Di Balik Tetesan Air Mata Bunda
Penulis : Riyo Saputra
Penulis : Riyo Saputra
Di pagi yang cerah, pancaran sang surya di ufuk timur membangunkanku dari lelap tidurku. Seorang wanita telah membuka jendela yang merupakan jalan masuk sinar matahari, dia adalah ibuku. Tak cukup hanya mentari yang membangunkanku, sehingga ibu juga turut membangunkanku dengan percikan air yang hampir membanjiri mukaku.
Tak mudah bagiku untuk bangun jam 8 pagi, apalagi jam 6 pagi, sangat sulit bagiku. Hari minggu sangat cocok untukku tidur dengan ditemani bantal dan guling.
Ibu terus memercikan air ke mukaku, membuatku marah dengan tingkahnya yang rutin setiap hari itu. Aku bangun, tetapi dengan sedikit omelan kecil kepada ibu. Tak seperti orang lain yang tunduk dan patuh kepada ibu dan menerima apa adanya omelan ibu, aku malah sebaliknya. Tak akan ada omelan yang tak kubalas, aku selalu membantah perkataan ibu. Satu yang keluar dari mulutnya, sepuluh keluar dari mulutku. Itulah yang kulakukan dari dulu hingga sekarang. Menghargai seorang ibu, tak penting bagiku.
Hari minggu adalah hari yang cocok untuk santai-santai dan liburan, tetapi tidak untuk ibuku. Baginya tiada hari tanpa memegang sebilah parang yang bermata satu itu.
Setelah kumengomel kepada ibuku, dia pergi dengan sebilah parangnya itu. Tadinya dia sempat mengajakku, tetapi perkataanya sangat rapuh hingga dapat kupatahkan dengan beberapa kata saja.
Meninggalkan sarapan pagi yang menurutku tak layak makan memang kebiasaannya setiap pagi. Ubi kayu yang direbus itu membuat mulutku enggan membuka kedua bibirnya untuk menyantap sarapan itu. Tanganku gatal, rasanya ingin mencampakkan piring-piring yang ada di depanku.
“pring…,”
Tak sanggupku menahan tanganku. Piring tempat singkong rebus tadi pun pecah bagai di hempas raksasa.
Perutku terasa lapar, tetapi tak ada sedikit pun makanan yang dapat kumakan, kecuali singkong rebus yang bercampuran dengan serpihan piring pecah itu.
Kelaparan itu membuatku marah. Segera kukeluar dari rumah dengan membanting pintu. Mencari ibu untuk kumarahi adalah pilihan yang tepat pada saat itu.
Setelah kukeluar dari rumah, mataku liar bagai seekor anjing yang kelaparan. Menatap ke segala penjuru arah untuk mencari ibu, membuat perutku bertambah sakit, sepertinya cacing-cacing di dalam pertutku sudah tak sabar ingin makan.
“ibu…, ibu…,” dengan teriakan yang kencang, kulontarkan kata-kata itu ke seantero perkarangan rumahku.
Tak ada sedikit pun sahutan dari ibu terdengar di kupingku, hal itu membuat kesabaranku habis. Kemudian kuberlari menuju belakang rumah. Terlihat ibuku sedang bercucuran keringat memotong rerumputan di belakang rumah. Segera kuberlari menuju wanita itu.
Tak sempat baginya bertanya kepadaku, langsung kumaki-maki.
“Ibu tahukan, aku ini kelaparan di rumah. Eh…, ibu malah bersenang-senang dengan parang jelek itu. Ibu mau membunuhku apa ? kalau ingin membunuhku langsung saja tebas leherku dengan parang jelek itu !”
Ibu tampak diam seribu bahasa setelah kumaki-maki. Dia tampak menghembuskan napas kekesalan terhadapku. Tanpa kata dia langsung pulang ke rumah. Memasak indomie instan buatku adalah hal yang dikerjakannya pada saat itu.
Cukup lama ibu memasak indomie instan itu karena dia memasak sambil meneteskan air mata yang kurasa tak perlu dikeluarkan.
