Kemelut Api Dendam
Oleh Ahmad Ijazi H
Mata wanita itu menyala bak kobaran api bergejolak. Hujaman perih kian bertubi-tubi tak kunjung reda mengoyak batinnya. Letupan dendam kian mengamuk, membunuh rasa iba yang berkelebat di pelupuk mata. Wanita itu menyeringai dengan dengus menderu, bak serigala haus darah. Terik mentari yang membakar paras, menganaksungaikan peluh di wajah. Wanita itu tak peduli. Sorot mata tajamnya terus mengekor langkah kaki seorang muslimah yang baru saja keluar dari mobil mewah. Seorang gadis kecil berumur 10 tahun tertawa riang di sampingnya. Tampak begitu ceria. Melihatnya, hati wanita itu kian tercabik-cabik. Serasa ditikam pisau berkarat, perih tak terperi! Samapai kapan pun dia tak akan pernah rela muslimah itu mengecap bahagia. Muslimah itu telah merenggut suaminya! Membuat hidupnya dan keluarganya menderita!
Dua tahun silam. Belati beracun telah torehkan luka menganga di jantungnya. Luka itu tak kunjung sembuh, bahkan kian parah! Dia takkan pernah terlupa. Saat suaminya menceraikannya. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya sendiri.
Wanita itu memang pekerja keras, menjadi pembantu rumah tangga harian. Pergi pagi pulang malam. Beban keluarga yang ditanggungnya teramat berat. Dia harus menghidupi dua anak gadisnya: Rahma dan Laila yang bersekolah di SMP dan SMA, juga bundanya yang sering sakit-sakitan. Sementara suaminya pengangguran dan suka berjudi. Terkadang suaminya itu pergi tak tentu tujuan, lalu pulang dalam keadaan teler. Dua anak gadinya sering menjadi pelampiasan amarahnya. Tamparan dan pukulan sering mendarat di wajah kedua anaknya itu. Sementara pemilik kedai di seberang rumahnya sering bertandang kepadanya menagih hutang suaminya yang menggunung.
Wanita itu terpaksa bekerja lebih keras untuk mendapat upah lebih. Dia bekerja dari pagi, hingga pulang pagi pula. Suaminya berang karena dia tak pernah di rumah. Dia dituduh berselingkuh dengan majikannya! Dia dicerai paksa oleh suaminya, lalu diusir dari rumah. Begitu pun ibunya yang sering sakit-sakitan, diusir pula oleh suaminya dengan keji karena dianggap menyusahkan. Wanita itu mengontrak rumah. Di sana dia terus berjuang keras menghidupi keluarga, terutama untuk memenuhi biaya sekolah dua anak gadisnya. Sebenarnya dua anak gadisnya itu berkeinginan untuk tinggal bersama wanita itu, namun suaminya melarangnya.
Hati wanita itu kian terkoyak-koyak perih saat mendengar suaminya menikah lagi dengan seorang janda kaya-raya beranak satu. Dan luka di jantungnya kian menganga lebar saat dia mengetahui dua anak gadisnya telah dijual oleh suaminya kepada seorang pengusaha kaya untuk dijadikan wanita penghibur di sebuah klab malam. Seribu tikaman belati beracun seakan telah membuat hidupnya sekarat, namun dia tak bisa mati. Dia terus hidup dalam kubang derita yang teramat menyakitkan!
Sebulan kemudian, wanita itu mendapat kabar bahwa anak sulungnya, Laila, ditemukan tewas gantung diri di sebuah kamar hotel! Laila depresi, mengalami goncangan jiwa. Siang malam dia harus melayani nafsu bejat puluhan lelaki hidung belang. Dia tak kuat. Derita yang ditanggungnya teramat berat. Sampai akhirnya dia ditemukan tewas di dalam sebuah kamar hotel dengan seutas tali mejerat leher!
Bagai dirajam sejuta sembilu, wanita itu tak kuasa menanggung derita yang semakin bertubi-tubi. Dia tak kuat rasanya terus melangkah dalam kemelut badai yang kian dahsyat menerpa hidupnya. Apalagi saat dia kemudian harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya bahwa Rahma, satu-satunya anak yang menjadi harapan hidupnya itu, harus pula meregang nyawa, tewas dengan keadaan yang sangat mengenaskan di tiang gantuangan, dengan seutas tali menjerat leher!
Wanita itu sesengukkan. Air matanya kian deras berjatuhan. Letupan dendam kian menyala, berkobar menjilat-jilat di relung hatinya. Sorot mata wanita itu kian tajam memaku sosok muslimah yang tengah duduk di bangku taman. Binar mata muslimah yang teduh itu memperlihatkan betapa bahagianya dia mendekap sang buah hati dengan penuh rasa cinta.
Rahang wanita itu kian bergemeletak. Dia mendengus dengan amarah berapi-api. “Sampai mati pun aku tak kan pernah rela melihatnya hidup bahagia, sementara hidupku terpasung dalam derita berkepanjangan. Aku harus membuatnya sengsara! Dialah yang telah merenggut suamiku! Dialah yang telah membuat hidupku dan keluargaku terperosok dalam jurang penderitaan! Sampai saat ini tak secuil pun bahagia yang singgah di dasar hatiku. Dia harus merasakan siksa dan derita yang aku rasakan! Dia tak boleh hidup bahagia!”
Mata wanita itu semakin berkilat-kilat. Sesak jantungnya oleh gemuruh dendam yang kian bergejolak. Dengan sigap diraihnya sebuah belati dari balik pakaiannya. Dia harus melampiaskan dendamnya itu! Dia harus membunuh muslimah itu! Muslimah itu harus mati! Luka di hatinya harus terbalas! Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Kalau tidak, dia akan menyesal seumur hidup. Kepuasannya adalah melihat muslimah itu mati!
Wanita itu melangkah perlahan. Tak ada rasa ragu di benaknya. Dia melangkah kian dekat menghampiri muslimah dan anaknya itu yang tengah duduk di sebuah bangku taman. Muslimah itu tak menyadari kedatangannya. Dia sepertinya tampak khusuk menimang manja sang buah hati di pangkuannya.
“Sayang… Bunda merasa begitu bahagia memiliki putri sepertimu. Hati Bunda akan selalu terasa damai bila mendekap dirimu, Sayang. Rasa resah dan gundah yang menyesak di dada pun lenyap. Sungguh, Bunda sangat mencintaimu, Sayang…” Muslimah itu berbisik di telinga sang buah hati dengan suaranya yang terdengar sendu.
“Tak ada cinta dan kasih sayang yang bergitu tulus yang pernah aku rasakan selain cinta dan kasih sayang Bunda terhadapku. Ingin rasanya aku selalu dalam dekapan Bunda. Semakin erat Bunda mendekapku, semakin terasa tenang hati ini…” jawab gadis kecil itu dengan perkataannya yang begitu cerdas dan menyentuh kalbu.
Wanita itu terperangah. Terhenyak dalam kebimbangan. Miris hatinya, serasa ditikam berjuta resah. Hatinya terenyuh sesaat. Namun gejolak dendam di dadanya kian menderu-deru. Belati di tangannya bergetar hebat. Amarah yang meletup-letup menggiring langkahnya makin mendekati muslimah itu. Sang muslimah benar-benar tak menyadari kalau wanita itu telah berada di belakangnya. Sekali hentakan, belati di tangan wanita itu telah menembus tubuh sang muslimah. Saat tubuh muslimah itu roboh ke tanah, wanita itu tak memberi ampun! Seperti kerasukan iblis, wanita itu terus menghujamkan belati di tangannya berkali-kali.
Manita itu bergegas pergi. Seringai buasnya rekah, mencuatkan letupan kepuasan hatinya yang sangat, karena telah berhasil membunuh muslimah itu. Dia tak hirau lagi saat gadis kecil yang mendekap tubuh kaku bundanya itu, menangis dan menjerit pilu dengan lengkingan panjang yang menyayat membelah langit.
***
Belati itu telah menghujam dalam di jantung laki-laki itu. Darah segar menyembur deras mengotori dasi dan jas hitam yang dia kenakan. Ada lengkingan yang menyayat saat laki-laki itu meregang nyawa. Mulutnya menganga dengan mata membelalak. Tubuh laki-laki itu benar-benar telah kaku, tergeletak di muka pintu rumahnya.
Wanita itu teramat puasnya. Dendamnya telah terbalaskan. Laki-laki itulah yang telah menceraikannya. Laki-laki yang membuat hidupnya sekarat, berkubang dengan perihnya penderitaan. Laki-laki yang telah menyengsarakan kedua anaknya hingga harus tewas menghantarkan nyawa di tali gantungan. Tapi laki-laki itu kini telah mati. Mati terbunuh oleh tikaman belati, di tangannya! Wanita itu menyeringai puas. Matanya kian berkilat-kilat buas.
Dentuman petir datang menderu, membaur dengan kucuran gerimis yang jatuh berguguran. Wanita itu melangkah pergi dalam hujan. Sebelum dia melewati pintu pagar rumah mewah itu, terdengar olehnya derit pintu yang terkuak, lalu jeritan menyayat seorang gadis kecil yang mendekap tubuh sang ayah yang telah tak bernyawa itu.
Wanita itu segera melangkah pulang. Telah berbulan-bulan dia berkelayap tak tentu arah. Dia tak tahu bagaimana keadaan ibunya saat ini. Seingatnya ibunya itu dalam keadaan sakit keras saat dia tinggalkan dulu. Dia benar-benar tega meninggalkan sang bunda yang menderita dalam ketidakberdayaannya seorang diri, hanya untuk membalaskan dendam kesumatnya.
Nanar mata wanita itu terpaku di depan pintu rumah kontrakannya itu. Tangannya gemetar saat mengetuk daun pintu yang tampak rapuh. Beberapa saat dia menanti dalam keresahan yang berkemelut. Langkah-langkah kaki yang tertatih kemudian terdengar perlahan menghampiri pintu.
Krittt… daun pintu terkuak. Wanita itu menatap penuh takjub sosok ringkih di hadapannya. Sosok itu menatapnya dengan pias sumringah.
“Rukhayah? Kaukah itu anakku?” tanya wanita tua itu dengan mata berbinar.
“Bunda… maafkan aku telah meninggalkan Bunda sendirian…” Rukhayah langsung memeluk sang bunda. Air matanya deras tak terbendung. Dia sesengukkan. “Mulai saat ini, aku berjanji tak akan meninggalkan Bunda lagi…”
Keheningan malam mulai merayap. Ruangan rumah berdinding papan itu hanya berpenerang lampu minyak. Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah. Ada banyak hal yang belum dia ketahui di rumah ini semenjak dia pergi. Saat ini Bundanya tampak sehat dan tubuhnya lebih berisi. Wajahnya tampak bercahaya. Sungguh jauh perbedaannya saat terakhir kali dia tinggalkan beberapa bulan lalu.
“Beberapa waktu lalu, seorang wanita berhati malaikat menemukan Bunda dalam keadaan tak sadarkan diri di tepi jalan raya. Wanita itu lalu membawa Bunda ke rumah sakit. Saat pertama kali tersadar, Bunda menemukan seraut wajah yang teduh dan bercahaya. Bunda merasakan ketenangan yang luarbiasa saat jemari halusnya meraih tangan Bunda. Matanya yang berbinar dan bibirnya yang senantiasa selalu tersenyum, membuat hati Bunda terasa sejuk dan damai. Bunda benar-benar merasa sangat dekat dengan wanita itu, seperti ada ikatan batin yang begitu kuat. Dia menyayangi Bunda seperti orangtuanya sendiri. Naluri Bunda saat itu langsung berkata bahwa dia adalah Melati, anak kandung Bunda yang pernah diminta oleh majikan tempat Bunda bekerja 30 tahun silam karena majikan Bunda itu tak mempunyai keturunan…”
Mata Rukhayah tampak bergerak-gerak gelisah.
Bunda lalu menarik napas dalam-dalam. “Untuk memastikannya, Bunda pun meminta dia untuk menyingkap kerudung yang dia kenakan. Bunda ingat betul, sejak dilahirkan, Melati memiliki tanda hitam berbentuk bulan sabit di lehernya…”
“Lalu… apakah Bunda melihat tanda hitam itu?” tanya Rukhayah dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.
“Ya… Bunda benar-benar melihatnya! Dia benar-benar Melati, anak kandung Bunda…” tangis Bunda pun pecah. Rukhayah langsung memeluk tubuh ringkih sang Bunda. “Setelah Bunda sehat dan dibolehkan pulang kembali, Melati meminta Bunda untuk tinggal bersamanya saja. Tapi Bunda menolak, karena Bunda masih ingin menantikan kau kembali ke rumah ini…”
Lama mereka tenggelam dalam keharuan yang begitu dalam. Bunda lalu melangkah menuju lemari tua mengambil selembar foto dan secarik kertas bertuliskan alamat. “Ini dia foto dan alamat Melati yang sekarang…”
Rukhayah meraih foto dan kertas alamat itu dengan perasaan gundah. Dipandanginya wanita berjilbab dalam foto itu dengan seksama. Seketika tenggorokannya tersedak, dan matanya membelalak. Di foto itu dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal! Ya, dia benar-benar sangat mengenali wanita berjilbab itu. Dialah wanita yang telah merenggut suaminya! Dialah wanita yang telah membuat hidupnya menderita dan dihantui oleh dendam yang bergejolak.
Pembunuhan seorang muslimah di sebuah taman empat bulan yang lalu kembali berkelebat dalam ingatan Rukhayah. Dialah wanita yang telah membunuh muslimah itu. Dan saat ini, dia melihat seraut wajah muslimah yang telah dibunuhnya itu di dalam foto yang ada ditangannya ini. Oh, Tuhan… aku telah membunuh muslimah itu? Membunuh saudara kandungku sendiri? Rukhayah terhenyak dengan dada teriris-iris.
“Oh… Bunda sudah tak sabar ingin bertemu dengan Melati kembali. Semoga dia juga merasakan kerinduan yang sama, seperti kerinduan yang Bunda rasakan saat ini…” mata Bunda tampak semakin berbinar-binar.
Tubuh Rukayah semakin bergetar hebat. Tiba-tiba dadanya begitu sesak! Sesak oleh rasa bersalah yang begitu dalam. Hatinya terkoyak-koyak perih. Dan kemelut badai yang teramat dahsyat seakan telah memporak-porandakan lantai tempat kakinya berpijak. Dengan tangan yang semakin gemetaran, segera diraihnya sebilah belati dari balik pakaiannya. Sekali hentakan, tikaman belati itu telah menghujam jantungnya! Dan teriakan Bunda yang histeris tak kuasa lagi didengarnya saat tubuhnya yang tersungkur, bersimbah oleh darah yang kian menyembur deras...
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar