siap untuk ke pantai. Dan 15 menit kemudian dHian udah ada di kamar dan mengambil barang-barang yang dibutuhkan, ga lupa mereka pun membawa makanan untuk makan siang. Sekitar 15 menit mereka sampai dipantai, begitu sampai mereka langsung berhamburan ke pantai main air, sebagian ada yang masih bermain pasir saja. Barang-barang dirapihkan, lalu semuanya mulai bermain, saat itu di pantai masih belum terlalu rame soalnya baru jam 8 lebih, macem-macem lah yang mereka kerjakan, dHian, dHania dan dHita sudah merencanakan untuk menerjai Petra, dan ernyata mereka malah jadi keasyikan untuk bermain bersama dan Petra pun sepertinya sangat senang dengan permainan bersama mereka. Bu Cantika yang melihatnya sangat senang karena usahanya dan saran orang tuanya untuk datang kemari tidak sia-sia. Mereka semua menikmati liburan mereka itu. Sampai lupa makan siang, setelah makan siang pun mereka masih asyik untuk main di pantai, ya maklumlah ini khan hari terakhir liburan karena besook pagi mereka akan kembali ke rutinitas awal sebelum maasuk ke semester genap yang artinya mereka harus lebih giat belajar karena ini penentuan mereka apakah lulus atau tidak.
“Akh udah lama kita ga sehave fun ini, hari ini kita puasin mainnya karena besok kesibukan baru akan dimulai!!!!”ucap dHian
“bener juga, akh ga kerasa bentar lagi udah masuk skul lagi!!”jawab doni
“kenapa harus mikirin yang masih jauh, kita nikmatin aja liburan kali ini, liburan kali ini lebih menyenangkan dibandingkan pergi liburan ke paris!!!!”tambah dHania
“Setuju!!!!”balas dHita
“gomawo, jeongmal gomawo!!1!”ucap Petra sambil tersenyum
Untuk pertama kalinya mereka mendengar Petra mengucapkan terima kasih, meereka semua langsung bangun dan memandang wajah Petra, Petra yang bingung dengan sikap temannya itu pun ikutan bangun, lalu dalam hitungan 3, dHian, dhania, dHita dan Doni langsung memeluk Petra dengan erat (uhm kayak teletabis aja berpelukan,,hahhaha). Begitu brhasil melepaskan pelukan mereka,Petra langsung berdiri dan kembali pada sikapnya yang cuek, anak-anak pun langsung tertawa melihat tingkahnya itu dan mengejar Petra yang melarikan diri dari mereka berempat. Setelah merasa lelah, mereka kembali ke penginapan, tapi mereka berlima masih ingin berada di pantai. Sementara yang lain kembali ke penginapan mereka masih asyik untuk bermain pasir dan berenang di pantai sampai sore hari. sesampainya di penginapan, mereka langsung membersihkan badan mereka dan makan malam bersama. Beberapa anak ada yang langsung tertidur mungkin karena saking cappeknya bermain di pantai.
“dHi lo mau kemana, udah malem gini???”Tanya dHita
“gw mau ke depan sebentar, kalian kalo mau tidur, duluan aja, ok!!!”jawab dHian
“Jangan lama-lama ya!!!!”tambah dHania
“OK!!!!”balas dHian
Pas lagi asyik mandangin langit di kursi taman, Petra datang dan duduk di sebelahnya, dHian hanya tersenyum dan memandangi kembali bintang-bintang di langit. Petra sendiri teringat masa kecilnya, setiap malam, dia dan temen kecilnya itu selalu memandangi bintang di langit.bercerita tentang kegiatan yang mereka lakuin. Sesekali mereka pun tertawa mendengar cerita masng-masing. Petra benar-benar berterima kasih, karena sudah lama dia ga pernah mersakan sebebas tadi dan sesenang tadi. dHian tersenyum dan dia pun senang Petra tertawa lepas dan kepribadiannya yang menyebalkan itu terbawa arus pantai untuk hari ini. Karena terasa makin dingin mereka pun kembali ke dalam dan mencoba untuk tidur. dHian lagi-lagi ga bisa tidur meskipun udah cape tapi tetep ga bisa, lalu dia pun iseng sms Petra dan kebetulan dia juga masih belum tidur. (Kira” gini smsnya)
“Ya, lo itu mau tidur jam berapa, udah hampir jam 2, dasar aneh!!”(P)
“Biarin aja weeeekkkk,^_*!!!gw ga bisa tidur lagi, uhm gw ga bisa lupa dengan masa lalu gw!!!” (D)
”bukan Cuma dari penampilannya aja yg aneh, tapi pemikiran lo juga aneh!”
“Kurang ajar, biarin aja yang penting enjoy!!!!”
“Uhm karena hari ini kalian udah buat gw ketawa, sebagai gantinya gw bakal bantu lo untuk tdur!pasang headset hp lo,udah????”
“mau ngapain lo, aneh-aneh aja, masa bantu gw tidur dengan nyuruh masang headset,dasar aneh!!”
“bawel, udah belum!!!!”
“udah!!!!cerewt!!”
Lalu Petra pun menelpon dHian, dHian pun langsung mengangkatnya, ternyata Petra mau menyanyikan sebuah lagu untuknya.
“ikh dasar aneh, kirain mau ngapain!!!!”ucap dHian
“udah jangan bawel, sekarang lo cukup pejeminmatalo, terus lo dengerin gw baik-baik, ya meskipun ga bagus tapi yang penting usaha!!”jawab Petra
Petra pun langsung menyantikan sebuah lagu, lagu itu membuat hati dHian tenang,dia memejamkan matanya dan lagu itu kayak obat bius, yang sekali ditusuk langsung tidur, sama dengan lagu ini, sekali denger langsing ngantuk. 15 meint kemudian dHian pun sudah terlelap dan Petra mematikan hpnya dan langsung tidur. Keesokan harinya mereka bersiap untuk pulang.setelah sarapan pagi, mereka menunggu bis jemputannya sekitar jam 9, bispun datang, so mereka pun langsung pamitan pada penghuni penginapan dan memasukan barang-barang mereka ke dalam bis. Karena ketiduran kayaknya Petra bakal ngamuk nie, dia pun langsung duduk di sebelah Petra dan langsung minta maaf karena ketiduran. Petra seperti biasa cuek.
“Mian ne Petra,ok”, jeongmal mian ne!!!tapi emang tokcer caranya!!gomawo!”ucap dHian
“Suara gw sampe mau serak gara” lo tw!!!”ucap Petra
“Mian ne, kalo gthu nanti gw traktir es krim ok!!!sepuasnya dech, ok!!!jangan ngamberk donk, gw jadi takut!!1”jawab dHian
“Biar sekalian gw makan aja, badan lo soalny daging semua, bisa cukup untuk 1 RW dech!!”alas Petra
“Ya, pengen dihajar ya!!!jangan marah lagi ya, ntar kapan” kalo gw ga bisa tidur, gw hubungi lo lagi aja ya!!!lagu itu kayakny pernah gw denger tapi gw lupa!”ucap dHian
“ogah, suara gw bisa rusak kalo terus nyanyi untuk lo!!!”jawab Petra
Dari kursi lain dHania cs hanya bingung ..
“Kenapa dengan mereka berantem lagi apa ya!!!???”Tanya dHita
“Tau, padahal kemaren masih baik-baik aja akh, malah mereka keliatan seneng banget.”jawab dHania
“semalem juga kayaknya ga ada kejadian aneh!!!!”tambah doni
“udah sana balik ke kandang lo tu!!!”ucap Petra
“Aish, dasar pangeran kodok, jutek lo itu ga ketulungan, aish bener”, gw mau duduk di sini aja, kemaren tidur gw ga terlalu nyenyak, siapa tau bisa keobatin sekarang, tenang gw ga akan minta lo nyanyi ko, okey!!!”jawab dHian sedikit manja
“pangeran kodok???”ucapnya sedikit bimbang
“Ia, lo itu pangeran kodok, dulu gw juga pernah punya teme, karena suatu hal, akhirnya gw panggil dia pangeran kodok, pas kelas 5 dia pindah sekolah dan sampe sekarang gw ga pernah ketemu dia lagi!!!tapi sebutan itu emang cocok buat lo ko!!!!”jawab dHian sambil mencoba untuk tidur
“aish, dasar, alasan ga penting!!!”balas Petra
“kadang lo mirip temen gw itu, dan lagu kemarin jeongmal gomawo!!!”ucapnya
Petra hanya menatapnya dan membiarkan dHian tidur, 2 jam lebih akhirnya sampe juga mereka di depan sekolah, dHian masih setengah sadar, karena dia masih mengantuk, Petra mencoba membangunkannya tapi dia masih enak terlelap tidur. Dhita dan dHania pun menyuruh Petra untuk membwanya karena kadang dHian itu susah dibaguninnya. Mau ga mau Petra pun membantu memapah dHian, 5 menit kemudian dia baru sadar sepenuhnya dan hanya senyam senyum, Petra hanya membalas dengan senyum dingin. Gtw kenapa kalo deket Petra bawaanya nyaman jadi tidur juga pules banget. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dan menikmati sisa liburan mereka. Hari pertama awal semester genap pun dimulai, dan pagi-pagi sekali dHian udah stand by di depan rumah Petra, sambil menunggu Petra keluar, dHian dudk di depan taman rumahnya dan menatap pintu gerbangnya. Dan 10 menit kemudian, Petra pun keluar, dHian pun langsung menghalangi mobilny dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Reaksi Petra sangat cepat dan seperti biasa dia mengomel karena dHian seenaknya aja masuk ke dalam mobilnya, dHian hanya tertawa sambil memakan sarapan paginya. Sesampainya di sekolah, tatapan tajam memandang mereka, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, dHian terus jalan meskipun dalm hati dia inget kembali kejadian sewaktu kecil yang selalu dikerjai dan dikucilkan oleh yang lainnya. Tapi dia juga tetap bersikap seperti biasanya, dan dia juga mulai mengatur amarahnya, karena ini penentuan untuk kellulusan mereka belajar dengan giat, ya meskipun kadang-kadang juga susah diatur. Belakangan Petra juga udah ga pernah bolos lagi, tapi jadi lebih suka tidur di kelas (apa bedanya ya!!!). sekarang mereka lebih sering latihan soal-soal ujian, dan beberapa juga udah ada yang memikirkan untuk melanjutkan kuliah. Beberapa anak yang lain tentunya masih saja ada yang meremehkan mereka dan suka membuat onar. Kadang juga kalo kelewatan mereka juga membalas sech, Cuma untungnya mereka bisa lolos dari jeratan hukuman guru-guru. Ga kerasa ujian pun hampir tiba, Bu Cantika pun membantu mereka agar tetap semagat dan jangan menyerah, ga peduli apa kata orang, yang penting kita yakin pada diri kita sendiri, kalo kita bisa melakukannya dengan baik sama seperti yang lainnya. Ujian praktek mereka lalui dengan baik dan lancer, hanya saja untuk ujian nasional mereka sedikit putus asa, karena otak mereka mulai memikirkan berbaga hal yang membuat mereka stress berat.
“akh bisa gila gw, ngerjain ini satu pun ga ada yg bener!!!”ucap dHita
“iya niech, dah mandet nie!!”tambah doni
Dan yang lain pun ikut mengeluh karena tidak bisa mengerjakan beberapa soal matematika dan pelajaran lainnya. Pusing juga sech, Petra pun membantu dHian mengerjakan soal, mulanya dHian sedikit pusing tapi setelah dijelaskan, dhian mulai mengerti maksud Petra, semua soalpun bisa diselesaikan. Mereka berduapun membantu yang lain mengerjakannya dan menjelaskan cara penyelesaian yg tercepat dan termudah. Petra bisa mengerjakannya tapi sedikit sulit untuk menjelaskan ke orang lain, makanya dia menjelaskan ke dHian dan dHian yg menjelaskan ke anak-anak yg lain. Begitulah keseharian mereka sampe menjelang hari ujian.
“baiklah hari ini kalian semua istirahat yang cukup dan belajar yang tekun, besok adalah hari pertama ujian,jadi tolong kalian siapkan baik-baik ok!!!”ucap Bu Cantika
“ne, songsaenim!!!”jawab anak-anak
Keluar dari kelas, sperti biasa anak-anak yang lain mengolok-olok mereka, tapi beberapa orang juga ada yang mendukung mereka. Termasuk sang ketua OSIS. Adik kelas mereka pun ikut memberi semangat. Semuanya mereka persiapkan dengan baik, dan dHian pun absen kerja dulu selama ujian karena dia ingin focus dulu, tinggal ujian nasional ini, setelah itu mereka hanya perlu menunggu hasil akhirnya. Ujian pertama pun dimulai, b. Indonesia yang diujikan pertama, mereka membacanya dengan telliti, meskipun terlihat mudah tapi bahasa Indonesia itu banyak yang menjebak. Ujian pertama mereka lalui dengan baik,setelah itu ujian kedua adalah matematika, pelajaran yang cukup sulit, karena banyak itungannya, selain itu banyakrumus yang harus mereka pahami. Matematika pun telah terlewati dan kini tinggal ujian terakhir yaitu ujian bahasa inggris, mereka mengerjakan dengan serius karena kadang mereka suka terkecoh dang a tau maksud dari pertanyaannya, sedikit pusing juga. Pukul 10 ujian pun selesai, mereka terlihat tidak bersemangat, mungkin karena mereka ga yakin dengan yang mereka kerjakan tadi. Mereka tinggal menunggu hasil ujian mereka apakah mereka lulus atau ga, merka juga takut kalo sampe mereka ga lulus. Uhm deg-deg juga, selama menunggu hasil, mereka mencoba membahas soal bersama. Uhm untuk memperkirakan bagaimana hasilnya nanti, uhm sebagian ada yang hasilnya bagus ada juga yang kurang memuaskan. Setelah mendapatkan hasilnya nanti, apapun hasilnya mereka akan pergi liburan ke tempat yan lebih bagus dari yang kemmarin, dHian cs mengusulkan ke daerah pantai dengan tapi dekat dengan taman bermain. Akhirnya hari pengumuman pun tba, mereka sedikit ragu untuk melihat papan pegumuman, melihat anak” yang lain sangat senang karena mreka lulus, lalu dHian cs mendekat tapi melihat teman-temannya hanya terdiam ada yang nangis, raut wajahnya sedih, mereka semua bertanya tapi ga ada yang menjawab. Mereka berpikir apa tidak ada satupun dari mereka yang lulus!!! dHita, dHania, dHian, doni dan Petra pun mendekat, begitu melihat hasilnya raut wajah mereka pun berubah seperti yang lainnya, sampai Bu Cantika datang dan salah seorang dari mereka teriak dan langsung memeluk Bu Cantika.
“Eoteokhe????”Tanya Bu Cantika
“Songsaenim,uri,uri,uri………………………..패스paeseu…….!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak teman mereka
“Kita semua lulus songsaenim, kita lulussssssssssssssssssss!!!!”tambah yang lainnya
“Jeongmal!!dHian, dHania, dHita, doni dan kamu Petra, waeyo???”Tanya Bu Cantika
“Songsaenim, gamsahamnida!!!”ucap dHita sambil nangis
“Jeongmal gamsahamnida!!!”tambah dHania
“Omo,,,dHiana Putri Cantika, Petra Nugraha Saputra Syahrizal, kalian, kalian, chukhae!!!!Ibu sangat bangga sama kalian!!!!”ucap Bu Cantika
“dHiana, dHania,kita luuuuulllllluuuuuuus!!1”teriak dHita sambil memeluk mereka
Mereka semua langsung berteriak kegirangan, dan saling memeluk satu sama lain, saking senangnya dHian langsung meluk Petra dengan erat. Petra yang kaget Cuma diem aja, mungkin dia juga ga nyangka bisa dapet hasil yang sangat memuaskan, karena sebelumnya dia ga pernah mendapatkan prestasi sebagus ini, dHian pun sama, dia bener-bener ga nyangka bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. Anak-anak yang lain hanya bengong karena tidak percaya dengan hasil yang mereka lihat, tentunya ada sebagian orang yang mengajukan protes setelah mengetahui hasil kelulusan mereka. Kelas dHian masih rame dengan teriakan anak-anak sampe yang nagis juga belum berenti karena ga percaya dengan prestasi mereka sebelumnya.
Bu cantka pun ikut terharu melihat murid-muridnya berhasil lulus semua, beberapa guru juga memang banyak yang ga percaya dengan hasil yang ada tapi ga lama mereka pun mengucapkan selamat pada anak-anak yang lulus. Setelah mendapat hasil kelulusan mereka menyiapkan untuk tes masuk kuliah, sebagian ada yang mencari kerja mungkin karena udah puyeng sama yang namanya pelajaran. Akhirnya dHian cs bisa membuktikan pada the genk gonk kalo mereka juga bisa mendapatkan hasil yang sangat baik. Mereka pun langsung pulang dan memberitahukan hasil kelulusan mereka pada orangtua masing-masing. Berbeda dengan dHian, dia ikut senang meihat sahabatnya bahagia, keluarga dHania juga akhirnya mulai membaik, meskipun masih serng bertengar tapi ga separah sebelumnya. Kalo ada dhania mereka akan berbaikan, setelah mereka rundingkan dengan baik-baik, mereka memutuskan untuk bercrai, daripada mereka menyakiti anak mereka setiap hari lebih baik merek berpisah, dHania mulanya menolak tapi setelah mengerti kondisi orangtuanya akhirnya dia setuju. Tapi setelah bercerai keadaan mereka jauh lebih baik, justru mereka bisa memahami dari sebelumnya. Sementara dHita,orangtuanya pun bangga padanya dan kakaknya juga bangga tentunya, meskipun mereka sering berantem tapi dhita merasa lebih dihargai dan disayangi bukan hanya keluarganya tapi dengan saudara-saudara yang lainnya pun dHita jadi lebih pede. Kalo doni, karena dia sekarang tinggal dengan ibunya, jelas ibunya sangat bangga dan doni sangat senang. Begitu pulang, Petra langsung disambut oleh ayah dan ibunya, mereka terlihat sangat terharu dengan hasil yang diperoleh Petra, sebelumnya Petra sengaja ga memberitahu orang tuanya, tapi sebelum Petra sampe rumah, dHian dan Bu cantika sampai duluan di rumahnya dan menyampaikan berita baik ini. Meskipun sedikit risih tapi Petra senang karena kedua orangtuanya ada waktu untuk dia. Dan dHian setelah berpisah dengan Bu Cantika dia pulang ke rumah, tapi karena merasa sepi jadi dia pergi ke kafe bertemu dengan yang lainnya. Sesampainya di sna, mereka semua sudah menyiapkan pesta kecil untuk merayakan keberhasilan dHian. dHian Cuma bisa meneteska air mata karena saking senengnya. Bu cantika yang melihatnya pun ikut senang dan ternyata Bu Cantika ikut merayaka dengan teman-teman yang lainnya. Sekitar jam 11 malam dHian diantar pulang oleh Micky, karena sudah malam, Micky pun pamit pulang.
“Omo, kalian, kalian ngapain di tempat yang gelap gthu, bikin kaget aja, kirain maling!!!”ucap dHian
“Ya, lo itu kemana aja sech, lama banget, kita udah daritadi di sini, kaki kita mau keram gini??? Tanya dHita
“kenapa kalian ga ngehubungi gw, mana gw tau kalian mau dateng ke sini!!”jawab dHian
“Kita piker lo itu pasti kesepian, makanya kita datang ke sini untuk ngerayain bareng, kita juga bawa makanan, tada….(sambil menunjukan makanan)”balas dHania
“Ini semua ide Petra, dank arena ini berkat lo berdua juga kita bisa lulus, makanya hari ini kita rayakan bareng!”ucap Doni
“Udah dech ga usah cerewet, cepet masuk napa, dingin banget d luar!!!”jawab Petra sedikit sewot seperti biasanya
“Jeongmal???arraseo, mianata!!!let’s the party!!!”ucap dHian sambil menarik tangan Petra
Anak-anak hanya ketawa melihat tingkah dHian dan Petra. Mereka bersenang-senang, cerita-cerita, pokoknya happy banget lah. Mereka semua tertidur di kamar dHian karena keasyikan pesta. dHian pun mengambil beberapa selimut untuk mereka, dan membereskan bekas makanan mereka. Sambil membereskan dHian menahan airmatanya karena takut ketahuan yang lain. Begtu selesai, dHian terkejut melihat Petra sudah ada dibelakangnya. dHian langsung menghapus air matanya dan bersikap seperti biasanya. Mereka berdua pun akhirnya malah ngobrol di ruang tamu biar ga mengganggu yang lainnya.
“Jeongmal gomawo, untuk semuanya, untu hari iini, lo itu pangeran kodok gw yang paling ganteng juga baik!!!”ucap dHian
“Lo itu mabuk ya?ucapan lo itu aneh banget!!”jawab Petra
“Aish, lo itu untung ganteng juga baik tapi sayang sifat galak lo itu ga ketulungan. Temenin gw nonton film horror, dari kemarin-kemarin gw pengen banget nonton film ini tapi ga ada yang nemenin, kebetulan ada lo, mereka bertiga ga ada yang berani nonton, bacA sinopsisnya aja langsung pada mabur, apalagi kalo nonton bisa gempar dech se Komplek.“ucap dHian
“Nah lo sendiri, badan aja gede, sifat lo kayak anak kecil, nonton kayak gini aja takut, kalo takut mending tidur, gw mau tidur akh!!!”jawab Petra
“Tunggu sebentar, Cuma 1 jam ko filmnya, temenin ya gw ga bbisa tidur kalo masih penasaran, oke”, ayo duduk!!!!”ucap dhian
“Aish dasar anak kecil!!!1”jawab Petra
Akhirnya mereka pun menonton film horror yang dHian punya, meski rada takut dhian masih tetap menontonnya, Petra Cuma diem aja ga ada ekspresi kayak orang mati aja. lalu dHian pun bicara soal rencana kuliahnya ke luar negeri, Petra yang daritadi diem kayak orang mati itu berubah ekspresinya. dHian menceritakan kalo beberapa hari yang lalu, pamannya datang dan memberikan sertifikat tanah yang sudah balik nama atas nama dirinya dan beberapa surat yang menyatakan dia pemilik sah rumah ini. Tapi dengan syarat dia jangan menghubungi mereka lagi dan semua surat dan akta kelahiran pun sudah diubah. Mulanya dHian menolak, tapi dia berpikir kembali, dengan kehidupannya yang sekarang apa bedanya dengan mereka masih ada, masalah uang mereka akan selalu kirim tiap bulannya, dan mungkin ini salah satu cara agar dia bisa menjadi lebih baik dengan mendapat pendidikan yang lebih tinggi. Dia pun mnyetujui untuk kuliah di Ausie jurusan FotoGrafis, semua persyaratan dia siapkan dan yang lainnya sudah diurus oleh pamannya. Dhian bingung memberitahu pada dHita dan dHania, susah banget, tapi setelah bicara dengan Petra dia lebih baik dan rencananya lusa dia akan berangkatnya. Petra masih terus memandanginya, dan dHian mencoba menahan airmatanya.keesokan harinya dHian pun memberitahu yang lainnya tentang rencana kuliahnya di Ausie, mulanya seperti bbiasa merka tidak setuju karena selain jauh juga dalam jangka waktu yang cukup lama mereka ga akan bertemu. Setelah dijelaskan alasannya, mereka mengerti dan mereka membanttu mempersiapkan kebutuhan dHian selama di Ausie, dia akan mengambil S1, jadi mungkin sekitar 4 tahun dia akan tinggal di Ausie. Dhian masuk universitas di sana juga harus melewati tes makanya dia datang lebih awal dan jika ijazah sudah ada, dia akan pulang dan kembali lagi ke Ausie. Sementara dHita, dHania, doni dan Petra mereka masuk di universitas yang sama.
“Gw janji 4 tahun kemudian, setelah gw lulus gw akan langsung kasih kabar kalian, kalo ada berita-berita penting jangan lupa kasih kabarya, meskipun gw di Ausie tapi gw juga ga mau ketinggalan berita!!!”ucap dHian
“Arraseo, pokoknya lo harus baik-baik ya disana, harus sering kasih kabar juga!!!”jawb dHita
“Ne, oke, kalian juga baik-baik ya, bye!!!”gomawo chingudeul. Balas dhian
Setelah memeluk satu per satu, dHian pun pamitan karena sudah waktunya take off. Dan 4 tahun kemudian .............. (cepet banget ya 4 tahun)
“ga kerasa, udah 4 tahun berlalu, itu berarti dHian bentar lagi pulag, kita buat acara apa ya, gw kangen banget!”ucap dHita
“benar juga, kabarnya dia lulus dengan nlai yang bagus, akh dia sepertinya benar-benar sudah berubah!!!gw kangen juga!!!”jawab doni
“dia benar-benar tega selama 4 tahun ini Cuma komunikasi via chatting,ditambah dia ga pernah kirim foto-foto dia di sana, gw penasaran seperti apa dia sekrang, bukannya minggu depan dia mau pulang!!!!tambha dHania
“Dia aja masih lama pulangnya, ko malah kalian yang ribut, udah akh gw mau latihan, minggu depan juga kita tanding di Final!!”ucap Petra
“Selesai latihan kita kumpul lagi okkk!!”tambah doni
“Arraseo, bye!”jawab dHania dan dHita
Mereka pun embali ke kampus, kebetlan minggu depan mereka juga ada pertandingan final, rencananya dhian pun akan pulang seminggu lagi, mereka pun konsentrasi latihan agar hasilnya pun bisa memuaskan. Oia lupa, dHania dan dHita ikut tim cheerleader, sementara doni dan petra mereka masuk tim basket. Hari final pun tiba, karena permintaan Petra, mereka ga memberitahu tentang pertandingan ini dan kebetulan rencananya hari kepulangan dHian pun besoknya, pertandingan pun dimulai, lumayan seru lah pertandingannya, seimbanglah lawannya. Gampang susah masukin bolanya tergantung taktik yang mereka gunain. Udah masuk ke quarter 2 skor tim mereka lumyan tertinggal. Pas lagi istirahat, tiba-tiba ada seorang wanita yang mendekat dan memberikan handuk untuk Petra dan Doni, mereka pun terkejut begitu melihat orang yang berdiri dihadapannya yang ga lain itu adalah dHian, penampilannya kini sudah berubah dan dHian juga ga segendut 4 tahun yang lalu, meskipun ga langsing tapi berat badannya berkurang. dHian hanya tersenyum dan memberikan semangatpada mereka, dHania dan dHita yang tadinya mau menghampiri tapi pertandingan segera dimulai, dHian hanya melambaikan tangannya dan tersenyum.
“kalian harus menang ok, handuk ini udah gw mantrai supaya kalian menang, hehehe!!!nomu bogosposeo....and you dont give up!!!!”ucap dHian sambil kembali ke tempat dudknya
“Aish dasar gw kira siapa!!!”ucap doni
“ayo cepet ke lapang!!!”teriak Petra
“bukannya besok dia pulangnya, bagaimana bisa ada disini, dasar!!1”ucap dHita
“aish dasar anak ini, selesai pertandingan kita buat perhitungan dengan dia!!!!”jawab dHania
Pertandingan pun dmulai kembali, kali ini mereka lebih semangat terutama doni dan petra, mereka bisa menyusul ketinggalan, benar-benar ajaib. dHian hanya tersenyum dan terus memperhatikan permainan mereka. Finally pertandingan ini berhasil mereka menangkan, sorak sorai dari supporter dan tim cheers mereka semakin menyaring. dHian pun langsung keluar ruangan dan menunggu di luar. Mereka berempat langsung mencari dHian diantara kerumunan tapi dia tidak ada, mereka pun langsung keluar dan dhian sudah menunggu di luar dengan 5air minum untuk mereka.
Dhania dan dhita langsung memeluk dHian kegirangan. Dhian pun sangat senang bisa berkumpul dengan mereka lagi, doni pun ikut memeluk dhian, karena sifat cuek petra belum berubah akhirnya dhian yang langsung memeluk Petra, mereka bertiga juga sempat kaget, terutama Petra. Setealh pamit dengan tim, mereka pun pulang bersama. Sepanjang jalan mereka heboh. Dhian pun menceritakan semuanya dan sebenarnya setiap pertandingan mereka,dhian selalu datang tapi mereka tidak ada yang menyadari. Mereka berempat tidak percaya, tapi setelah melihat beberapa foto pertandingan mereka, mereka hanya bisa bingung bagaimana bisa, bukannya ketika pertandingan dia sedang ujian. Untungnya ada temannya yang kuliah di universitas mereka jadi dhian selalu tau berita tentang mereka berempat. Mereka pun kumpul di rumah dhian yang sudah lama mereka tinggalkan. Rumah itu sudah rapi dan bersih serta ada sedikit perubahan tapi karena kepulangan dHian itu mendadak jadi mereka ga bisa menemani, karena mereka sudah punya acara dengan tim mereka, termasuk Petra dan doni juga. Tapi tiba-tiba Petra mengajak dHian ke acara bersama, soalnya partynya pada bawa pasangan gthu, kebetulan Petra males kalo dateng seniri secarameskipun jutek banyak yang suka, ya lumayan lah, mereka bertiga pun setuju. Akhirnya mereka pun pamitan dan jam 7 malam dhian akan dijemput sementara yang lain langsung ketemu di tempat acara. Dhian pun menyiapkan pakaian karena dia kurang leluasa pakai rok, jadinya dia pakai setelan celana jeans plus baju yang sedrhana tapi terlihat elegan dengan beberapa tambhan motif rancangannya sendiri dipadu dengan sepatu high heelsdan olesan make up di wajahnya. Ya penampilan gadis lakh erlihat feminimlah. Petra juga sedikit pangling melihat dandanan dhian, dhian hanya tersenyum sedikit malu, sepanjang jalan dhian banyak bercerita. Begitu sampai ketiga temannya pun menunggu di depan dan mereka pun terkejut melihat penampilan dhian yang terlihat cantik dan elegan,tentunya paa pemuja Petra terlihat kecewa melihat Petra datang dengan pasangannya. Oia doni dan dhita udah jadi pasangan sejak 3 tahun yang lalu dan dHania jadian dengan temannya sesama tim cheers’a. Sudah lama tidak melihat senyum Petra, pokoknya dhian menikmati partynya karena bersama Petra begitupun dengan Petra. Dhian sebenarnya sudah dari lama mengetahui bahwa Petra memang pangeran kodok kecilnya, sepulang dari party dhian menjelaskan semuanya dan benar-benar senang bisa bertemu dengan pangeran kodoknya itu.
“akhirnya gw ketemu dengan pangeran kodok gw!!!!gw kangen banget!!1”ucap dhian sambil memeluk Petra
“jadi lo itu anak kecil yang waktu itu,!!sifat lo itu ga brubah dari dulu main peluk aja !!!”ucap Petra
“Biarin aja, gw udah nunggu selama 4 tahun untuk ketemu sama lo dan untuk ngucapin kalo gw suka sama lo, sejak lo pindah gw suka sama lo, pertama kali ketemu di sekolah ini,lo memang jutek dan super nyebelin tapi setelah lo nyanyiin lagu itu untuk gw, gw baru inget dan sadar kalo lo itu memang pangeran kodok. Pangeran kodok yang selalu neglindungi gw dan ngejagain gw, na nomu nomu choahe ....”ucap dhian
Petra Cuma terdiam mendengar penjelasan dhian tentang masa lalunya, petra ga nyangka kalo gadis kecil yang waktu itu adalah dhian. Dhian pun melepaskan pelukannya dan memandang Petra dengan raut wajah sedih. Petra masih bengong, mungkin ngelamun mengingat masa lalu. (flash back ceritanya). Dhian sedikit sedih dan cemberut melihat respon Petra, mungkin dia akan ditolak, dia manggil juga ga dijawab, digoyang-goyang ga respon, dhian pun bernat meninggalkannya, tapi baru mau melangkah, tiba-tiba tanganya ditarik dan Petra malah memeluknya (sekarang gantian dhian yang bengong melihat ekspresi Petra). Pas lagi asyiknya dipeluk, ga sengaja ketiga sahabatnya ini datang, melihat ekspresi dHian yang salting,jelas mereka malah makin menggoda, lalu Petra malah dengan sengaja melepas pelukannya dan malah langsung menciumnya (woooowwww, nafsu amat..hehehe *sensor untuk anak dewasa*). Dhian makin panik dan wajahnya mulai memerah karena malu. Ketiga sahabatnya juga ga kalah kagetnya melihat aksi yang mereka berdua lakukan.
“Ya, lo itu kenapa malah nyium gw!!!??”omel dHian
“uhm, emang gajah kecil gw!!!!1”jawab Petra dengan watadosnya
“apa kita salah lihat, bagaimana mungkin dia bisa melakukannya???”ucap dHita
“Bener, dengan sifat dia yang super jutek, dia bisa melakukan hal nekat seperti tadi di depan umum!!!!benar-benar hebat!!!1”tambah dHania
“hey kalian jangan mikir yang aneh-aneh, tadi Cuma kesalahan, kalian Cuma salah paham, lo jelasin sama mereka jangan buat gw malu kayak gini!!!1”jawab dHian dengan wajahnya yang memerah
“Kenapa malu,gw hanya mau pastiin,lo itu emang gajah kecil itu bukan, dan ternyata lo memang ga berubah!!”balas Petra
“tap..tapi inni khaaaannnnn,,, arrrggghh lo jahat,, !!!”jawab dhian
“jahat apanya, lagii pula ini bukan yg pertama,,!!”tambah Petra
“maksud lo!!!!(sambil mikir dan akhirnya dia ingat)arrggghhh jadi itu bukan mimpi!!!!!”ucap dhian
Ketiga sahabatnya itu malah jadi bengong dan mereka tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita dari Petra tentang masa lalu dHian sewaktu sMP, dhian pun mengejar-ngejar Petra karena membuka rahasia masa lalunya. Dan akhirnya mereka pun jadian dan 1 tahun kemudian dHian dan Petra menikah setelah Petra mendapat pekerjaan tetap sebagai manajer diperusahaan ayahnya. Sementara doni dan dHita,mereka mau fokus dengan kerjaan mereka dulu dan 6 bulan kemudian dHania pun menikah dengan pacarnya itu. Keluarga Pertra menerima dHian dengan baik dan memberikan kasih sayang yang belum pernah dia rasakan. Ketika kuliah di Ausie, sekitar 2,5 tahun, pamannya baru memberitahu kalo orangtuanya meninggal dalam kecelakaan,dan sebagai pewaris tunggal yang sah, semua kekayaan dHian yang ambil alih dan Perusahaan mereka, dhian serahkan pada pamannya, karena dhian ga mau mengurus halhal yang bukan menjadi miliknya. (kena karmanya kali ya). Meskipun begitu dengan ikhlas dhian pun memaafkan kedua orangtuanya dan mendoakan mereka agar mendapat yang terbaik di sisi-Nya.
Meskipun sudah menikah, terkadang sifat dan sikap kekanak-kanak mereka masih sering muncul,dan orang Petra hanya bisa geleng-geleng kepala kalo udah sifat mereka kambuh lagi. Yah jadi heboh dech, terutama kalo lagi jalan-jalan bareng, kalo para suami mereka lirik kana-kiri, mereka langsung menyiapkan bogem dan mereka pun lari setelah melihat reaksi istri mereka. Stelah cita-cita dhita dan doni tercaai, akhirnya mereka pun menikah dan semuanya HAPPY ENDING. Dan mereka juga masih sering kumpul bareng bahkan nginep bareng, serasa masih muda, hanya sekarang mereka sudah berbeda status.
*akhirnya selesai jga nie cerita, endingnya emang rada ga nyambung tapi gpp lah namanya juga belajar.*
++mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan,,semoga cerita selanjutnya bsa lebih berbobot dan menarik....AMIN!!!++
.....Gamsahamnida ......
BYE_BYE
^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