“ibu…, aku tak butuh tangisan ibu, aku butuh makanan sekarang !”
Setelah hampir setengah jam aku menunggu. Indomie rebus pun datang menghampiri di depan mukaku. Segera kumakan dengan lahapnya. Lidahku mulai merasa aneh, indomie itu seperti tumpukan garam dapur dan mengembang seperti sudah satu hari direndam dalam sumur. Langsungku muntahkan di depan ibu.
“apa ini ? ibu mau membunuhku dengan indomie yang asin ini. Jika ibu ingin menangis jangan sambil memasak, pergi ke hutan sana !”
Setelah kumengeluarkan amarahku pada ibu. Tanpa pikir panjang kuhempaskan piring indomie itu ke bawah kakiku.
“pring…,” bertaburanlah indomie dalam piring itu.
Setelah kumemcahkan piring indomie itu. Kaki kananku terasa sakit seperti tebas dengan samurai. Tanpa tersadar kakiku menangis darah, sepertinya kakiku terkena serpihan piring tadi. Kepalaku pusing karena aku kehabis darah. Tak sanggup aku menahannya. Aku jatuh terbaring di dapur. Ibu langsung berteriak memekakkan kupingku yang hampir mati kehabisan darah ini. Mataku mulai kabur dan wajah ibu yang menangis mulai kelihatan samar-samar. Aku merasakan kesakitan yang tak tertahan lagi hingga akhirnya aku pingsan.
Beberapa waktu kemudian…,
Pandanganku gelap, sepertinya aku berada di Black Hole, lubang hitam yang ada di luar angkasa. Tak sedikit pun cahaya tampak. Aku tak dapat menggerakkan kaki kananku, sepertinya kaki kananku telah dirantai dengan baja murni. Tak ada yang bisa kulakukan, kecuali mendengar tangisan seorang wanita yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an di sekitarku pada saat itu. Tangisan wanita itu membuat mataku turut mengeluarkan airnya. Sepertinya dia menangisi keadaanku yang tak tahu pasiti ini.
Aku tak tahu, sejak kapan aku terbaring dan berada di tempat gelap gulita ini. Seingatku, aku masih berada di dapur ketika itu.
Perlahan-lahan kucoba membuka mataku yang melekat ini, mungkin di luar sana banyak cahaya. Agak susah, tetapi Alhamdulillah hal itu bisa kulakukan. Kuharap pacarku yang bisa kulihat, tetapi itu salah. Wajah pertama yang kulihat adalah ibuku dengan senyumannya. Aku tak berkata apa-apa ketika itu.
Aku penasaran kenapa kaki kananku tak dapat digerakkan. Segera kulihat ke arah kakiku. Sepertinya kaki yang kulihat itu bukan milikku. Kaki itu penuh dengan kain pembalut luka hingga tak tampak sedikit pun lutut maupun mata kaki. Akan tetapi, tak ada kaki lain selain kaki itu di samping kaki kiriku.
Aku bertanya kepada ibuku, “bu, kenapa kakiku tak bisa digerakkan ?”
Ibuku langsung memelukku dengan diiringi tangisannya dan berkata,
“maafkan ibu nak, ini semua salah ibu. Kakimu dioperasi karena luka yang dideritamu cukup serius sehingga untuk beberapa hari ini kakimu tak dapat digerakkan” ibu terus menangis dan memelukku. Membuat mataku malu jika tak turut menangisi nasibku. Mungkin ini balasanku karena telah jahat kepada ibuku.
Aku terbaring tak berdaya di rumah sakit tanpa ditemani seorang pun, kecuali ibuku. Sejak kumembuka mataku dia terus mengurusku. Menyuapkan nasi ke mulutku karena tanganku ditusuk jarum infus dan menampung tinja serta kencingku karena aku tak sanggup berdiri untuk pergi ke kamar mandi. Tetesan air mata sempat kupersembahkan untuknya karena dia layak mendapatkannya.
Teringat semua kejahatanku di masa lalu membuat hatiku pilu menahan pedihnya hidup ini. Sebenarnya apa salahnya sehingga aku begitu kasar kepadanya. Setiap kali kumarah, dia tak pernah membalasnya, dia pun tak pernah memukulku seperti aku memukulnya dengan sebilah kayu. Dia hanya bisa meneteskan air mata layaknya awan hitam yang selalu menangisi bumi.
Wajahnya tampak ikhlas melakukan semua itu hingga aku merasa tampak berdosa di mata-Nya. Wanita yang melahirkanku dan membesarkanku hingga seperti sekarang itu membuatku rindu akan pelukan hangatnya. Lama aku tak merasakan hal itu. Kata-kata sayang, timangan manjanya, gurauannya, lama aku tak mendapatkan itu. Mungkin hal itu tak layak bagiku yang durhaka kepadanya. Aku ingin sekali memeluknya seperti dahulu,
“ya Allah, maafkanlah segalah kesalahan hamba-Mu ini. Hamba memang hina di mata-Mu, hamba jahat kepada orang yang telah melahirkan hamba. Jika hamba tak pantas lagi mendapatkan maaf-Mu, ambillah nyawa hamba-Mu ini, jika hamba pantas, maka sembuhkanlah kaki hamba-Mu ini agar hamba dapat berjalan dan memeluk ibu hamba ya Allah” dalam hatiku berdo’a kepada-Nya. Air mataku pun mengalir deras bagai sungai Kampar.
Dalam diam aku mendengar tetesan air mata ibu yang jatuh di lantai, ia menangis sambil berdo’a. Sungguh mulia, sejahat-jahatnya aku, dia masih saja berdo’a untuk kesembuhanku. Setelah beberapa kali ibu berdo’a, kakiku mulai merasakan sakit dan mulai bisa digerkakkan, walaupun sedikit. Aku pun berjanji, jika aku sembuh nanti akan kukubur semua mimpi burukku di masa lalu.
Seorang ibu layak mendapatkan segalanya dari anaknya, bukan hinaan seperti aku menghina ibuku. Sesungguhnya di setiap tetesan air matanya mengandung do’a yang di patut kita aminkan. Kata “ibu” adalah kata yang terindah di antara berjuta-juta kata yang melayang melalui mulut kita. Aku tak pernah merasakan keindahan kata itu sejak dahulu, tetapi aku bisa merasakan keindahan itu,
“ibu…, Rio sayang ibu.”
Ibu terus memercikan air ke mukaku, membuatku marah dengan tingkahnya yang rutin setiap hari itu. Aku bangun, tetapi dengan sedikit omelan kecil kepada ibu. Tak seperti orang lain yang tunduk dan patuh kepada ibu dan menerima apa adanya omelan ibu, aku malah sebaliknya. Tak akan ada omelan yang tak kubalas, aku selalu membantah perkataan ibu. Satu yang keluar dari mulutnya, sepuluh keluar dari mulutku. Itulah yang kulakukan dari dulu hingga sekarang. Menghargai seorang ibu, tak penting bagiku.
Hari minggu adalah hari yang cocok untuk santai-santai dan liburan, tetapi tidak untuk ibuku. Baginya tiada hari tanpa memegang sebilah parang yang bermata satu itu.
Setelah kumengomel kepada ibuku, dia pergi dengan sebilah parangnya itu. Tadinya dia sempat mengajakku, tetapi perkataanya sangat rapuh hingga dapat kupatahkan dengan beberapa kata saja.
Meninggalkan sarapan pagi yang menurutku tak layak makan memang kebiasaannya setiap pagi. Ubi kayu yang direbus itu membuat mulutku enggan membuka kedua bibirnya untuk menyantap sarapan itu. Tanganku gatal, rasanya ingin mencampakkan piring-piring yang ada di depanku.
“pring…,”
Tak sanggupku menahan tanganku. Piring tempat singkong rebus tadi pun pecah bagai di hempas raksasa.
Perutku terasa lapar, tetapi tak ada sedikit pun makanan yang dapat kumakan, kecuali singkong rebus yang bercampuran dengan serpihan piring pecah itu.
Kelaparan itu membuatku marah. Segera kukeluar dari rumah dengan membanting pintu. Mencari ibu untuk kumarahi adalah pilihan yang tepat pada saat itu.
Setelah kukeluar dari rumah, mataku liar bagai seekor anjing yang kelaparan. Menatap ke segala penjuru arah untuk mencari ibu, membuat perutku bertambah sakit, sepertinya cacing-cacing di dalam pertutku sudah tak sabar ingin makan.
“ibu…, ibu…,” dengan teriakan yang kencang, kulontarkan kata-kata itu ke seantero perkarangan rumahku.
Tak ada sedikit pun sahutan dari ibu terdengar di kupingku, hal itu membuat kesabaranku habis. Kemudian kuberlari menuju belakang rumah. Terlihat ibuku sedang bercucuran keringat memotong rerumputan di belakang rumah. Segera kuberlari menuju wanita itu.
Tak sempat baginya bertanya kepadaku, langsung kumaki-maki.
“Ibu tahukan, aku ini kelaparan di rumah. Eh…, ibu malah bersenang-senang dengan parang jelek itu. Ibu mau membunuhku apa ? kalau ingin membunuhku langsung saja tebas leherku dengan parang jelek itu !”
Ibu tampak diam seribu bahasa setelah kumaki-maki. Dia tampak menghembuskan napas kekesalan terhadapku. Tanpa kata dia langsung pulang ke rumah. Memasak indomie instan buatku adalah hal yang dikerjakannya pada saat itu.
Cukup lama ibu memasak indomie instan itu karena dia memasak sambil meneteskan air mata yang kurasa tak perlu dikeluarkan.
“ibu…, aku tak butuh tangisan ibu, aku butuh makanan sekarang !”
Setelah hampir setengah jam aku menunggu. Indomie rebus pun datang menghampiri di depan mukaku. Segera kumakan dengan lahapnya. Lidahku mulai merasa aneh, indomie itu seperti tumpukan garam dapur dan mengembang seperti sudah satu hari direndam dalam sumur. Langsungku muntahkan di depan ibu.
“apa ini ? ibu mau membunuhku dengan indomie yang asin ini. Jika ibu ingin menangis jangan sambil memasak, pergi ke hutan sana !”
Setelah kumengeluarkan amarahku pada ibu. Tanpa pikir panjang kuhempaskan piring indomie itu ke bawah kakiku.
“pring…,” bertaburanlah indomie dalam piring itu.
Setelah kumemcahkan piring indomie itu. Kaki kananku terasa sakit seperti tebas dengan samurai. Tanpa tersadar kakiku menangis darah, sepertinya kakiku terkena serpihan piring tadi. Kepalaku pusing karena aku kehabis darah. Tak sanggup aku menahannya. Aku jatuh terbaring di dapur. Ibu langsung berteriak memekakkan kupingku yang hampir mati kehabisan darah ini. Mataku mulai kabur dan wajah ibu yang menangis mulai kelihatan samar-samar. Aku merasakan kesakitan yang tak tertahan lagi hingga akhirnya aku pingsan.
Beberapa waktu kemudian…,
Pandanganku gelap, sepertinya aku berada di Black Hole, lubang hitam yang ada di luar angkasa. Tak sedikit pun cahaya tampak. Aku tak dapat menggerakkan kaki kananku, sepertinya kaki kananku telah dirantai dengan baja murni. Tak ada yang bisa kulakukan, kecuali mendengar tangisan seorang wanita yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an di sekitarku pada saat itu. Tangisan wanita itu membuat mataku turut mengeluarkan airnya. Sepertinya dia menangisi keadaanku yang tak tahu pasiti ini.
Aku tak tahu, sejak kapan aku terbaring dan berada di tempat gelap gulita ini. Seingatku, aku masih berada di dapur ketika itu.
Perlahan-lahan kucoba membuka mataku yang melekat ini, mungkin di luar sana banyak cahaya. Agak susah, tetapi Alhamdulillah hal itu bisa kulakukan. Kuharap pacarku yang bisa kulihat, tetapi itu salah. Wajah pertama yang kulihat adalah ibuku dengan senyumannya. Aku tak berkata apa-apa ketika itu.
Aku penasaran kenapa kaki kananku tak dapat digerakkan. Segera kulihat ke arah kakiku. Sepertinya kaki yang kulihat itu bukan milikku. Kaki itu penuh dengan kain pembalut luka hingga tak tampak sedikit pun lutut maupun mata kaki. Akan tetapi, tak ada kaki lain selain kaki itu di samping kaki kiriku.
Aku bertanya kepada ibuku, “bu, kenapa kakiku tak bisa digerakkan ?”
Ibuku langsung memelukku dengan diiringi tangisannya dan berkata,
“maafkan ibu nak, ini semua salah ibu. Kakimu dioperasi karena luka yang dideritamu cukup serius sehingga untuk beberapa hari ini kakimu tak dapat digerakkan” ibu terus menangis dan memelukku. Membuat mataku malu jika tak turut menangisi nasibku. Mungkin ini balasanku karena telah jahat kepada ibuku.
Aku terbaring tak berdaya di rumah sakit tanpa ditemani seorang pun, kecuali ibuku. Sejak kumembuka mataku dia terus mengurusku. Menyuapkan nasi ke mulutku karena tanganku ditusuk jarum infus dan menampung tinja serta kencingku karena aku tak sanggup berdiri untuk pergi ke kamar mandi. Tetesan air mata sempat kupersembahkan untuknya karena dia layak mendapatkannya.
Teringat semua kejahatanku di masa lalu membuat hatiku pilu menahan pedihnya hidup ini. Sebenarnya apa salahnya sehingga aku begitu kasar kepadanya. Setiap kali kumarah, dia tak pernah membalasnya, dia pun tak pernah memukulku seperti aku memukulnya dengan sebilah kayu. Dia hanya bisa meneteskan air mata layaknya awan hitam yang selalu menangisi bumi.
Wajahnya tampak ikhlas melakukan semua itu hingga aku merasa tampak berdosa di mata-Nya. Wanita yang melahirkanku dan membesarkanku hingga seperti sekarang itu membuatku rindu akan pelukan hangatnya. Lama aku tak merasakan hal itu. Kata-kata sayang, timangan manjanya, gurauannya, lama aku tak mendapatkan itu. Mungkin hal itu tak layak bagiku yang durhaka kepadanya. Aku ingin sekali memeluknya seperti dahulu,
“ya Allah, maafkanlah segalah kesalahan hamba-Mu ini. Hamba memang hina di mata-Mu, hamba jahat kepada orang yang telah melahirkan hamba. Jika hamba tak pantas lagi mendapatkan maaf-Mu, ambillah nyawa hamba-Mu ini, jika hamba pantas, maka sembuhkanlah kaki hamba-Mu ini agar hamba dapat berjalan dan memeluk ibu hamba ya Allah” dalam hatiku berdo’a kepada-Nya. Air mataku pun mengalir deras bagai sungai Kampar.
Dalam diam aku mendengar tetesan air mata ibu yang jatuh di lantai, ia menangis sambil berdo’a. Sungguh mulia, sejahat-jahatnya aku, dia masih saja berdo’a untuk kesembuhanku. Setelah beberapa kali ibu berdo’a, kakiku mulai merasakan sakit dan mulai bisa digerkakkan, walaupun sedikit. Aku pun berjanji, jika aku sembuh nanti akan kukubur semua mimpi burukku di masa lalu.
Seorang ibu layak mendapatkan segalanya dari anaknya, bukan hinaan seperti aku menghina ibuku. Sesungguhnya di setiap tetesan air matanya mengandung do’a yang di patut kita aminkan. Kata “ibu” adalah kata yang terindah di antara berjuta-juta kata yang melayang melalui mulut kita. Aku tak pernah merasakan keindahan kata itu sejak dahulu, tetapi aku bisa merasakan keindahan itu,
“ibu…, Rio sayang ibu.”
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar